<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361</id><updated>2012-02-06T00:00:02.067+08:00</updated><category term='Belanja'/><category term='Cerita'/><category term='catatan sekedarnya'/><category term='Perjalanan'/><category term='Bisnis'/><category term='Berbagi'/><title type='text'>Batangase</title><subtitle type='html'>A place for everything...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>220</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-1745219055217445145</id><published>2011-12-20T17:37:00.004+08:00</published><updated>2011-12-20T17:55:49.281+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Raja Punya Taman</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-gf_RXIecZ5M/TvBbmnmSILI/AAAAAAAABV8/6_gaWvN8rdI/s1600/rafi%2B012.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-gf_RXIecZ5M/TvBbmnmSILI/AAAAAAAABV8/6_gaWvN8rdI/s200/rafi%2B012.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5688147048391647410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-XC882xBQDVE/TvBa1rAma8I/AAAAAAAABVw/Us1xsZqRfhE/s1600/Perth%2B003.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-XC882xBQDVE/TvBa1rAma8I/AAAAAAAABVw/Us1xsZqRfhE/s200/Perth%2B003.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5688146207493745602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Weekend kemarin mendapat tugas menemani beberap tamu dari Makassar. Bukan tamu sesungguhnya, tepatnya kawan. Ya, saat diperantauan, maka setiap orang yang datang dari kampung selalu dianggap kawan bahkan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, mereka, tiga orang dosen dari Politani yang ke Perth untuk tujuan short course. Urusan pelatihan tentu ditangani oleh universitas, namun urusan jalan-jalan, maka kami semua di sini berbagi peran. Nah, weekend kemarin giliran saya dan pak Ferdy. Kami berdua mengantar ke pusat perbelanjaan di business district di pusat kota. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk klarifikasi, saya tidak berposisi mengantar, tapi menemani pak Ferdy yang mengantar. Ini karena saya pun orang baru di sini, jadi tidak cukup keberanian untuk menjadi guide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama dan utama, tentu saja belanja. Hampir 5 jam kami menunggu mereka menjajal satu per satu toko yang ada. Lumayan membosankan menunggu itu, tapi karena tugas mulia untuk kawan, maka kami coba menikmatinya. Habis dua cup kopi dan seporsi kebab Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas urusan belanja, kami pun menuju King's Park yang terletak di barat laut Perth. Taman ini berada di atas bukit. Saya pun baru pertama kalinya ke sini. Jadi selain menemani, juga memang beruntung bisa ikut jalan-jalan. Taman ini terdiri dari padang rumput yang luas, kebun, taman makam pahlawan sisa perang dunia dan juga arena publik yang betul-betul dijaga dan bisa dinikmati oleh semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu iri melihat fasiltas publik yang betul-betul milik publik. Taman dijaga dengan dana dari pajak yang dibayarkan masyarakat. Makanya, masyarakat menjaga dan berhak untuk menikmatinya. Rasanya, tak perlu menjadi negara maju untuk bisa seperti ini. Untuk kasus Indonesia, perlu banyak yang diperbaiki agar kita pun bisa memiliki fasilitas serupa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari atas bukit, kita bisa menyaksikan landmark kota Perth yang terdiri dari gedung-gedung pencakar langit. Kita pun bisa menyaksikan teluk dan perahu layar yang hilir mudik. Sibuk tak hanya di darat, tapi juga di perairan. Mengenai pemandangan itu satu hal, tapi yang membuat saya banyak berfikir adalah bagaimana kondisi ini bisa tercipta. Kesadaran akan sejarah bersanding dengan baik dengan pemanfaatan sumber daya untuk kepentingan bersama. Banyak keluarga yang datang piknik disini. Mereka bermain cricket, sekedar bercanda sampai bbq. Semuanya menikmati dan menjadi alternatif hiburan menarik saat weekend. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian teringat bagaimana Makassar yang mengklaim diri sebagai menjadi kota dunia yang minim fasilitas untuk publik. Ruang publik kemudian hanya diterjemahkan menjadi mall dan pusat perbelanjaan. Tak ada alternatif bagi masyarakat. Mau kemana coba? Musium, taman, tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah. Akhirnya pilihan keluarga Indonesia praktis hanya ke mall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya, keprihatinan seperti ini masih harus disimpan untuk sekian lama. Melihat prioritas yang ada tidak pernah memasukkan fasilitas publik di urutan pertama. Kasihan..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-1745219055217445145?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/1745219055217445145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=1745219055217445145' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1745219055217445145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1745219055217445145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2011/12/raja-punya-taman.html' title='Raja Punya Taman'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-gf_RXIecZ5M/TvBbmnmSILI/AAAAAAAABV8/6_gaWvN8rdI/s72-c/rafi%2B012.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-3353581985479663367</id><published>2011-12-04T19:44:00.003+08:00</published><updated>2011-12-04T20:27:25.527+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Mengais Rezeki Dari "Sampah"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-zS-4g91q2Hg/TttnGe9P3VI/AAAAAAAABU0/5Vr3QnRbmSc/s1600/photo.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-zS-4g91q2Hg/TttnGe9P3VI/AAAAAAAABU0/5Vr3QnRbmSc/s200/photo.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5682248715944844626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saatnya saya bercerta tentang teman-teman serumah. Bukan soal baik dan buruknya kali ini, sebab itu tentu tak elok. lagi pula, di sini kami sama-sama berjuang, maka tak ada ceritanya saling mencibir. Bukannya tak ada riak, tapi itu cukup disimpan sebagai bagian dari dinamika perjalanan bermanusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;satu hal yang menarik dari teman-teman ini, semua mereka tersandera dengan nasib beasiswa yang hanya meng-cover tiga tahun pendidikan. sementara normalnya PhD adalah empat tahun. paling hebatlah itu 3,5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, mengahadapi kondisi ini, beberapa kawan, bahkan mayoritas mahasiswa asal Indonesia memilih bekerja part time di sela-sela waktu kuliah. kebanyakan dari mereka memilih pekerjaan 'sederhana'. sederhana disini maksdunya karena tidak melibatkan pikiran dan intelektualitas. pekerjaan sederhana yang paling banyak dilakukan adalah menjadi cleaner. ya, tukang bersih-bersih. ada yang membersihkan di kampus, juga ada yang di hotel, kampus dan juga sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain cleaner, kerja sederhana lain adalah pengantar katalog. di sini disebut junk mail. Banyak retailer dan toko-toko membuat katalog dan bahan promosi lainnya. nah, tuga kawan-kawan ini adalah mengantarkan katalog-katalog ini dari rumah ke rumah. jumlahnya bisa ratusan katalog. belum lagi banyak rumah yang sengaja memasang stiker 'no junk mail' di setiap kotak suratnya. medan yang mereka lalui juga berat. meski pedestrian disini sangat bagus, tapi jarak dan teriknya matahari membuat lelah dan kadang dehidrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, demi dollar dan untuk ketahanan finansial saat studi, kerjaan sederhana bisa menjadi sedikit penolong.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-3353581985479663367?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/3353581985479663367/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=3353581985479663367' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/3353581985479663367'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/3353581985479663367'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2011/12/mengais-rezeki-dari-sampah.html' title='Mengais Rezeki Dari &quot;Sampah&quot;'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-zS-4g91q2Hg/TttnGe9P3VI/AAAAAAAABU0/5Vr3QnRbmSc/s72-c/photo.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-6678091285288937155</id><published>2011-11-30T18:30:00.001+08:00</published><updated>2011-11-30T18:31:43.339+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Tepat Seminggu</title><content type='html'>Iya, tepat seminggu sudah saya di Perth, dan sampai hari saya terus bersyukur karena selama ini dimudahkan. Pertama, saya dijemput di bandara jadi tak perlu naik taksi dan repot mencari tempat tujuan. Kedua, karena saya dapat tumpangan, meski tidak gratis. Sejak hari pertama hingga kini, saya masih numpang di rumah kawan-kawan yang menyewa satu rumah. Ada empat kamar, dan setiap kamar diisi dua orang. Kebanyakan dari makassar, jadi feels like home. Teman-teman ini sangat membantu. Mulai dari urusan administrasi di kampus hingga urusan sepele lainnya, seperti mencari alat makan, selimut untuk tidur dan mencari kartu telepon untuk berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia.&lt;br /&gt;Saat ini sudah musim panas di Australia. Tapi tetap saja dingin bagi saya. Matahari memang terik, suhu kadang bisa sampai 35 derajat. Tapi karena panasnya tak seperti di Indonesia, ditambah angin yang berhembus kencang, dingin tetap saja terasa. Apalagi pas subuh hingga pagi, dinginnya terasa sangat. Teringat lagi saat di Inggris dulu.&lt;br /&gt;Seminggu ini saya betul-betul hanya berusaha settle dulu dengan kondisi yang baru. Keliling kampus melihat dan mengingat rute, menuntaskan urusan administrasi, ke pasar, ke supermarket dan lain-lain. Tapi hari ini, semuanya sudah lebih baik rasanya. Kartu mahasiswa sudah di tangan, bank account sudah ada, dan police clearence juga sudah diurus. Hal lain yang belum tuntas adalah soal akomodasi. Karena disini agak lama, maka butuh kamar yang lebih nyaman. Saya sebenarnya tak keberatan share sekamar dengan dua orang. Tapi karena kamarnya kecil hingga kami berdua jadi terbatas ruang geraknya.&lt;br /&gt;Pagi tadi sudah menemui pemilik rumah yang letaknya tak jauh dari rumah sementara saya saat ini. Sayangnya, kamar yang hanya tersedia awal january. Beberapa alternatif sebenarnya sudah pernah disambangi. Tapi karena memilih ruamah yang dekat dengan kampus, maka pengorbanan untuk bertahan sebulan lagi rasanya tak apa.&lt;br /&gt;Semoga semua dimudahkan ke depannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-6678091285288937155?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/6678091285288937155/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=6678091285288937155' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6678091285288937155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6678091285288937155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2011/11/tepat-seminggu.html' title='Tepat Seminggu'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-2279845668506237361</id><published>2011-11-27T19:37:00.003+08:00</published><updated>2011-11-27T19:49:18.755+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan'/><title type='text'>The Journey Begin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-5GBroPoXiFA/TtIisy6-ifI/AAAAAAAABUo/UBVkiOZFY4E/s1600/perth-6.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-5GBroPoXiFA/TtIisy6-ifI/AAAAAAAABUo/UBVkiOZFY4E/s200/perth-6.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5679640233046346226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya menginjakkan kaki di sini, kota Perth. Kota ini sebenarnya tak jauh dari Indonesia, Cuma 3,5 jam penerbangan dari Denpasar. Jika dihitung-hitung, rasanya tak beda jika ke Jayapura dari Makassar atau dari Denpasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan jarak itu yang betul-betul menjadi perhatian. Tapi lebih bahwa inilah jejak pertama untuk memulai babak baru dalam catatan ‘belajar’ saya. Ya, selama kurang lebih tiga tahun ke depan, hidup saya bakal lebih banyak tercurah disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untungnya, sebelum berangkat telah membuat kontak dengan beberapa ‘pendahulu’ yang telah ada di Perth, jadinya saya tak perlu menambah list ‘yang harus dikhawatirkan’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impresi pertama saat keluar dari bandara, saya merasa ‘de ja vu’. Pengalaman tiga tahun lalu di Inggris rasanya terulang disini. Tak heran karena memang sebagai salah satu negara commonwealth, Australia selalu melihat Inggris sebagai ‘kakak tertua’ dan mendekatkan banyak hal dengannya. Aroma negara berpedikat ‘maju’ mendapatkan pembenaran saat melihat alu lintas dan merasakan atmosfernya di sekitar kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga ini menjadi bagian menyenangkan yang tak terpisahkan dalam periode belajar saya kali ini. Semoga tuhan melapangkan dan tak ada kendala yang berarti. Di sini, di Perth, salah satu babak dalam perjalanan saya baru saja dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;foto: livingin-australia.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-2279845668506237361?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/2279845668506237361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=2279845668506237361' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/2279845668506237361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/2279845668506237361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2011/11/journey-begin.html' title='The Journey Begin'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-5GBroPoXiFA/TtIisy6-ifI/AAAAAAAABUo/UBVkiOZFY4E/s72-c/perth-6.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-1405607611784350167</id><published>2011-10-25T14:25:00.000+08:00</published><updated>2011-10-25T14:26:15.403+08:00</updated><title type='text'>Penguasa Pengusaha</title><content type='html'>&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Saat peluncuran majalan Fortune edisi Indonesia, Wapres Boediono kembali mengangkat isu etika bisnis, khususnya mengenai pengusaha yang merangkap sebagai penguasa, (KOMPAS, 28/07). Isu ini diangkat untuk menguatkan pentingnya etika bisnis. Belum lagi saat ini makin banyak pengusaha yang menjadi sorotan karena memanfaatkan kekuasaan yang dimilikinya untuk kepentingan bisnis mereka. &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;Isu yang sama sebenarnya telah pula dimunculkan saat mantan menteri keuangan Sri Mulyani menyampaikan beberapa pendapatnya. Pendapat ini disampaikannya dalam beberapa acara perpisahan sebelum ia pindah ke Amerika menyangkut pengalamannya saat menjadi menteri keuangan. Ia kemudian menyindir bahwa kepentingan bisnis beberapa kelompok begitu mempengaruhi keputusan politik yang ada di negeri ini.&lt;br /&gt;Sri Mulyani menyebutnya sebagai ‘perkawinan’ kepentingan ketimbang melihatnya sebagai politik kartel sebagaimana banyak disebutkan oleh pengamat. Meskipun kita tahu, keduanya menyiratkan makna yang serupa.&lt;br /&gt;Kita kembali teringat dengan penggunaan kata ‘saudagar’ oleh Akbar Tandjung pada tahun 2008. Saat itu, marak terjadi pengusaha yang turun gelanggang politik untuk menjadi kepala daerah atau anggota dewan. Banyak yang menyebut bahwa gejala ini sebagai akibat perubahan landscape politik Indonesia. Saat rezim Soeharto, praktis hanya satu sumber yang harus didekati. Namun ketika reformasi bergulir, kepentingan bisnis menjadi kian bergantung kepada banyak politisi.&lt;br /&gt;Secara natural, sebuah perusahaan baik itu multinasional maupun perusahaan lokal, pastilah memiliki apa yang disebut non-market strategy (NMS). NMS ini merupakan strategi di luar strategi pasar. Strategi pasar itu sendiri secara sederhana bisa diartikan sebagai strategi perusahaan yang berkaitan dengan harga, kualitas produk/jasa dan hal-hal teknis-pasar lainnya.&lt;br /&gt;Sedangkan NMS lebih menyentuh aspek non-teknis. Dalam konteks global, NMS bisa dilihat dari dua pendekatan. Pertama, adalah strategy politik korporasi (corporate political strategy), dimana perusahaan berusaha ‘terlibat’ dalam setiap proses politik yang berkaitan dengan kepentingannya. Kedua, adalah strategi social perusahaan (corporate social strategy), dimana perusahan melakukan strategi berderma. &lt;br /&gt;Keterlibatan pengusaha dalam politik melalui NMS seperti membetulkan ungkapan khas politisi di Washington. “In politics, if you are not at the table, you are on the menu!” begitu ungkapan yang khas itu.&lt;br /&gt;Mungkin inilah salah satu alasan keterlibatan pengusaha dalam politik. Ketimbang menjadi menu, mereka memilih menjadi penikmat sajian. Para pengusaha, yang secara de facto memiliki kekuasaan dalam kehidupan sosial, berusaha untuk mendapatkan insentif ekonomi dengan memiliki kekuatan politik secara de jure. &lt;br /&gt;Studi Bunkanwanicha dan Wiwattanakantang (2008) di Thailand juga menunjukkan bahwa nilai ekonomis perusahaan (market valuation) yang dimiliki oleh pengusaha yang juga penguasa menjadi meningkat secara signifikan. Studi ini juga menemukan bahwa keterlibatan pengusaha dalam politik membuat perusahaan mereka memiliki kekuatan lebih untuk mendominasi.&lt;br /&gt;Kondisi seperti ini bukanlah sesuatu yang baru. Di Negara-negara lain, kita dapat menemukan pemilik bisnis yang terjun dalam dunia politik. Tung Chee Hwa  di Hong Kong, Thaksin Shinawatra di Thailand, Ferenc Gyurcsany di Hungary, Silvio Berlusconi di Italy, dan Paul Martin di Canada.&lt;br /&gt;Namun, sejarah juga mencatat bahwa keterlibatan para pengusaha dalam politik tidaklah steril dari masalah. Thaksin menghadapi kenyataan pahit menjadi pesakitan di negerinya sendiri, dan Berlusconi terus digoyang dengan skandal pajak dan monopoli. &lt;br /&gt;Mengangkat kembali isu ini kemudian menjadi relevan jika kita melihat penanganan kasus Lumpur Lapindo yang sampai hari ini belum juga tuntas. Kasus laporan keuangan enam perusahaan Grup Bakrie yang baru-baru ini muncul juga menjadi penanda pentingnya penegakan etika bisnis. &lt;br /&gt;Ke depan, untuk meminimalisir konflik kepentingan yang mungkin timbul, perlu dibuat aturan yang jelas dan detail. Aturan ini tentu saja harus diikuti dengan penegakan hukum yang serius. Hal lain yang perlu dilakukan adalah membangun koalisi strategis antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Ketiganya harus berhubungan dalam koridor yang harmonis, sehat, transparan, dan akuntabel. Intinya, prinsip keadilan untuk semua. Dalam hal ini penikmat dari semua kebijakan bukan hanya pengusaha, tetapi juga seluruh komponen bangsa. &lt;br /&gt;Ketiga, kalangan pengusaha (swasta) perlu dilihat secara proporsional. Pendekatan yang tepat akan menjadikan swasta menjadi satu moda pertumbuhan yang sehat dan memiliki daya tahan dan fleksibilitas sistem yang tinggi. Keuntungan lainnya, kondisi harmonis dan pengusaha yang kuat akan melahirkan pasar yang sehat. Pasar yang sehat penting untuk membuka peluang bagi munculnya pelaku usaha baru, dan juga memelihara pelaku-pelaku lama menjadi pelaku-pelaku kemajuan.&lt;br /&gt;Masyarakat pun diminta untuk terus mengkritisi kebijakan yang lahir demi kepentingan golongan tertentu. Kebijakan untuk memberi fasilitas dan kemudahan kepada kelompok tertentu telah terbukti membuat bangsa ini makin jauh dari kemajuan. Dan yang terpenting, kebijakan seperti ini tentulah sangat mengusik rasa keadilan. &lt;br /&gt;Hal ini tidak berarti kemudian kita menaruh curiga berlebihan pada mereka yang pengusaha dan penguasa sekaligus. Apalagi disadari memang bahwa kehadiran pengusaha dalam politik diharapkan mampu membawa efisiensi ekonomis, sebuah kemampuan yang pasti diterapkan dalam menjalankan usahanya. Semangat kewirausahaan pun dapat ditularkan dari mereka. Semangat ini penting di tengah kaku dan tidak kreatifnya para birokrat yang kita miliki saat ini.&lt;br /&gt;Namun demikian, kita pun dibuat belajar dari pengalaman bahwa kekuatan yang sangat terkonsentrasi bisa lahir dari perpaduan pengusaha dan penguasa sekaligus. Keputusan politik dan bisnis terkonsentrasi pada beberapa kelompok kecil, yang tentu saja berdampak negatif bagi kemajuan bangsa. &lt;br /&gt;Kita butuh pengusaha yang tidak manja dan hanya bergantung pada fasilitas-fasilitas pemerintah. Demikian pula, kita butuh penguasa yang bekerja untuk semua, bukan hanya untuk kepentingan golongan, apalagi untuk kepentingan bisnisnya semata. &lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-1405607611784350167?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/1405607611784350167/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=1405607611784350167' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1405607611784350167'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1405607611784350167'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2011/10/saat-peluncuran-majalan-fortune-edisi.html' title='Penguasa Pengusaha'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-1284792700437977313</id><published>2011-09-15T16:18:00.005+08:00</published><updated>2011-09-15T16:57:47.565+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan'/><title type='text'>Catatan Perjalanan—Tual dan Aru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-fNEMOCEoYW8/TnG9_P4KvFI/AAAAAAAABTc/T_PnP7hBSMs/s1600/IMG_4517.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-fNEMOCEoYW8/TnG9_P4KvFI/AAAAAAAABTc/T_PnP7hBSMs/s200/IMG_4517.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652507901618207826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-FktR9p1BtHw/TnG9nrYTXQI/AAAAAAAABTU/OHBczWwLHKw/s1600/IMG_4497.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-FktR9p1BtHw/TnG9nrYTXQI/AAAAAAAABTU/OHBczWwLHKw/s200/IMG_4497.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652507496683887874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-gU_Hc7veqk8/TnG9UW2vj1I/AAAAAAAABTM/iZFgSuDfMPM/s1600/IMG_4512.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-gU_Hc7veqk8/TnG9UW2vj1I/AAAAAAAABTM/iZFgSuDfMPM/s200/IMG_4512.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652507164756905810" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-9u6zYvEknz4/TnG8lD8HxWI/AAAAAAAABTE/G7wNojwxo1g/s1600/IMG_4454.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-9u6zYvEknz4/TnG8lD8HxWI/AAAAAAAABTE/G7wNojwxo1g/s200/IMG_4454.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652506352225338722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-qJn4PMH3MHA/TnG8Qj4mtII/AAAAAAAABS8/uRCzZu9E9rQ/s1600/IMG_4436.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-qJn4PMH3MHA/TnG8Qj4mtII/AAAAAAAABS8/uRCzZu9E9rQ/s200/IMG_4436.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652506000023270530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Masih, catatan-catatan lama yang belum dibagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Day 1&lt;br /&gt;Perjalanan saya rasanya penuh dengan delay. Jadwal feri yang akan mengantar kami ke pulau Aru mundur sejam dari jadwal seharusnya. Padahal kami sudah berada di pelabuhan sejak jam 1 siang. Terbayang betapa lama dan membosankannya penantian feri ini.&lt;br /&gt;Karena lapar, saya kemudian memutuskan mencari makan. Untuk urusan ini, sulitnya minta ampun. Tak banyak warung di sekitar pelabuhan. Belum lagi peringatan kawan yang mengatakan bahwa tak boleh sembarang makan. Sebab tak semua bisa dinikmati begitu saja, perlu jeli dan hati-hati. Setelah berjalan lebih dari 15 menit, saya menemukan warung jawa yang menjual sate dan sop ayam. &lt;br /&gt;Setelah makan, saya kembali ke feri. Anak-anak kecil yang berenang di sekitar kapal. Jago juga mereka, sebab kedalaman laut di dermaga ini sekitar 5-7 meter. Bakat alami yang sungguh luar biasa. Mereka asyik berenang tanpa peduli sampah di sekitar mereka. Meski sudah ada pengumuman larangan membuang sampah di laut, tetap saja para penumpang dengan cuek membuang sampah mereka. Mulai dari puntung rokok, bungkus mi gelas, hingga sampah rumah tangga. &lt;br /&gt;Waktu berangkat akhirnya tiba juga. Kapal penuh dengan penumpang. Banyak diantaranya membawa anak kecil. Remaja dan anak muda juga banyak. Melihat mereka, saya teringat Glen Fredly. Penyanyi asli Ambon yang berpenampilan menarik. Nah, begitulah anak-anak muda ini, kayaknya masih kisaran SMP dan SMA, berpenampilan. Tindik di kedua telinga, rambut dikuncir atau yang mirip cristiano ronaldo. Sandal mereka kebanyakan merek Oakley. Kagum juga saya dibuatnya. Tak cukup disitu, hape dengan merek beraneka ragam, lengkap dengan lagu-lagu hasil unduhan yang ngetrend saat ini. Kaca mata hitam dan kalung juga aksesoris yang wajib bagi mereka.&lt;br /&gt;Teknologi memang dengan cepat mampu membawa mereka pada trend yang berlaku saat ini. Meski tinggal di pulau, yang dipeta kelihatan begitu jauh, tapi jangan ragu soal yang satu ini. Ada parabola, jaringan gsm yang sudah lumayan dan tentu saja turis yang keluar masuk pulau. Pokoknya, mereka tak pernah kehabisan sumber untuk urusan gaya.&lt;br /&gt;Ini mungkin yang disebut oleh Thomas L Friedman sebagai democratization of information. Anak-anak muda itu boleh tinggal di pulau Aru yang jauh dari Jakarta dan Singapura. Tapi demokratisasi informasi, membuat mereka tahu Vj Daniel atau Cinta Laura memakai apa serta trend terbaru dari dunia fashion.&lt;br /&gt;Oh iya, saya lupa. Nama kapal feri yang kami tumpangi adalah KMP Lobster. Entah apa maksudnya, yang jelas ini mengingatkan saya akan niat besar untuk menyantap Lobster. Kata teman, di Aru adalah surga untuk menyantap lobster. Ehm, yammmii..&lt;br /&gt;Akhirnya kami meninggalkan pulau Tual. Perjalanan 12 jam menanti. Semoga saja ombak tidak besar kali ini. Lagu-lagu ambon yang khas sudah terdengar dari kantin kapal. Sepertinya, bakal menyenangkan perjalananku kali ini, meski dengan beberapa delay…&lt;br /&gt;Day 2&lt;br /&gt;Seharusnya, hari ini kami berangkat ke pulau Kola. Tapi karena cuaca kurang bersahabat dan juga karena perahu tidak ada, maka kami tunda sampai esok hari. Sekali lagi, perjalananku kali ini penuh dengan delay.&lt;br /&gt;Saya berjalan-jalan keluar penginapan. Tepat di depan penginapan ada lapangan sepakbola. Terlihat ramai dan banyak kendaraan disana. Saya mencoba mencari tahu, sekalian mencari udara segar ketimbang tinggal di kamar penginapan. Rupanya ada deklarasi pencalonan bupati dan wakil bupati kepulauan Aru. &lt;br /&gt;Yang deklarasi merupakan incumbent. Tak heran banyak mobil berplat merah disana. Partai yang mendukung pun luar biasa. Ini terlihat dari bendera beragam partai. Sebut semua partai besar, ada disana. Partai gurem pun tak ketinggalan. Yang pasti, jatah untuk tiap partai pasti berbeda. Bukan rahasia lagi jika satu calon ingin meminjam jasa ‘ojek’ partai maka ada ongkosnya.&lt;br /&gt;Ini terbukti saat saya mencari makan malam. Warung tempat saya makan berdampingan dengan kantor salah satu partai kecil yang mendukung pendeklarasian calon incumbent tadi. Ramai betul disana. Saya tanya kepada pemilik warung, ternyata ada pembagian ‘uang lelah’ setelah mengikuti deklarasi tadi. Uang lelah ini dibagikan kepada simpatisan. Mulai dari tukang ojek, ibu rumah tangga hingga kuli-kuli pelabuhan. Asal nama mereka tercatat, dan koordinator melihat mereka di lapangan, sejumlah duit siap dikantungi. Atribut kaos dan partai jangan lupa. Itu seperti kartu control untuk mendapatkan beberapa lembar rupiah.&lt;br /&gt;Banyak janji yang diucapkan dalam deklarasi yang meriah itu. Tak sedikit puja-puji yang juga terlontar. Salah satu yang saya dengar adalah keberhasilan calon bupati ini membuka hubungan dengan dunia luar melalui transportasi udara. Ya, sejak minggu lalu bandara Aru telah resmi beroperasi. Itu pun baru Trigana yang beroperasi. Akibatnya, harga tiket pesawat untuk sekali jalan tiga kali lipat dari harga tiket Ambon-Makassar!&lt;br /&gt;Tapi apa iya ini merupakan keberhasilan bupati? Bandara baru itu dikerjakan dengan dana APBN. Trigana masuk juga karena murni urusan bisnis. Itu pun dengan perhitungan untung-rugi. Jamak diketahui pejabat-pejabat di Maluku serta anggota Dewan memiliki jatah tiket. Ini saya ketahui dari staf Oxfam yang pernah menyelidiki ini. &lt;br /&gt;Yang mengherankan, APBD untuk kabupaten ini lebih dari 500 milyar. Jumlah yang cukup besar untuk sebuah kabupaten hasil pemekaran. Yang membuat tinggi memang karena jarak satu pulau dengan yang lainnya teramat jauh. Sayangnya, dana yang besar ini belum dimanfaatkan untuk masyarakat secara lebih besar lagi.&lt;br /&gt;Dari cerita-cerita yang saya dengar saat berbagi cerita dengan tamu penginapan, dana APBD ini kebanyakan untuk kepentingan para pejabat dan orang-orang dekatnya. Proyek hanya berputar dalam lingkaran yang orangnya itu-itu saja. Belum lagi pengadaan kendaraan dinas. Makanya saya sempat heran ada mobil dinas berjenis Honda CRV dan Hilux di sini.&lt;br /&gt;Dana yang besar itu juga belum dipakai untuk menyiapkan perahu perintis yang menghubungkan banyak daerah yang terdiri dari pulau-pulau ini. Jika ada, saya tak perlu menunggu lama menanti perahu nelayan yang akan mengantarkan kami esok. Saat di Ambon, saya juga ketemu seorang pejabat daerah dari pulau ini. Luar biasa parlente untuk ukuran daerah yang kondisinya masih memprihatinkan.&lt;br /&gt;Tapi kondisi ini bukan monopoli daerah ini. Tempat saya berasal pun setali tiga uang. Bisa dikata, hampir seluruh daerah menghadapi kendala yang sama. Kepentingan pejabat memang masih diatas kepentingan masyarakat banyak. Meski saya yakin dan percaya, saat deklarasi dan kampanye, mereka selalu mengklaim akan memperhatikan masyarakatnya. Percayakah Anda? Saya tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Day 3&lt;br /&gt;Perjalanan kami batal lagi. Hujan deras dan ombak yang besar menjadi penghalang. Ingin jalan-jalan lagi, rasanya semua sudut sudah saya lihat. Lagi pula, hujan deras membuat gerak terbatas. Jadilah saya tinggal di kamar, membaca habis jurnal Prisma yang saya beli saat di Jakarta dan menonton film-film yang ada di hardisk. Dari awal saya memang sadar, tak banyak pilihan membunuh waktu di daerah yang saya tuju. Makanya bacaan dan tontonan menjadi bekal wajib.&lt;br /&gt;Semoga esok cuaca bersahabat. Jika tidak, bakal betul apa yang dikatakan nona pemilik penginapan ini. “Mas, di Aru itu masuknya mudah, keluarnya yang sulit”, begitu katanya kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Day 4 (20 Apryl 2010)&lt;br /&gt;Jam 6.30 pagi saya menerima sms. “Hari ini kita berangkat, jam 08.30 kita ditunggu perahu di pantai timur”. Alhamdulillah, setelah menanti 2 hari di Aru (padahal awalnya cuma diagendakan setengah hari), akhirnya jadi juga kami menuju pulau Kola. Pulau ini terdiri dari beberapa pulau kecil. Yang kami tuju adalah desa Marilese. Kata teman dari Oxfam, jarak tempuhnya sekitar 7-8 jam. Sebuah perjalanan panjang, perjalanan terpanjang dengan perahu kecil yang pernah saya jalani.&lt;br /&gt;Perahu sudah lama menanti. Perahu kami ini milik perahu nelayan yang disewa. Sebab tidak ada transportasi rutin dan permanen yang menghubungkan setiap pulau. Seperti yang saya sudah tulis sebelumnya, jika saja pemerintah daerah betul-betul memanfaatkan dana yang ada, atau paling tidak 70% saja, maka seharusnya sudah ada kapal perintis atau feri lah yang menghubungkan pulau-pulau ini. Tak perlu lagi menyewa perahu nelayan seperti yang kami lakukan.&lt;br /&gt;Selain saya dan kawan dari Oxfam, ada juga seorang pendeta yang kami panggil Bapa Mon, ibu Neti pemandu, dan tiga orang masyarakat local yang ikut bersama kami.&lt;br /&gt;Perjalanan kami awalnya mulus-mulus saja. Langit cerah dan kami meramalkan bahwa perjalanan akan mulus-mulus saja. Baru sejam kami berperahu, mendung sudah terlihat. Kecemasan sudah ada dipikiran. Saya melihat penumpang lain, tenang-tenang saja. Dan betul, tak lama kemudian hujan turun. Kami yang sedari tadi berada di luar, langsung masuk ke dalam. Untungnya, kapal ini beratap, jadi saat hujan tak ada masalah. Yang jadi masalah cuma karena penumpang yang banyak. Selain saya dan Wahyu dari Oxfam, penumpang lainnya berasal dari kampung lain yang juga ikut pelatihan koperasi. Semua mereka tergabung dalam koperasi yang juga jadi binaan Oxfam.&lt;br /&gt;Hujan cukup lama mengguyur, membuat kami berdesak-desakan di dalam perahu. Udara dingin tak mampu membuat kami nyaman. Apalagi hujan teramat deras, membuat air hujan masuk melalui sela-sela kapal. Ombak pun jadi sangat terasa, sebab diluar angin berhembus kencang.&lt;br /&gt;Yang lebih parah, mesin kapal kami mati, entah karena apa. Jadilah kami terombang-ambing di tengah laut. Saya sudah berpikir macam-macam. Semua pikiran serba ‘jangan-jangan’. Hampir setengah jam lamanya kami terombang-ambing. Tak ada daratan yang terlihat. Dalam hati saya merasa ngeri juga dengan kondisi ini. Apalagi, penumpang lain yang saya anggap sudah biasa, juga terlihat cemas. Belum lagi tak ada satu pun pelampung yang tersedia di kapal.&lt;br /&gt;Setelah berusaha sekian lama, dan semua penumpang mulai cemas, Sang kapten kapal akhirnya bisa menyalakan kembali mesin kapal. Alhamdulillah.. saya yang sedari tadi sudah merasakan mual tak terkira, merasa sedikit nyaman. Bayangkan berada di tengah laut dengan ombak tinggi dan angin kencang dengan perahu yang mesinnya mati.&lt;br /&gt;Hujan belum juga reda, sang kapten memutuskan untuk mencari pulau terdekat karena jarak pandang yang sudah tidak optimal dan tidak aman untuk pelayaran. Kami akhirnya mampir di pulau yang tak berpenghuni. Tidak tepat betul bahwa pulau itu tidak berpenghuni sebenarnya. Ada beberapa orang yang mendiami pulau itu. Mereka adalah karyawan dari ‘bos Cina’, begitu orang-orang Aru menyebutnya. Bos Cina ini adalah pemilik perusahaan budidaya mutiara. Kabarnya, Megawati pernah mampir ke pulau ini. Entah dalam urusan apa. Yang pasti, di pulau inilah tempat bos Cina itu memelihara mutiaranya.&lt;br /&gt;Sejam lebih kami menanti hujan reda. Tapi tak ada tanda-tanda hujan bakal berhenti total. Sang kapten memutuskan, tepatnya didesak, untuk melanjutkan perjalanan. “Kitorang pelan-pelan saja le”, ujar ibu Neti. Jadilah kami berangkat, meski hujan masih juga belum reda. Ombak makin tidak bersahabat saja rupanya. Yang bikin tidak nyaman lagi, bapa Mon, pendeta dan aktifis LSM di Aru yang juga rekan kerja Oxfam bercerita tentang kapal yang tenggelam belum lama ini di sekitar pulau itu. Kapal yang berisi 30-an lebih orang asing itu tenggelam tersapu ombak dan semuanya ditemukan tak bernyawa. Sempurnalah ketakutan saya.&lt;br /&gt;Saya makin percaya dengan pameo orang bahwa mereka yang dalam perjalanan, apalagi perjalanan yang berbahaya makin dekat dengan tuhan. Meski tidak terus-menerus, tapi saya berdoa semoga perjalanan kami ini dilindungi. Apalagi air hujan sudah membasahi lantai-lantai kapal tempat kami duduk. Air sudah mulai menggenangi buritan kapal.&lt;br /&gt;Setelah dua jam, hujan akhirnya reda. Saya melihat jam tangan saya dan berpikir bahwa perjalanan kami belum sampai setengahnya. Tak terhitung sudah berapa permen tamarin yang saya makan. Gengsi juga rasanya jika harus muntah. &lt;br /&gt;Karena sudah reda, beberapa dari kami akhirnya keluar kapal. Duduk di atas atap yang sedari tadi melindungi kami dari hujan. Saya juga keluar, sudah tak nyaman dua jam lebih duduk dekat mesin kapal dan mencium aroma solar yang memabukkan itu. Tak menyesal, sebab pemandangan diluar sungguh indah. Kami melewati teluk dan jejeran pulau-pulau kecil dengan pohon bakau yang lebat di sekelilingnya. Luar biasa indahnya. Tapi dalam hati saya juga berfikir, berat memang pembangunan di daerah ini. Pemerintah pusat masih menempatkan pulau-pulau ini dan penduduknya sebagai daerah tertinggal. Saya tak yakin, pejabat-pejabat dipusat dan daerah mau mengunjungi mereka yang dipulau-pulau. Dengan kondisi seperti ini, tentu lebih mengasyikkan berada di kantor yang berpendingin ruangan atau berjalan-jalan dengan biaya Negara ke pulau jawa.&lt;br /&gt;Tak sedikit cerita yang saya dapat tentang perilaku pejabat dan anggota dewan daerah ini. Mereka yang dulunya hidup dikampung, tiba-tiba kaget dengan duit yang banyak serta beragam fasilitas. Akibatnya, tak sedikit dari mereka yang terjerembab dan lupa daratan. Bahkan ada satu cerita yang menggelikan sekaligus memiriskan hati. Konon—karena cerita ini tidak bisa dipertanggungjawabkan—ada seorang kepala dinas. Dulunya dia orang biasa saja. Sejak jadi kepala dinas, dia kemudian rajin ‘main perempuan’. Karena sudah ketagihan, dia sering main perempuan dan ngutang. Akibatnya, bendahara kantor yang datang bayar keliling pub setiap awal bulan. Saya tak tahu apa yang tertulis dan nota dinas untuk jadi pertanggung jawaban bendahara. Mungkin biaya entertain, barangkali.&lt;br /&gt;Bapa Mon sang pendeta seperti memahami saya yang begitu menikmati pemandangan indah ini. Setelah berjam-jam mabuk dan pucat saya kemudian disuguhi dengan pemandangan laut yang sungguh indah. Tak pernah saya lihat yang seperti ini sebelumnya. Dia kemudian meminta juru mudi untuk melambatkan kapalnya. Sambil member contoh, dia memperlihatkan kepada saya bagaimana menikmati pemandangan bawah laut. Saya diminta tengkurap dilantai kapal di bagian buritan. Kemudian menundukkan kepala hingga menyentuh permukaan laut. Dari situ, saya kemudian melihat pemandangan bawah laut yang rupawan. Indah tak terkira. Ikan beraneka jenis dan warna, karang, semuanya terlihat jelas. Indonesia sungguh Indah, kawan…&lt;br /&gt;Setelah lama di laut, akhirnya ada kabar gembira. Sejam lagi kami sampai, begitu kata bapa Mon. laut pun sudah tenang kembali. Dari jauh saya sudah bisa lihat menara gereja. Kata bapa Mon, tempat itulah yang akan kami tuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Kola—Part 1&lt;br /&gt;Akhirnya kami sampai juga. Tepat jam 6 sore. Artinya, kami telah menempuh perjalanan selama hampir Sembilan hingga sepuluh jam. Sebuah perjalanan yang panjang dan melelahkan.&lt;br /&gt;Rombongan kami akhirnya membagi diri. Saya dan Wahyu kebagian tinggal di rumah bapak Oli. Bapak ini pernah tinggal di Makassar cukup lama. Disana dia bekerja pada nelayan-nelayan bugis-makassar. Dia bercerita bahwa hampir semua pulau-pulau di sulsel sudah dia datangi. Dia belajar banyak dari nelayan-nelayan besar itu. Bahkan menurutnya, ia sudah dianggap keluarga. Tinggal dan hidup disana.&lt;br /&gt;Setelah cukup menimba ilmu, dia pun kembali ke kampung halaman. Membudidayakan rumput laut dan menjadi nelayan.&lt;br /&gt;Tak lama kami bercerita. Sepertinya ia mengerti, kami sudah cukup lelah dan yang kami butuhkan hanyalah air untuk mandi dan kasur untuk merebahkan badan.&lt;br /&gt;Tak tega juga rasanya mandi ‘sesuai standar’ dan kebiasaan. Air tawar di sini sulitnya minta ampun. Kami cukup beruntung, tadi hujan deras dan lama. Akhirnya ada cukup air untuk kami mandi. Ya, hujan yang tadi mengguyur kami ternyata membawa berkah. Sebab jika tidak hujan, maka kami harus jalan sejam lebih untuk sampai ke sumber air tawar. Itu pun jika beruntung airnya masih ada.&lt;br /&gt;Pulau Kola—Part 2 (21 April 2010)&lt;br /&gt;Pelatihan dimulai pagi hari. Seperti di pelatihan sebelumnya, materi yang saya bawakan serupa. Tak jauh dari bagaimana memotivasi mereka untuk mau berkoperasi dan soal pembukuan sederhana. Materi terpaksa kami padatkan sebab jadwal pulang sudah diatur dan tiket tak dapat dibatalkan. Apalagi keberangkatan kami ke sini sudah tertunda beberapa hari dari jadwal seharusnya.&lt;br /&gt;Pelatihan berjalan lancar dan menyenangkan. Mereka semua, meski sudah berumur tetap bersemangat dan rajin bertanya. Pokoknya, lelah kemarin terbayar tuntas.&lt;br /&gt;Apalagi, setelah pelatihan, saya diajak bapak Mojil untuk ke keramba di tengah laut. Sejak pagi saya bercerita tentang betapa inginnya saya makan Lobster. Mungkin karena kasihan saat mendengar saya tak pernah mencicipi Lobster, dia tergerak hati membawa saya ke keramba.&lt;br /&gt;Saya bertanya mengapa ke keramba. Bukankah lobster ditangkap di karang? Saya kemudian tahu, bahwa keranba yang kemarin banyak kami lewati itulah tempat para nelayan menjual lobster mereka. Meski dapat menikmatinya sehari-hari, para nelayan lebih memilih menjualnya. Bayangkan, harga sekilonya bisa mencapai 300 ribu rupiah. Ada dua jenis Lobster. Yang pertama yang hijau, mereka menyebutnya lobster bamboo. Yang kedua agak merah, mereka sebut dengan lobster mutiara. Yang terakhir ini yang harganya Rp 300 ribu/kilo. Yang jenis bamboo “hanya” laku 150 ribu per kilo.&lt;br /&gt;Nah, di keramba ini pengusaha-pengusaha yang umumnya Cina dan berasal dari Bali serta Surabaya, menempatkan orang-orang mereka. Lobster yang mereka terima hanya yang besar, minimal sekilo per ekornya. Mereka pun hanya membeli lobster yang hidup. Lobster ini kemudian dikumpul di keramba dan setiap bulan akan ada kapal besar yang menjemputnya untuk kemudian dibawa ke Bali. Setelah itu mereka tak tahu, apakah lobster yang mereka dapat itu dimakan di Bali atau dikirim entah kemana.&lt;br /&gt;Saya juga kemudian tahu bahwa untuk mendapatkan lobster mereka mesti bertaruh nyawa. Mereka harus menyelam sedalam minimal 6 meter. Untuk jenis mutiara bisa lebih dalam lagi untuk mendapatkannya. Dan yang berat, mereka mesti menjaga lobster itu tetap hidup agar laku. Sebab jika mati, tak ada yang bakal membelinya. Bayangkan, harga sekilonya, tentu lebih berharga beli supermi dan kopi ketimbang lobster itu.&lt;br /&gt;Dengan menumpang katinting yang entah milik siapa, dan setelah 15 menit yang menegangkan, saya dan Wahyu ditemani bapak Mojal sampai juga ke keramba. Menegangkan karena bapak Mojal membawa perahu itu seperti ojek negbut. Padahal ombak lumayan besar, sementara perahunya sangatlah kecil. Hanya muat untuk tiga orang. Di keramba, ada tiga orang penjaga, yang juga sebagai pembeli lobster dari nelayan. Takjub saya. Lobster raksasa juga ada disana. Seekornya bisa sampai 4 kilo. Tak hanya lobster, ada juga kerapu dan ikan sunu. Semuanya dengan ukuran jumbo.&lt;br /&gt;Dari bapa Mojal juga saya tahu. Salah satu penjaganya berasal dari Makassar. Saya pun berkenalan. Namanya Rudi. Dia sih bukan asli Makassar, tapi lama tinggal di kisaran Paotere. Saya pun diperkenalkan bapa Mojal sebagai aktifis LSM yang membantu masyarakat di Pulau Kola. Saya sebenarnya mau mengoreksi, tapi tak ada guna. Masih menurut bapak Mojal, kami ini belum pernah liat dan makan lobster.&lt;br /&gt;Entah karena kasihan, atau karena kami ini aktifis LSM, Rudi kemudian menawarkan lobster kepada kami gratis. “pilih saja yang mana”, begitu katanya. Karena ini gratis, saya pun memilih lobster jenis bamboo. Tak enak juga meminta yang lobster mutiara. Masak sudah gratis minta lebih lagi. Yang penting kan saya bisa mencicipi lobster, itu intinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sigap dia menyelam. Hampir setengah menit dia di bawah air kemudian dia naik. “Kalo besar begini cukup”? tanyanya. Tanpa pikir panjang saya iyakan saja. Dia turun lagi dan kembali dengan dua lobster di tangannya. “Kalau tiga sudah cukup?” saya kembali mengiyakan. Karena gratis, saya tak enak hati minta lebih. Lagi pula, saya tak bawa cukup uang. Kalo untuk dibeli, saya Cuma siap untuk beli satu, itu pun yang jenisnya bamboo, bukan yang mutiara.&lt;br /&gt;Setelah berbasa-basi dan mengabadikan diri dengan lobster, saya pun pamit. Terima kasih berkali-kali saya ucapkan. Rezeki luar biasa dari tuhan. Makan lobster, besar, dan gratis pula.&lt;br /&gt;Di rumah saya tak menyangka bahwa lobster kami itu belum cukup besar bagi bapak Mojal. Dia berujar bahwa pekan lalu dia mendapat lobster mutiara 8 ekor dan semuanya besar, berat rata-rata 3 kilogram. Tapi tak mengapa, yang penting lobster. Mau beratnya Cuma berapa ons pun tetap lobster.&lt;br /&gt;“Ibu kos” pun dengan memasak lobster kami itu. Sungguh diberkati, pelatihan lancar dan makan malam dengan lobster. Sungguh nikmat tak terkira. Ternyata, ini yang dimakan orang-orang kota di restoran mewah itu. Saat makan, bapak Mojal kemudian menjanjikan bahwa besok kami akan berburu kepiting bakau. Jenis ini adalah kepiting kualitas terbaik, dan menurutnya sangat lezat dan ukuran jumbo.&lt;br /&gt;Ehm, perjalanan yang melelahkan ke pulau ini rasanya tak rugi. Semoga besok pelatihan berjalan lancar lagi dan sorenya kami bisa berburu kepiting. Sungguh sebuah pengalaman yang berharga…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulau Kola—Part 3 (22 April 2010)&lt;br /&gt;Pelatihan pagi ini telat kami mulai. Masalahnya sederhana, saya mendapatkan masalah perut. Setelah tiga hari menahan untuk tidak buang air, akhirnya hari ini tak tahan juga. Apalagi menahan lebih lama bakal menjadi masalah.&lt;br /&gt;Repotnya, masyarakat di pulau ini tak memiliki kebiasaan buang air di wc. Mereka rutin buang air pada malam hari, dan dilakukan di wc terpanjang di dunia. Sebutan ini bukan dari saya, tapi dari bapak Chris yang pagi itu menawarkan diri mengantar saya ke sana.&lt;br /&gt;Dengan halus saya menolak. Bukan karena tidak mau, tapi masih mencoba jika ada alternatif lain. Dan bingo, menurutnya ada satu rumah yang memiliki wc. Rumah itu milik seorang Cina yang asal Surabaya yang telah lama menetap di pulau Kola. Seperti orang Cina lain yang ada di Aru, keluarga ini menjadi tulang punggung pulau. Dia lah yang menyediakan segala jenis kebutuhan sehari-hari masyarakat. Mulai dari wafer coklat hingga bensin dan solar.&lt;br /&gt;Awalnya saya ragu, takut tidak bisa. Tapi bapa Chris meyakinkan bahwa ‘Si Bos’, begitu orang pulau biasa memanggilnya, sangat baik dan pasti tidak masalah baginya meminjamkan kamar private ini. Dan ternyata betul. Sambil tertawa, ia segera mempersilahkan saya ke belakang. Dan jadilah saya membuang hajat dalam ruang wc terapung. Selebihnya, tak perlu saya ceritakan disini. Pokoknya, serba darurat juga jadinya..&lt;br /&gt;Pelatihan akhirnya kami lanjutkan kembali. Dan Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, dan semua peserta tetap bersemangat.&lt;br /&gt;Sore hari, saat pelatihan selesai, saya dan Wahyu ditemani beberapa orang pulau menuju dermaga. Disana kami lihat beberapa anak muda-mudi bersantai. Di pulau, tentu tempat hiburan dan pilihan untuk refreshing sangatlah terbatas. Berdiri di dermaga menjadi salah satunya. Melihat kapal barang yang lalu lalang serta sun set yang begitu indah dan khas. Ya, bagi saya sunset petang itu adalh sunset paling indah yang saya pernah lihat. Sungguh indah dan penuh warna. Apalagi, laut lepas terpampang di depan mata. Menurut cerita bapa Alexander, dari tempat inilah dulu tentara-tentara Indonesia dan relawan menuju Papua saat dilakukan operasi pembebasan Irian Barat. Yos Sudarso pun gugur dalam operasi ini.&lt;br /&gt;Masih cerita soal perang Aru ini, bapa Alexander mengaku menjadi saksi hidup peristiwa ini. Saat itu ia yang membawa kapal kecil yang mengangkut relawan. Relawan-relawan ini merupakan masyarakat pulau yang direkrut oleh ABRI. Pihak tentara mungkin tahu, di tengah kepulauan dan laut yang sulit, hanya masyarakat sekitar yang paling tahu. Bapa Alexander saat itu bolak-balik mengangkut relawan. Dengan perahu mesin yang saat ini banyak dipakai nelayan, dibutuhkan waktu kurang lebih 12 jam untuk sampai ke tanah Papua. Bisa dibayangkan berapa waktu yang dibutuhkan bapa Alexander bersama para relawan saat itu untuk sampai ke Papua. Apalagi perahu motor belum ada saat itu.&lt;br /&gt;Setelah berbagi cerita dan menikmati sun set yang luar biasanya indahnya di dermaga, kami kembali ke rumah. Tak diduga, ternyata bapa pendeta bersama peserta yang lainnya telah menyiapkan sebuah kejutan. Di rumah telah tersedia kepiting, yang sungguh, besarnya minta ampun. Besarnya kepiting ini untuk pertama kalinya bagi saya. Beratnya lebih dari tiga kilogram. Saya dan Wahyu girang tak terkira. &lt;br /&gt;Kejutan ini mereka siapkan sebagai tanda terima kasih kepada kami. Bapa pendeta menyampaikan itu sesaat sebelum makan malam dimulai. Luar biasa. Sebuah penghargaan tulus dari mereka. Dan yang utamanya, niatan saya untuk menikmati kepiting selain makan lobster, juga tercapai. &lt;br /&gt;Perjalanan ke pulau Kola ini memang melelahkan dan sungguh berat. Tapi capai dan lelah yang kami rasakan saat datang, kali ini sudah terbayar tuntas. Terima kasih, bapa-bapa sekalian. Besok pagi kami akan kembali ke Pulau Aru untuk kemudian ke Tual dan ke Ambon dan terbang lagi ke Makassar. Perjalanan besok semoga akan lancar dan tak perlu pakai mogok segala di tengah laut. Tapi sebelum jauh ke esok hari, saatnya menikmati kepiting raksasa ini. Meminjam ungkapan khas Farah Quinn, ehm.. yummii…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-1284792700437977313?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/1284792700437977313/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=1284792700437977313' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1284792700437977313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1284792700437977313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2011/09/catatan-perjalanantual-dan-aru.html' title='Catatan Perjalanan—Tual dan Aru'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-fNEMOCEoYW8/TnG9_P4KvFI/AAAAAAAABTc/T_PnP7hBSMs/s72-c/IMG_4517.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-187774482456537233</id><published>2011-09-15T15:52:00.004+08:00</published><updated>2011-09-15T17:17:45.757+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan'/><title type='text'>Catatan Perjalanan Part 2—Pulau Tanimbar</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-U-MGx_ojmgM/TnHCcEhx8-I/AAAAAAAABT8/JPdWfj296MQ/s1600/IMG_4380.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-U-MGx_ojmgM/TnHCcEhx8-I/AAAAAAAABT8/JPdWfj296MQ/s200/IMG_4380.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652512794834236386" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-7gHLKADhr3g/TnHCEebqulI/AAAAAAAABT0/qq6sk5p_jgo/s1600/IMG_4361.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 134px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-7gHLKADhr3g/TnHCEebqulI/AAAAAAAABT0/qq6sk5p_jgo/s200/IMG_4361.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652512389471058514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-v_yzphcDbCc/TnHBeweL9qI/AAAAAAAABTs/OarmCIu1IWQ/s1600/IMG_4152.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-v_yzphcDbCc/TnHBeweL9qI/AAAAAAAABTs/OarmCIu1IWQ/s200/IMG_4152.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652511741478434466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-5ELlOC-3ZQw/TnGygBmc9DI/AAAAAAAABS0/FPYCOuPhPG4/s1600/IMG_4132.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-5ELlOC-3ZQw/TnGygBmc9DI/AAAAAAAABS0/FPYCOuPhPG4/s200/IMG_4132.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652495270581957682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ini adalah catatan-catatan lama yang berhasil saya dapat setelah membongkar arsip. Sayang saja jika tidak dipublish.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Day 1:&lt;br /&gt;Dari Serang, saya langsung menuju Jakarta. Agenda berikutnya terbang ke Ambon. Jadwal pesawat yang rasanya tak masuk akal harus saya terima. Pesawat ke Ambon baru berangkat pukul 01.30 malam. Saya hanya bisa ‘membunuh waktu’ dengan segelas kopi hitam dan sebungkus sari roti keju.&lt;br /&gt;Penerbangan yang ditunggu tiba juga waktunya. Pesawat berangkat. Saya tak ingat lagi apa, yang ada hanya tidur, membalas dendam dari letihnya membunuh waktu.&lt;br /&gt;Tiba di Ambon jam 7 pagi. Luar biasa juga rasanya, melewati tiga zona waktu yang berbeda. Terasa betul lelahnya, meski tertidur, tetap saja tak nyaman. Saya tak pernah merasa nyaman tidur di kendaraan. Tapi begitulah, namanya juga kerja.&lt;br /&gt;Sekarang saatnya menanti penerbangan berikut yang akan mengantarkan saya ke pulau Tanimbar. Ini pengalaman pertama terbang dengan pesawat kecil. Bayangan akan goncangan sudah hilir mudik dalam pikiran. Tapi karena pengalaman yang menjanjikan, maka khawatir itu coba ditepis.&lt;br /&gt;Sayang, saya harus menunggu lebih lama untuk penerbangan ini. Jadwal yang seharusnya jam 9 diundur hingga jam 10. Lewat jam 10, pengumuman baru muncul, diundur hingga pukul 12 siang. Yang hebatnya, hanya permintaan maaf yang kami terima. Para penumpang tak punya banyak pilihan. Jika tak berkenan, silahkan terbang sendiri, itu dengan catatan Anda adalah Gatotkaca.&lt;br /&gt;Jam 12 lewat, artinya telat lagi dari jadwal telat sebelumnya, pesawat Trigana Air yang akan membawa kami ke Tanimbar mendarat juga. Tak sampai setengah jam bongkar muat, kami kemudian dipersilahkan naik. Pesawat ini seperti angkot saja rasanya. Tak ada nomor kursi penumpang. Siapa cepat dia bisa duduk sesuai pilihan. Kata pilot, kami akan terbang dengan ketinggian 15000 kaki di atas permukaan laut. Saya tak berani bertanya apakah tepat ukuran yang dia pakai. Jangan-jangan dia minta saya mengukur sendiri.&lt;br /&gt;Bayangan akan penerbangan yang menegangkan sirna saat kami lepas landas. Memang suara mesin begitu keras dan terasa. Tapi tetap saja lebih baik daripada angkot ngebut. Awalnya ingin mengambil gambar dari udara. Sebuah pemandangan yang menarik pasti. Tapi karena duduk saya tepat dekat jendela, dan panas matahari yang terik bakal membuat gambar jadi percuma. Saya tak tahu banyak tentang teknik pengambilan gambar, tapi saya kok tetap membatin bahwa tidur masih jauh lebih baik. Akhirnya tidur pun jadi pilihan bijak untuk saat ini. Apalagi letih yang dari tadi ada belum juga hilang.&lt;br /&gt;Pengumuman dari kru pesawat membangunkan saya. Sebentar lagi kami tiba di pulau Tanimbar. Dari udara, pulau ini begitu hijau kelihatan, meski di tengah-tengahnya ada celah. Mungkin bekas penebangan liar. Di tengah ketatnya industry perkayuan, selalu saja ada orang yang berani mengambil resiko, termasuk dengan mengorbankan kepentingan generasi mendatang.&lt;br /&gt;Kami mendarat dengan ‘tidak terlalu’ mulus di bandara Saumlaki. Saumlaki merupakan nama ibukota Tanimbar, propinsi Maluku Tenggara Barat. Panjang landasan yang tidak memadai, membuat pilot harus mengerem dengan segera. Diantara semua penumpang, rasanya cuma saya yang gugup. Penumpang lain mungkin sudah terbiasa.&lt;br /&gt;Dengan ojek saya menuju hotel. Mereka menyebutnya HI, hotel Harapan Indah. Mirip-mirip hotel Indonesia saja dengarnya. Dari luar hotel ini seperti ruko, dan sangat tak menarik. Tapi saya sangat kaget ketika masuk ke dalam. Kamar-kamarnya seperti cottage yang ada di hotel pantai gapura, Makassar. Hebatnya lagi, kamar saya tepat di atas laut. Semilir ombak jelas terdengar dari kamar. Lebih dari lumayan untuk pulau yang jaraknya jauh dari pusat propinsi.&lt;br /&gt;Setelah beristirahat sejenak, saya kemudian berkesempatan keluar melihat-lihat sekitar hotel. Ada waktu sejam sebelum acara dimulai. Ketimpangan ekonomi jelas terlihat di sekitar hotel. Ada rumah besar dengan ford ranger dan Mitsubishi strada terparkir di garasi. Tapi tepat di belakangnya ada gubuk reot dengan beberapa anak kecil bermain tanah di depannya. Ekonomi pun berpusat hanya di beberapa golongan saja. Kontraktor dan industry menengah lainnya rata-rata dikuasai orang Cina dan pendatang. Penduduk asli kebagian jadi buruh dan staf saja. Sebagian yang lain jadi nelayan dan petani. Orang bugis menguasai pasar dan perdagangan. Meski, saat ini, menurut Mikail sang tukang ojek yang mengantar saya, sudah banyak orang asli yang turut menikmati kue pembangunan. &lt;br /&gt;Orang-orang Cina dan pendatang, punya strategi khusus melanggengkan usaha mereka. Dalam ilmu bisnis, strategi ini disebut non-market strategy. Salah satunya dengan menjalin hubungan baik dengan pejabat. Seorang kawan yang menemani saya di Bandara Ambon pagi tadi bercerita bagaimana para pejabat itu sering leluasa bepergian, meski dengan harga tiket pesawat yang jauh lebih mahal daripada harga tiket Makassar-Jakarta. Belum lagi fasilitas mobil dan yang lainnya, jangan ditanya.&lt;br /&gt;Kedatangan saya kesini untuk memfasilitasi koperasi dan lembaga ekonomi desa untuk meningkatkan kapasitas mereka. Seharusnya, hal ini dilakukan oleh dinas terkait. Namun jawaban dari salah seorang peserta membuat saya tercengang. Saat diminta untuk memberikan pelatihan mengenai koperasi dan pembukuan sederhana, pihak dinas terkait malah meminta bayaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Day 2&lt;br /&gt;Pagi belum juga sempurna. Saya berjalan-jalan keluar hotel. Betapa kagetnya saya melihat seorang lelaki tua duduk santai di depan rumah. Ia sedang menanti jualannya, bensin dalam kemasan botol air mineral. Yang bikin kaget karena disampingnya ada sebotol bir yang isinya tinggal setengah. Pagi-pagi begini minum bir, alamak.. Jadi ingat pengalaman saat di Inggris dulu.&lt;br /&gt;Receptionist hotel mengatakan bahwa minum bir pagi hari sudah biasa bagi masyarakat disini. Bahkan bir sudah dianggap sebagai air putih. Tak ada pesta juga tanpa bir. Makanya saya akhirnya paham mengapa di kulkas besar milik hotel penuh dengan bir beraneka merek. &lt;br /&gt;Di hotel tempat saya menginap, sering polisi dan pejabat-pejabat daerah berkumpul. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi yang saya tahu, seorang petinggi polisi disana punya kamar khusus. Entah karena dia tak punya rumah dinas dikota ini hingga harus menyewa hotel ataukah memang ia lebih suka dihotel atau dirumah. Saya tidak tahu. Ajudannya sering hilir mudik, mengantarkan barang atau sekedar melapor.&lt;br /&gt;Awal menerima pekerjaan ini, saya membayangkan akan mendatangi pulau-pulau kecil yang minim fasilitas dan terbelakang. Rupanya anggapan saya salah. Kota ini tak tertingal begitu jauh. Ada rumah bilyar disamping hotel tempat saya menginap. Rumah karaoke juga ada. Yang minim barangkali cuma pilihan makanan. Meski banyak nelayan disini, tak ada tempat yang bisa menyediakan ikan bakar dan hasil laut, kecuali di hotel. Itu pun harganya luar biasa mahal.&lt;br /&gt;Pelatihan berjalan baik. Tak sedikit dari mereka sudah memiliki pengalaman berkoperasi. Meski demikian, kendala yang mereka hadapi relative sama. Modal minim, skill dari pengurus yang tak meningkat serta jaring tengkulak yang makin mengikat. Belum lagi banyak salah kelola yang dilakukan oknum pengurus. Bantuan yang diterima, ditilep juga sama pejabat. Begitulah, ini seperti kondisi jamak koperasi dan lembaga ekonomi rakyat.&lt;br /&gt;Sampai malam kami berlatih bersama. Saat rehat malam, sekitar jam 9 malam, saya keluar hotel. Di bagian belakang ada sekeluarga yang tidur tepat dibelakang hotel. Tanpa atap. Ya, sekeluarga. Ada bapak, ibu dan tiga anaknya. Saya tanya petugas hotel, katanya mereka tinggal di samping hotel. Mereka lebih memilih tinggal di belakang hotel, karena rumah mereka kecil dan panas. Tak kebayang rasanya tidur dengan angin pantai yang begitu menusuk tulang. Yang lebih hebat lagi, sang bapak tidur dengan bertelanjang dada. Wuih, saya kena sedikit angin saja langsung masuk angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Day 3&lt;br /&gt;Pagi-pagi kami sudah keluar hotel. Pertemuan kali ini dipercepat karena jadwal pesawat saya lebih cepat dari jadwal seharusnya. Itu pun masih tentative, kata seorang kawan, pasti bakal delay. Tapi ketimbang terlambat, lebih baik saya menunggu. Tak seperti bandara kebanyakan, disini, cukup menelpon seorang petugas di bandara, kita sudah waktu kapan kita harus bergegas kesana. &lt;br /&gt;Setelah latihan praktik pembukuan, dan presentasi rencana bisnis dari masing-masing kelompok, tepat jam 11 saya ke bandara. Tukang ojek yang mengantar saya seperti mengerti saya buru-buru. Ia mengeber motornya dengan kencang. Dengan jalan yang belum mulus betul, ngebut artinya tidak nyaman. Tak apa, yang penting cepat sampai di tujuan.&lt;br /&gt;Sampai di bandara, petugas memberi tahu bahwa pesawat delay satu jam dari jadwal semula. Masalah cuaca atau teknis, tak ada penjelasan memadai. Intinya, sabar aja mas.. &lt;br /&gt;Masih ada waktu sejam, saya memutuskan untuk keluar bandara. Dengan ojek, saya minta diajak keliling pulau. Sayang saja rasanya sudah kesini tapi hanya lihat sekitar hotel dan tempat pelatihan. Mikel, nama tukang ojek itu membawaku menuju pusat kota. Geliat kota jelas terlihat. Jalan-jalan baru, gedung kantor baru dan pemukiman baru. Pasar dan terminal juga baru. Lokasinya tak jauh dari pantai. Arsitekturnya juga modern, jauh lebih bagus dari pasar Terong atau pasar Senen sekalipun. Kawasan ini juga mengikuti trend minimalis yang lagi ramai di kota-kota. Tadi sempat saya lihat juga gereja dengan desain minimalis, sangat menarik. Namun kebayang juga berapa banyak biaya untuk membangun semua itu. Perhatian sepertinya masih terpusat pada pengembangan infrastruktur. &lt;br /&gt;Tapi, seperti di kota besar lainnya, geliat pembangunan tak selamanya merata. Masih banyak rumah, tepatnya gubuk, yang berjejer di pinggir jalan. Jangankan listrik, layak huni gubuk itu pun masih tanda tanya besar. Kata Mikel, masih banyak keluarga yang sering menghadapi masalah gizi buruk di sini. Kantor bupati yang megah dan luar biasa besar itu sungguh seperti ironi bagi masyarakat kecil. Belum lagi kendaraan-kendaraan dinas para pejabat disini yang luar biasa menurut ukuran saya. Segala jenis mobil keluaran terbaru, ada disini. Beberapa mobil SUV dengan cc yang besar juga terparkir rapi di depan rumah jabatan bupati saat kami melintas tadi.&lt;br /&gt;Tak terasa sudah jam 12, saya harus segera ke bandara. Setelah pamitan dengan Mikel, saya menuju ruang tunggu. Bandara kecil dan sederhana ini menjadi tempat terakhir di Saumlaki. Sebentar lagi saya harus terbang menuju pulau yang lain, pulau Tual. Dari sana saya akan menumpangi feri ke pulau yang lain lagi, pulau Aru.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-187774482456537233?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/187774482456537233/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=187774482456537233' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/187774482456537233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/187774482456537233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2011/09/catatan-perjalanan-part-2pulau-tanimbar.html' title='Catatan Perjalanan Part 2—Pulau Tanimbar'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-U-MGx_ojmgM/TnHCcEhx8-I/AAAAAAAABT8/JPdWfj296MQ/s72-c/IMG_4380.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-6140473392883324436</id><published>2010-10-11T12:05:00.000+08:00</published><updated>2010-10-11T12:06:50.619+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Baliho Saja tak Cukup</title><content type='html'>Di harian Lokal beberapa waktu lalu Gubernur Syahrul Yasin Limpo (SYL) menyampaikan kegerahannya dengan berita tentang banyaknya foto beliau di baliho. &lt;br /&gt;Akibatnya, beliau mengindikasikan untuk menarik baliho-baliho yang sudah banyak terpajang itu. Kita harus memberi apresiasi dan mendukung langkah yang akan diambil gubernur ini karena beberapa alasan. &lt;br /&gt;Pertama, baliho dan poster bergambar Gubernur SYL sudah terlalu banyak dan menjejali ruang publik di kota ini. Cobalah berjalan-jalan mengitari kota, dan bisa dipastikan Anda tak begitu sulit untuk mendapatkan baliho bergambar SYL. &lt;br /&gt;Kedua, pemasangan begitu banyak baliho bergambar SYL mengindikasikan ketidakpercayaan yang tinggi dari SYL.  Beliau seperti tidak percaya diri sebagai gubernur. Begitu tingginya, sehingga diperlukan baliho untuk mendongkrak percaya diri, seolah ini masih dalam tahapan kampanye. Seharusnya beliau tahu, ia sudah menjabat dua tahun lebih, sehingga mustahil ada yang tidak mengenalnya sebagai gubernur.&lt;br /&gt;Ketiga, penarikan baliho dan segala atribut itu menjadi penting karena kehadiran baliho tersebut menjadi penanda dari ‘sesat pikir pemasaran’ yang selama ini dipercaya banyak pejabat daerah. Sesat pikir tersebut adalah bahwa dengan memasang baliho yang bergambar dirinya, berarti pemerintah telah melakukan upaya pemasaran. Sesat pikir yang lain adalah bahwa kepercayaan bahwa iklan layanan atau iklan pemerintah tak seharusnya kreatif.&lt;br /&gt;Teori pemasaran tradisional memang menekankan pentingnya promosi, dalam hal ini dapat berupa pemasangan baliho. Namun pemasaran lebih dari sekedar komunikasi (baliho). Pemasangan baliho sebagai bagian dari implementasi saluran pemasaran pun memerlukan langkah pra-kondisi yang harus secara serius dilakukan. Mengetahui target, memilih pesan, menentukan pembawa pesan, adalah contoh kegiatan pra-kondisi yang harus serius dipikirkan. Tak berhenti di situ, setelah baliho terpasang pun seharusnya ada evaluasi (post campaign evaluation) untuk mengukur efektifitasnya.&lt;br /&gt;Iklan Layanan&lt;br /&gt;Sosialisasi yang selama ini dilakukan dengan baliho oleh gubernur merupakan salah satu bentuk dari public service announcement (PSA).  Hal ini karena program dan pesan yang ingin disampaikan berkaitan dengan pelayanan publik. Gerakan sadar wisata, gerakan sayang museum, program kesehatan dan pendidikan gratis, merupakan hal-hal yang berkaitan dengan pelayanan publik.&lt;br /&gt;Balihonya sendiri merupakan salah satu bentuk dari media pemasaran. Tujuannya tentu saja adalah memberikan informasi, mendidik dan membujuk pasar (masyarakat) untuk ikut serta dalam program tersebut. &lt;br /&gt;Namun sayangnya, tanpa perlu menjadi ahli pemasaran, kita sudah tahu hasilnya. Hampir semua gerakan-gerakan yang dicanangkan berbuah nihil tanpa gerak. Baliho-baliho yang banyak bertebaran di jalan protokol kota ini pun bisa dikatakan ramai tapi bisu. Artinya, ramai dalam jumlah namun bisu dalam dampak.&lt;br /&gt;Bisu karena pesan yang ditonjolkan tidak lengkap, dan membuat auidens (masyarakat) tidak percaya bahwa mereka akan merasakan manfaat yang dijanjikan serta tidak membuat mereka terinspirasi untuk bertindak.&lt;br /&gt;Padahal seharusnya, gambar, teks dalam baliho itu mewakili pesan yang ingin disampaikan. Pesan apa yang bisa kita tangkap dari baliho Sulsel Go Green yang hanya berisi foto pejabat dengan seragam dinasnya? Apakah kemudian kita menjadi terinspirasi untuk peduli lingkungan? Pun tidak ada manfaat dan informasi detail yang kita bisa peroleh dengan melihat baliho Samsat Drive Thru yang dimonopoli oleh gambar gubernur dan pejabat kepolisian. &lt;br /&gt;Masih kurang? Coba tengok baliho-baliho lain yang ada. Semuanya seragam, menunjukkan foto gubernur dengan pose yang melambai, senyum lebar, atau berbaju dinas. Tak jelas betul apa manfaat foto-foto itu ada di sana.&lt;br /&gt;Sebenarnya tidak ada masalah dengan pemakaian foto tokoh sebagai pembawa pesan. Namun yang harus dicermati adalah bahwa pemilihan pembawa pesan tersebut seharusnya mempertimbangkan aspek perceived expertise (ahli), trust worthiness (terpercaya), dan likeability (disenangi). &lt;br /&gt;Dengan memperhatikan tiga aspek tersebut, maka rasanya sedikit saja yang tidak sepakat jika foto Dara dan Daeng yang menjadi duta pesan ketimbang foto gubernur untuk kampanye promosi wisata, misalnya.&lt;br /&gt;Pesan Kunci&lt;br /&gt;Mengembangkan komunikasi adalah proses yang dimulai dari menentukan pesan kunci, yang disesuaikan dengan tujuan pemasaran dan target pasar. Dalam menentukan pesan kunci, tiga pertanyaan mendasar yang harus dikemukakan oleh pembuat pesan adalah, apa yang harus diketahui audiens, apa yang harus dipercaya, dan apa yang kita harapkan audiens lakukan.&lt;br /&gt;Sepertinya, tiga pertanyaan mendasar ini tak pernah coba digali oleh pemerintah daerah dalam setiap upaya penyampaian pesannya, dalam hal ini pembuatan baliho. Okelah kalau gubernur mengaku tak tahu-menahu tentang pemakaian fotonya di banyak baliho oleh SKPD, tapi kok tidak gelisah melihat baliho itu menjadi mubazir dan pesan yang ingin disampaikan menjadi kabur?&lt;br /&gt;Kampanye go Green tentu saja mengharapkan masyarakat terinspirasi untuk menjaga lingkungan, memelihara pohon, dan menjaga ekosistem yang ada agar mampu dinikmati oleh anak-anak cucu kita kelak. Namun jika tidak ada informasi jelas tentang mengapa dan bagaimana masyarakat berpartisipasi, apa yang bisa kita harapkan?&lt;br /&gt;Kreatif &lt;br /&gt;Satu hal lagi yang harus menjadi perhatian adalah iklan layanan pemerintah baik melalui saluran komunikasi berupa baliho atau spanduk, tidak seharusnya mengabaikan sisi kreatifitas. Kreatif di sini tak berarti terbatas pada desain belaka, namun juga pada metode dan strategi penyampaiannya.&lt;br /&gt;Gerakan kesehatan dan pendidikan gratis, misalnya, seharusnya memberikan pesan yang jelas sebab manfaatnya bertujuan untuk meningkatkan mutu hidup masyarakat.&lt;br /&gt;Dengan demikian, fokus dan komitmen tidak boleh berhenti hanya sampai memasang baliho. Strategi penyampaian pesannya pun tak hanya dimonopoli dengan pilihan saluran seperti baliho.&lt;br /&gt;Di bidang kesehatan, perlu pula dipikirkan upaya-upaya pencegahan dan meningkatkan kesadaran kesehatan dan bagaimana memasarkan ide ini. Gerakan sayang museum perlu pula ditindaklanjuti dengan evaluasi bagaimana keberhasilan program ini setelah dicanangkan. Sudah seberapa meningkat jumlah pengunjung yang datang dan seberapa besar manfaat dari tingginya tingkat kunjungan ini. Perlu pula dievaluasi kendala yang membuat gerakan ini tak optimal berjalan.&lt;br /&gt;Berangkat dari pemikiran di atas, alangkah baik dan bijaknya jika Gubernur meminta jajarannya menata kembali bagaimana pesan-pesan layanan masyarakat disampaikan. Kepada mereka pun Gubernur sebaiknya meminta untuk bertindak sebagai pengelola dan penyampai pesan yang baik.&lt;br /&gt;Jika ini dilakukan, kita tentu bisa berharap bahwa pesan dan kampanye yang dilakukan pemerintah daerah di masa mendatang akan semakin efektif dan tepat. Tepat pesannya yang disampaikan melalui saluran yang tepat dan ditujukan kepada target yang tepat pula.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-6140473392883324436?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/6140473392883324436/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=6140473392883324436' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6140473392883324436'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6140473392883324436'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2010/10/baliho-saja-tak-cukup.html' title='Baliho Saja tak Cukup'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-9074753056854054216</id><published>2010-04-28T15:17:00.001+08:00</published><updated>2011-09-15T17:35:15.416+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan'/><title type='text'>Tunda Island--Day 3</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-o86DsTorybg/TnHGdu5HvXI/AAAAAAAABUE/PRnbHartoYM/s1600/IMG_4094.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="134" width="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-o86DsTorybg/TnHGdu5HvXI/AAAAAAAABUE/PRnbHartoYM/s200/IMG_4094.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-A0tQ5385iOY/TnHGvgGTdkI/AAAAAAAABUM/i8u3JYZV6Qs/s1600/IMG_4032.jpg" imageanchor="1" style="clear:left; float:left;margin-right:1em; margin-bottom:1em"&gt;&lt;img border="0" height="134" width="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-A0tQ5385iOY/TnHGvgGTdkI/AAAAAAAABUM/i8u3JYZV6Qs/s200/IMG_4032.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_BWlVQwsqeLA/S9fhZC-2QUI/AAAAAAAABRY/_4ccBbKT6j4/s1600/IMG_4061.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_BWlVQwsqeLA/S9fhZC-2QUI/AAAAAAAABRY/_4ccBbKT6j4/s200/IMG_4061.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465084493250838850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini hari terakhir kami berada di pulau Tunda. Seharusnya kami disini sampai hari senin. Namun karena esok harinya bupati dan stafnya ingin datang, kami khawatir pelatihan yang kami jadi bakal sepi. Apalagi ada ‘imbauan’ dari perangkat desa untuk menyambut datangny bupati. Sang bupati juga kembali mencalonkan diri untuk periode kedua. Makanya, sebagai bagian dari penyambutan, di sekeliling kampong telah terpasang spanduk, baligo dan stiker kampanye. &lt;br /&gt;Tak menyangka melihat antusiasme dan semangat peserta. Bapak-bapak dan ibu-ibu ini sungguh tekun belajar pembukuan sederhana. Banyak dari mereka memang tidak menamatkan SMP. Selain karena saat mereka muda gedung SMP belum ada di Pulau Tunda, biaya sekolah dan segala kebutuhannya memang tidak terjangkau untuk ukuran mereka, nelayan, yang hidupnya bergantung pada kebaikan alam.&lt;br /&gt;Pertanyaan yang mereka ajukan pun luar biasa menarik, meski kami harus sabar menjelaskan kolom per kolom dan penempatan transaksi sesuai kolomnya. Belum lagi masuk pada kolom saldo, menjumlahkan setiap transaksi menjadi begitu menarik karena celetukan-celetukan spontan dari mereka. &lt;br /&gt;Sore hari kami diajaka ke bagian timur dari pulau Tunda. Jika kemarin kami mengunjungi sisi barat pulau ini, maka hari ini kami memilih suasana baru. Kami berjalan sekitar 15 menit untuk mencapai sisi timur pulau, melewati kebun-kebun petani. Banyak jenis tanaman yang mereka tanam. Timun, kacang panjang, jagung, singkong, pisang, kelapa. Saya heran juga, dengan tanah berpasir seperti itu, kok bisa ya tanaman darat bisa tumbuh. Satu hal yang pasti, bahwa air tawar yang digunakan untuk mandi dan minum di pulau ini tak payau. Hampir sama dengan air di darat. Mungkin ini yang menjadi sebab mengapa tanama-tanaman itu bisa tumbuh. Itu hanya prediksi tidak ilmiah saya, soal ini bukan wewenang saya kayaknya..&lt;br /&gt;Sisi timur pulau ini tak semenarik sisi barat, yang memiliki suar, rumah-rumah penduduk disekeliling pantai atau deretan pohon kelapa yang indah menjadi siluet karena matahari yang ingin terbenam. Yang ada hanya deretan mangrove dan sampah-sampah kiriman yang entah datang dari mana. Sampah-sampah kecil serupa kemasan sampo dan makanan ringan hingga bangkai sofa dan kayu-kayu bekas tebangan. Kata pak Khilman yang menjadi pemandu kami kali ini, mereka selalu kewalahan menghadapi sampah-sampah ini. Kadang jika kondisi angin barat daya, tumpukan sampah yang mampir ke pulau ini bisa jadi lebih banyak lagi. Akibatnya, mereka tak lagi dapat memancing di sekitar pantai. Dan pantai mereka pun tak lagi nyaman untuk berenang.&lt;br /&gt;Karena tak puas dengan sisi timur pulau ini, saya pun memohon, tepatnya mendesak, agar kami juga sekalian melihat bagian utara pulau. Alasan saya, esok pagi saya harus kembali ke Serang untuk terus ke Jakarta, dan entah kapan saya ada waktu lagi ke Pulau Tunda. Untunglah, pak Khilman tak keberatan, namun ia member syarat. Kami harus berjalan menyusuri pantai, bukan lagi didaratan pantai. Sebab pohon mangrove telah menutupi jalan yang selama ini ada. Artinya, saya harus menggulung celana dan juga bersiap untuk basah.&lt;br /&gt;Tak ada masalah, tanpa pertimbangan kami pun menyetujui syarat, atau tepatnya permintaan ini. Menyusuri pantai terasa sangat menyenangkan, apalagi angin di pantai lagi tenang-tenangnya. Berbeda dengan kondisi kemarin, yang membuat saya masuk angin dan tak nyaman. Sampah masih menjadi pemandangan tetap yang kami peroleh. Tapi tetap ada yang menarik. Deretan mangrove yang tumbuh subur menjadi pemandangan indah. Belum lagi deretan karang yang jelas terlihat karena jernih dan beningnya air pantai. Perjalanan kami kembali diselingi dengan cerita-cerita mistik khas jagoan dan cerita tentang beberapa penduduk dan pendatang yang melihat makhluk halus. Cerita seperti ni sebenarnya bukan baru, dan hampir semua tempat pasti memiliki ragam cerita mistik. Tapi yang membuat saya kaget bercampur tak percaya, karena mas Karim yang juga turut serta dalam ‘tour’ kali menunjukan titik tempat kami berdiri sebagai tempat orang-orang melihat makhluk itu. Ada satu lagi cerita menarik dari mas Karim. Menurutnya, pulau ini dulunya tidak ada. Tapi proses ratusan tahun menaikkan tanah ini menjadi daratan pulau. Buktinya, pernah ada yang membuat sumur di tengah pulau dan menemukan kerangka kapal. Tak sedikit yang menemukan batu-batu besar khas dasar laut.&lt;br /&gt;Setelah 20 menit menyusuri pantai dan celana yang makin terasa berat karena basah, kami pun tiba di sisi utara. Sisi ini terasa lebih nyaman dan bersih. Tepian pantainya pun lebih panjang. Cocok sekali untuk pariwisata. Saya pun mengusulkan mas Karim untuk membuat tempat yang lebih nyaman di bibir pantai agar orang mau datang berwisata. Belum juga mas Karim menjawab, pak Khilman menimpali, “kalau dia mah tempat karaokean aja pikirannya, mana sempat mikir tempat wisata”. Kami semua sontak tertawa. &lt;br /&gt;Tak terasa waktu magrib sudah dekat. Kami memutuskan untuk batal melanjutkan perjalan ke sisi selatan pulau. Selain gelap, kaki ini sudah pegal luar biasa. Bahkan, beberapa menit sempat keram. Padahal perjalanan yang saya tempuh sebenarnya tidak jauh-jauh amat. Berjalan sejam lebih masih biasa saya lakukan. &lt;br /&gt;Yang pasti, hari ini kami sudah melihat pemandangan lain yang tak kelah sedap. Mas Karim menjanjikan malam ini kami bakal menyantap ikan Ela dan teripang. Nama ikan ini masih asing bagi saya, ini yang menambah semangat untuk segera pulang..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-9074753056854054216?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/9074753056854054216/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=9074753056854054216' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/9074753056854054216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/9074753056854054216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2010/04/tunda-island-day-3.html' title='Tunda Island--Day 3'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-o86DsTorybg/TnHGdu5HvXI/AAAAAAAABUE/PRnbHartoYM/s72-c/IMG_4094.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-8574523620616791464</id><published>2010-04-28T15:11:00.002+08:00</published><updated>2010-04-28T15:16:27.237+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan'/><title type='text'>Hari Ke-2 @ Pulau Tunda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_BWlVQwsqeLA/S9fgYZJ_XJI/AAAAAAAABRQ/ZCOY1QMDwH0/s1600/IMG_4034.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_BWlVQwsqeLA/S9fgYZJ_XJI/AAAAAAAABRQ/ZCOY1QMDwH0/s200/IMG_4034.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465083382511656082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah beristirahat cukup, saya pun terbangun di pagi hari. Shalat subuh dan setelah itu bersiap untuk pelatihan bagi anggota koperasi di Pulau Tunda. &lt;br /&gt;Pesertanya anggota koperasi, pengurus dan kelompok nelayan, petani, serta ibu-ibu penggerak usaha kecil. Sangat menarik karena beragam perserta dan juga karena mereka memang ada niat untuk belajar. Niat tinggi untuk belajar ini bukannya tanpa sebab. Pengurus koperasi sebelumnya beberapa kali melakukan kecurangan dan menyelewengkan bantuan yang diterima atas nama koperasi. Namun mereka tidak bisa melakukan apa pun, meski mereka sebenarnya tahu ada penyimpangan dan penyelewengan. Masalahnya, mereka tidak punya bukti kuat dan tidak mengerti prosedur pencatatan dalam koperasi. Pengurus lama selalu berkelit dengan dalih telah dicatat dalam pembukuan. Ringkasnya, pengurus lalu telah melakukan penyimpanan dengan model canggih, katakanlah financial engineering. &lt;br /&gt;Pelatihan berjalan lancar, tak terkira partisipasi mereka luar biasa aktif. Tak sedikit pertanyaan mereka lontarkan, terutama saat kami pada sesi pembukuan sederhana. Pokoknya semuanya ditanyakan, sampai kolom-kolom pada buku kas dan maksud kata per kata mereka tanyakan.&lt;br /&gt;Saat waktu istirahat tiba, kami kemudian makan siang dan berbincang. Menu hari ini telur rebus dan sayur kulit melinjo. Saya bertanya, kok telur, ini kan pulau nelayan? Ternyata tidak ada nelayan yang melaut saat Jumat. Ini adalah hari libur ‘tak resmi’ para nelayan. Mereka kadang tetap melaut, jika kondisi laut sangat baik dan ikan pun banyak jumlahnya. Kulit melinjo sendiri masih asing bagi saya. Kutanya Pak Hilman sang bendahara koperasi, jawabnya isinya dibuat untuk kerupuk dan dimakan orang darat, kulitnya untuk orang Pulau.&lt;br /&gt;Ada nada prihatin dari jawaban pak Hilman. Sejak kemarin, saya memang melihat kemiskinan begitu lekat dengan kehidupan mereka. Terlepas bahwa ada yang memilih menjadi tki dan tkw, kemudian memberikan penghidupan lebih bak bagi keluarganya, tapi jumlah mereka tak banyak. Kata mas Karim, jumlahnya tak lebih dari 80 orang, dari total 1500-an populasi di pulau Tunda.&lt;br /&gt;Menikmati sayur di pulau ini adalah ritual mahal. Jangankan lagi daging ayam atau sapi. Jumlah tangkapan nelayan sebenarnya cukup aja. Masalahnya, kebanyakan mereka terlilit utang pada tengkulak, dalam Bahasa mereka ‘Si Bos’. Utang itu untuk menutupi biaya perahu, beli mesin, GPS, soalr, dan kadang-kadang untuk biaya sekolah dan rumah sakit keluarga mereka. Pengakuan mas Karim, 99% nelayan di pulau ini semuanya berutang. Dan jumlah terkecil dari utang mereka adalah 3-4 juta rupiah, sedangkan yang terbesar berada pada kisaran 20-an juta rupiah.&lt;br /&gt;Terbayang betapa kerja keras mereka sebenarnya tdak mendapat imbalan yang pas. Si Bos sering menekan harga serendah mungkin. Ikan tenggiri yang di tempat lain dihargai 17 ribu, hanya dihargai 7 ribu oleh si bos. Nelayan tidak punya pilihan selain menjual ke bos karena ikatan utang tadi. Jika ada yang berani menjual selain kepada bos, maka esoknya ia akan ditagih untuk segera melunasi hutangnya. Berat dan dilematis. Maka jangan heran, meski mereka nelayan, tapi jangan berharap mendapatkan ikan baronang, cepa, kerapu, ada dalam hidangan keseharian mereka. Betul, ada saja yang menghidangkan cumi, seperti yang saya nikmati semalam di rumah bu Romlah, tapi itu sekedar pengganti ikan yang memang tidak diperoleh suaminya.&lt;br /&gt;Ada juga hal menarik yang saya dapat saat rehat siang tadi. Ternyata, untuk bersaing dalam segala hal di pulau ini, tak cukup dengan modal dan pengetahuan. Ilmu kanuragan dan magic-magic perlu. Banyak cerita dari peserta yang menguatkan ini. Mulai dari gejala-gejala biasa yang aneh seperti bau menyan sampe keluarnya benda tajam dan benda lain seperti paku dari dalam tubuh. Sebenarnya di tempat lain juga ada, cuma jadi ingat Si Pitung yang katanya sih memang dari Banten.&lt;br /&gt;Sorenya kami diajak berjalan-jalan di sekitar pantai. Sebenarnya enak juga, apalagi pantainya bersih dengan pasir putih. Yang membuat saya tak nyaman hanya karena anginnya yang berhembus kencang. Akibatnya, saya kena masuk angin dan harus segera mencari alternative tempat membuang hajat. Untunglah, karena rasa kekeluargaan, mas Karim mudah saja minta ama nelayan yang ada disitu untuk memakai toilet mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-8574523620616791464?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/8574523620616791464/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=8574523620616791464' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/8574523620616791464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/8574523620616791464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2010/04/hari-ke-2-pulau-tunda.html' title='Hari Ke-2 @ Pulau Tunda'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_BWlVQwsqeLA/S9fgYZJ_XJI/AAAAAAAABRQ/ZCOY1QMDwH0/s72-c/IMG_4034.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-5431829713092507890</id><published>2010-04-28T15:06:00.002+08:00</published><updated>2010-04-28T15:11:22.439+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perjalanan'/><title type='text'>Catatan Perjalanan ke Pulau Tunda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_BWlVQwsqeLA/S9ffbC3pg1I/AAAAAAAABRI/0o0MToWxuB8/s1600/IMG_4032.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 134px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_BWlVQwsqeLA/S9ffbC3pg1I/AAAAAAAABRI/0o0MToWxuB8/s200/IMG_4032.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465082328557126482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Day 1:&lt;br /&gt;Berangkat dari Makassar dengan Airbus seri terbaru Garuda. Tiba di cengkareng, langsung ke Serang, dengan 2 jam perjalanan darat. Sampai di serang, makan siang trus langsung berangkat lagi ke pulau tunda melalui karang hantu. Ada kapal yang telah disiapkan. Ditemani Lutfi dari Oxfam, dan mas Karim pemandu dari Pulau Tunda. Saya harus mencari kartu Indosat. Di pulau ini tak ada sinyal lain selain indosat.&lt;br /&gt;Pulau tunda merupakan batas paling utara provinsi Banten. Pulaunya memanjang, kepala keluarga skitar 350. Dalam perjalanan kami diteman angin barat laut, yang membuat ombak besar dan sangat menakutkan. Perjalanan laut hampir tiga jam terasa sehari saja rasanya.&lt;br /&gt;Awalnya saya duduk di luar, namun pindah masuk ke ruang mesin karena tempias ombak yang membuat tubuh basah kuyup. Selain itu karena takut terlempar ke lautan aja, karena perahu sudah bergerak dengan bebasnya. Di ruang kemudi saya sedikit tenang. Ada surat kecakapan milik sang kapten ditempel didinding kapanl. Ada pula pelampung. Dan yang utama, ada stiker bergambar popeye si pelaut dengan sekaleng penuh bayam di tangannya. Disana juga tertulis, perhatian, zero accident. Pelautnya orang bugis, bangga juga punya saudara yang luar biasa hingga Banten.&lt;br /&gt;Sampai di Tunda, kami melapor ke pos polisi. Berbincang sejenak dengan briptu prasetya yang menanyakan maksud dan tujuan kedatangan kami. Setelah itu kami langsung menuju ke rumah bu Romlah. Suami dari bu Romlah merupakan ketua dari kelompok nelayan. Hari ini sang suami masih melaut.&lt;br /&gt;Aroma kekeluargaan terasa kental disini. Hampir semua yang kemai temui menyapa dan mengajak mampir. Serasa di kampong sendiri saja rasanya. Penduduk disini kebanyakan nelayan. Pernah sih ada yang emncoba bertani dan segala usaha pertanian. Namun harga pupuk yang mahal, jangka waktu panen yang lama dan harga jual produk pertanian yang rendah membuat mereka kembali ke habitat asli sebagai nelayan.&lt;br /&gt;Ada yang luar biasa dari mereka soal nelayan ini. Tak ada astu pun dari nelayan di pulau Tunda yang memakai jarring atau pukat. Mereka menangkap ikan masih dengan cara memancing. Ya, memancing satu per satu ikan. Makanya hasil tangkapan mereka tak pernah bisa sebanyak nelayan di pulau lain atau yang didaratan Serang. Alasan mereka sederhana, agar mancingnya tak maruk dan agar ikan tak cepat hasbis. Local wisdom yang sederhana tapi sungguh mumpuni.&lt;br /&gt;Meski demikian, godaan untuk menyentuh modernitas dalam hal memancing yang ditandai dengan perahu besar dan pukat serta jarring bukannya tidak ada. Apalagi disasadari, hasil yang mereka dapat dengan memancing jauh dari cukup. Iya kalau dapat ikan, sebab tak jaran mereka melaut tiga hari dan tidak mendapatkan apa-apa. Yang perih lagi, pernah ada yang ikut melaut bersama seorang juragan ikan. Dua minggu melaut dan upah mereka hanya 15 ribu!&lt;br /&gt;Yang ada akhirnya adalah mereka hidup dari utang, dan memancing atau melaut tujuan utamanya adalah menebus utang. Utang mereka bakal bertambah jika waktu-waktu sekolah dan tahun ajaran baru dimulai. Belum lagi kalau ada yang sakit dan urusan pangan lainnya.&lt;br /&gt;Mendengar cerita mereka, betapa jelas tergambar penderitaan dan rumitnya masalah yang dihadapi penduduk disini. Keterisolasian menjadi masalah paling utama. tidak ada pilihan lain, Hasil tangkapan mereka akhirnya hanya bisa dijual ke ‘bos’. Meski si bos membeli lebih sering dengan harga yang ditekan. Itu pun dengan jujur mereka akui, timbangan yang digunakan untuk mengukur hasil tangkapan mereka adalah timbangan yang curang. Pilihan untuk menjual sendiri ke daratan adalah mustahil, sebab biaya untuk ke daratan jauh lebih besar dari hasil tangkapan mereka.&lt;br /&gt;Makanya, kondisi kesehatan mereka relative buruk dibanding lainnya. Jangan lagi bicara soal asupan gizi. Anak-anak mereka banyak yang terkena gizi buruk serta pendidikan yang tidak tuntas. Pokoknya, hampir semua masalah dasar kemiskinan, ada disini. Bukannya keidupan tidak lebih baik dari yang dulu. Pengakuan pak Lurah Tunda, sejak jaman Soeharto, mereka sudah sering mendapat bantuan. Cuman payahnya, bantuan yang mereka terima selalu bersyarat. Pilih ini dan jangan pilh itu, menjadi syarat mutlak dari setiap bantuan.&lt;br /&gt;Salah satu upaya mengatasi hal ini adalah dengan mengirim istri-istri nelayan menjadi TKI di luar negeri. Kebanyakan dari mereka berangkat ke Arab Saudi. Mas Karim, orang pulau ini punya lelucon, kalau mau lihat istri siapa yang jadi TKI, lihat saja rumahnya. Semua rumah yang ‘bagus’ pasti istrinya pernah jadi TKI.&lt;br /&gt;Bu Romlah sendiri yang rumahnya kami tempati pernah menjadi TKI di Arab Saudi. Saya kemudian bertanya ke mas KArim, kok istrinya ga diminta ke luar negeri aja agar taraf kehidupan mereka lebih baik. Jawabannya singkat, tak kuat ditinggal lama. Belum lagi kasus-kasus TKI disiksa dan contoh buruk seorang TKW yang strees di kampung sebelah karena mengalami pemerkosaan dari majikannya.&lt;br /&gt;Yang menarik bagi saya adalah soal listrik. Mereka pernah mendapat bantuan solar panel dari pemerintah. Namun karena alat yang diberi merupakan spesifikasi terendah, mulai dari aki hingga panelnya, maka alat itu tak bertahan lama. Si Kapten, pemilik kapal fery kemudian membuat bisnis listrik. Dengan generator yang ia miliki, listrik pun dialirkan kerumah-rumah. Yang mencengangkan, tagihannya itu lho. Betul, ini di pulau dimana segalanya terbatas, tapi ga kebayang bu Romlah membyar tagihan listrik tiga kali lebih banyak dari yang saya bayar dirumah. Rinciannya, Rp 1500/ untuk setiap unit lampu dan alat listrik. Di rumah bu Romlah, ada 3 lampu, dan sebuah tipi. Jadi kebayang kan berapa banyak yang harus ia keluarkan untuk listrik itu saja.&lt;br /&gt;Bu Romlah, PLN mungkin ga tertarik ke pulau Tunda. .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-5431829713092507890?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/5431829713092507890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=5431829713092507890' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5431829713092507890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5431829713092507890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2010/04/catatan-perjalanan-ke-pulau-tunda.html' title='Catatan Perjalanan ke Pulau Tunda'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_BWlVQwsqeLA/S9ffbC3pg1I/AAAAAAAABRI/0o0MToWxuB8/s72-c/IMG_4032.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-391475274488938578</id><published>2010-01-02T13:13:00.003+08:00</published><updated>2010-01-02T13:28:11.512+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Simalakama</title><content type='html'>Tahun baru harusnya dilalui dengan perasaan gembira dan suka cita. Namun tidak bagi saya. Apa pasal? saya sudah pernah posting sekali soal sampah. Kali ini perasaan tak bisa ditolak untuk menulis lagi. Ya, soal sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekat rumah sudah dipasang papan baru yang menyatakan bahwa dilarang membuang sampah disini. bunyinya tegas dan jelas. ditulis pula dalam huruf besar (kapital). dalam tata krama dunia sms, penggunaan huruf kapital berarti penegasan. sayangnya, tak semua bisa membaca. kalau toh bisa, tak juga mengerti maksud dan pesan yang disampaikan papan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bayangkan, beberapa orang membuang sampah tepat dibawah papan itu. beberapa orang lainnya berpura-pura mematuhi aturan itu dengan membuang hanya beberapa meter dari papan larangan itu. mereka mungkin berpikir bahwa mereka tak melanggar aturan dan bisa membaca. kan mereka membuangnya tidak tepat di bawah papan larangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebenarnya saya harusnya cuek aja. apalagi tak ada sedikit pun hak saya melarang. itu bukan wilayah dari 'kekuasaan' saya. apalagi itu juga tanah kosong yang pemiliknya sendiri pun tak pernah berkeberatan. tapi saya juga wajar protes. sampah yang mereka buang kebanyakan palstik dan sampah basah. selain mencemari lingkungan, bau menyengat dari sampah itu sungguh mencederai indera perasa dan pembau. jika semilir angin berhembus, akan terasa sangat bauk tak sedap itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya sebenarnya telah berusul kepada developer dan pengelola perumahan untuk menyediakan tempat pembuangan sementara. tapi takut repot barangkali, sehingga usul saya hanya tinggal dalam berangkas usul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya pun tak enak hati menegur mereka yang membuang sampah. apalagi mereka adalah tetangga dekat rumah, yang tentu peringatan sekecil itu bisa berakibat pada hubungan yang fluktuatif. itu yang saya hindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada yang telah berkali-kali saya tegur, dengan sehalus mungkin tentunya. tapi tetap saja, sampah makin menggunung di sektar rumah. yang saya khawatirkan adalah saat musim hujan tiba. sampah-sampah itu bakal terbawa arus air dan menjadikan jalanan di depan rumah menjadi tempat sampah baru. dalam skala yang lebih besar, ini tentu seperti tidak percaya akan bahaya kerusakan lingkungan. saya tahu, saya bukanlah orang yang seperti penerima hadiah kalpataru yang sedikit itu. bukan juga penyayang lingkungan dalam arti seperti aktifis greenpeace. tapi perasaan terganggu membuat saya tersadar, lingkungan haruslah diperhatikan. membuang sampah pada tempatnya, adalah sebuah contoh kecil tentang bagaimana kita bisa berkontribusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semoga tahun baru ini para tetangga bisa memiliki resolusi tahun baru yang berkaitan dengan sampah. jika tidak, saya harus memperbanyak stok sabar dalam diri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-391475274488938578?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/391475274488938578/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=391475274488938578' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/391475274488938578'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/391475274488938578'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2010/01/simalakama.html' title='Simalakama'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-7629186946359716952</id><published>2009-11-19T17:00:00.002+08:00</published><updated>2009-11-19T17:07:08.448+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Unfair</title><content type='html'>Perancis Vs Ireland. Pertandingan ini sebenarnyar seru, butuh 120 menit untuk menentukan tim yang lolos ke Afrika Selatan. Tuan rumah akhirnya berhasil lolos. Pelatihnya pasti dianggap paling berhasil dalam sejarah sepakbola modern Perancis. Lolos dalam tiga kejuaraan secara beruntun, memang bukan prestasi yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang kurang berkesan dari pertandingan subuh tadi, hanyalah hilangnya sportifitas sepakbola. Henry memang mengaku melakukan handsball. Tapi komentar selanjutnya yang mengejutkan, "I'm not the ref". Ok, you're not the ref, but don't you think you do it by intention?. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan ada konspirasi besar yang sudah menentukan negara-negara mana saja yang patut ada di Afrika Selatan untuk bermain sepak. Bisa jadi, Irlandia tak ada dalam list itu. Jika ini betul, jutaan orang terhianati oleh lembaga besar bernama FIFA.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-7629186946359716952?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/7629186946359716952/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=7629186946359716952' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/7629186946359716952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/7629186946359716952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2009/11/unfair.html' title='Unfair'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-1275095535632751995</id><published>2009-09-17T13:30:00.002+08:00</published><updated>2009-09-17T13:42:29.455+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belanja'/><title type='text'>Permen Sebagai Alat Bayar</title><content type='html'>Semalam bersama istri saya berbelanja di Ramayana. Bukan, bukan karena ingin mengejar late night shopping-nya yang menawarkan diskon murah yang mencederai logika itu. Niatan kami sederhana, membeli barang-barang kebutuhan pokok yang makin menipis cadangannya di rumah. Melihat-liat barang murah, itu adalah bonus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika di kasir saya sebenarnya sudah punya prasangka buruk. Plastik besar pembungkus permen terebar di lantai dekat meja kasir. Ini pertanda bakal ada 'diskusi panjang' lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiba giliran saya membayar, saya kemudian menyerahkan sejumlah uang. Di layar monitor tertera sejumlah nilai yang menjadi kembalian saya. Ada nominal kecil sejumlah 300an rupiah. Sang kasir kemudian mengembalikan duit saya, plus dua biji permen. Saya tanya, "kok permen, mbak". Sang mbak cuma menjawab bahwa ia tidak punya duit kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkeliling sejenak, istri saya menemukan barang yang ia cari dan pas dengan kantong. Saya dimintanya untuk antri di kasir dan membayar. Kejadian yang sama berulang. Pengembalian duit saya masih dibarengi dengan permen. Saya kemudian bertanya, bisakah saya membayar dengan permen? Sang mbak kasir diam seribu bahasa. "Kalau tidak bisa membayar dengan permen, jangan mengembalikan dengan permen".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu orang dengan nominal 200-300 rupiah memang tak seberapa. Tapi coba bayangkan jika semua orang yang berbelanja di ramayana diperlakukan hal yang sama. Taruhlah ada 3000 orang yang berbelanja, dan setengah dari jumlah itu mendapatkan kembalian permen. Berapa banyak yang bisa didapatkan Ramayana dari &lt;span style="font-style:italic;"&gt;unwanted transaction&lt;/span&gt; ini? Unwanted (Tidak diinginkan) karena pembeli tetap mendapatkan permen sebagai ganti duit receh yang tak dimiliki oleh Ramayana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moral ceritanya, jika ingin berbelanja di Ramayana, maka siapkan permen sebanyak-banyaknya. Kali aja di sana permen sudah jadi alat transaksi resmi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-1275095535632751995?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/1275095535632751995/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=1275095535632751995' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1275095535632751995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1275095535632751995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2009/09/permen-sebagai-alat-bayar.html' title='Permen Sebagai Alat Bayar'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-1389400866658992763</id><published>2009-08-27T11:58:00.002+08:00</published><updated>2009-08-27T12:18:26.864+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Sampah</title><content type='html'>Peningkatan GDP di banyak negara termasuk Indonesia, telah membuat efek positif yang luar biasa. Ini mengindikasikan pula terjadinya peningkatan kesejahteraan, perubahan pola konsumsi serta standar hidup yang meningkat. Hal kecil yang bisa kita lihat sebagai efeknya adalah meningkatnya tingkat konsumsi banyak dari kita. Peningkatana jumlah konsumsi berimplikasi pula pada peningkatan jumlah sampah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika di banyak negara, khususnya negara maju melihat ini sebagai sebuah ancaman di masa datang, tidak demikian yang terjadi dengan negara berkembang, termasuk Indonesia. Sampah masih dianggap 'biasa-biasa' saja, untuk tidak mengatakannya tidak berbahaya dan bukan ancaman sama sekali.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari rumah saya, ada tanah lapang. Nah, karena tidak ada penampungan sampah sementara yang disediakan oleh pihak developer, maka tanah lapang yang dulunya betul-betul lapang itu, mendadak menjadi tempat pembuangan sampah. Parahnya, ini tidak hanya terjadi di dekat rumah saya, tapi juga di sekitar rumah yang posisinya di pojok dan ada tanah kosong di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah memasang papan pengumuman, bahwa dilarang membuang sampah di sekitar tanah lapang itu. Tentu, tak perlu pakai kosakata 'terlarang' sebagaimana banyak dijumpai di daerah terlarang buang sampah. Mungkin mereka yang pasang itu sudah frustasi berat dengan sampah yang makin menggunung. Tak sampai seminggu, papan itu hilang tanpa jejak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke kasus saya, sampah yang dibuang pun bukan sampah kering. Banyak diantaranya sisa-sisa makanan, dan yang pasti, plastik. Tak habis pikir saya betapa plastik ini makin banyak menyertai perjalanan hidup kita. Mulai dari kemasan sabun, sampo, hingga plastik kresek untuk belanjaan dan bungkus makanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke depan, pemakaian plastik harusnya dikurangi. Selain karena jenis ini sangat sulit untuk diuraikan oleh tanah, efek bagi kesehatan juga banyak. Saya tak tahu pasti efeknya apa, tapi yang saya ingat, lebih banyak negatifnya. Untuk bisa mengurangi, banyak cara yang bisa dilakuka. Dengan tidak meminta tas plastik untuk barang-barang yang bisa dibawa dengan tangan, atau dengan menggunakan tas serta plastik bekas. Untuk lebih menekan, pemerintah perlu membuat regulasi yang mengharuskan toko dan supermarket untuk menekan penggunaan plastik. Bisa juga dengan mengenakan bayaran kepada konsumen jika tetap meminta plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang mungkin masih banyak tanah lapang, meski tak lagi luas, yang bisa jadi tempat pembuangan sampah. Saya tak yakin ke depan, akan terus bertahan seperti ini. Apalagi, bau sampah dan juga sisa kotoran yang dibuang dekat rumah saya, makain lama makin membuat tak nyaman. Mungkin saatnya saya harus memasang papan larangan membuang sampah yang baru, kali ini dengan kata yang lebih keras lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-1389400866658992763?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/1389400866658992763/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=1389400866658992763' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1389400866658992763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1389400866658992763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2009/08/sampah.html' title='Sampah'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-3900724976467945999</id><published>2009-08-21T13:50:00.002+08:00</published><updated>2009-08-21T13:54:35.717+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Ramadhan</title><content type='html'>Sebuah mesjid diperebutkan oleh dua jamaah yang berbeda aliran. Satu aliran menganggap aliran lainnya sesat dan kerap mendominasi cara beribadah di mesjid tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain tempat, sekelompok orang dengan mengatasnamakan Islam merusak dan menghancurkan beberapa gerobak dagangan yang buka menjelang ramadhan. Tak ketinggalan, mereka pun layaknya jagoan memburu dan memukul secara membabi buta orang-orang yang melawan dan menganggap mereka kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat terpisah, petugas ketertiban me'nertibkan' wanita-wanita PSK, yang dianggap akan mencemari bulan ramadhan. Mereka diuber bagaikan penjahat dan juga pencemar masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat datang Ramadhan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-3900724976467945999?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/3900724976467945999/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=3900724976467945999' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/3900724976467945999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/3900724976467945999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2009/08/ramadhan.html' title='Ramadhan'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-3708476289401897335</id><published>2009-08-19T16:29:00.002+08:00</published><updated>2009-08-19T16:37:12.591+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Nationalist</title><content type='html'>Proudly, I declare that I'm a nationalist now. What, a nationalist?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Here's the story. Few days before independence day, I incidentally heard a news on a local TV. The news stated that official of Makassar major ask for the citizen to place a flag in front of their houses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, I've placed a flag in front of my house, Am I a nationalist?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-3708476289401897335?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/3708476289401897335/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=3708476289401897335' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/3708476289401897335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/3708476289401897335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2009/08/nationalist.html' title='Nationalist'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-7265801995725264886</id><published>2009-08-04T12:08:00.002+08:00</published><updated>2009-08-04T12:32:24.133+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Home</title><content type='html'>Di koran KOMPAS, ada satu rubrik, khususnya di Kompas Minggu yang paling saya suka. Aku dan Rumahku, begitu nama rubriknya. Rubrik ini bercerita tentang tokoh terkenal dengan rumahnya, termasuk cerita dibalik itu semua. Tak semua dari mereka yang ditampilkan itu memiliki rumah "wah" serupa di sinetron-sinetron tipi kita. Beberapa bahkan memiliki rumah sederhana dan biasa-biasa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang paling menginspirasi saya bukan bentuk dan desain rumah mereka. Cerita dibalik rumah itu yag begitu mengena. Bagaimana sulit dan rumitnya mewujudkan impian memiliki rumah idaman, serta kerja keras yang menyertainya, itu yang betul-betul 'enak dibaca'. Rubrik ini sungguh menginspirasi saya untuk memiliki rumah "sendiri".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang turut menginspirasi, saat sekolah master dulu, saya paling suka dengan lagu Michael Bubble, Home. Lagu ini tak hanya membuat rindu akan kampung halaman terus tumbuh, tapi juga memberi sprit, untuk menyelesaikan segala urusan yang terkendala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika terinspirasi inilah, yang membuat saya ingin segera memiliki rumah sendiri. Setengah tahun tinggal di rumah orang tua, membuat diri tidak kreatif. Apalagi memiliki orang tua yang luar biasa baiknya, adalah penyiksaan tersendiri. Tak ada aktifitas inovatif yang bisa dilakukan, tak pula bisa beli barang sembarangan. Pokoknya, begitu deh..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang kemudian membuat kami segera mencari rumah. Pilihan lokasi dan harga tentu jadi pertimbangan. Namun tidak memonopoli, yang jelas, pindah lebih cepat lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, rumah itu kami dapat, dan culturally, kami sudah menempati rumah baru kami. Culturally? Iya, sudah dengan acara-acara kultural khas orang-orang tua. Awalnya sih menolak, tapi yah diakomodasi saja. Rumah ini, meski mungil, namun alhamdulillah tanahnya cukup luas. Kalau toh ada yang kurang, ya kurang ramai aja. Rumah di sekitar tempat kami masih kosong. Pemiliknya belum pada menempati rumah-rumah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hanya awal untuk mewujudkan impian-impian kecil. Semoga menjadi berkah, rezki dan jalan kami dilapangkan. Terima kasih Tuhan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-7265801995725264886?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/7265801995725264886/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=7265801995725264886' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/7265801995725264886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/7265801995725264886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2009/08/home.html' title='Home'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-4046159203464273057</id><published>2009-07-09T10:25:00.002+08:00</published><updated>2009-07-09T10:30:59.589+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Dia Lagi</title><content type='html'>Dia menang lagi. Semua lembaga survey menunjukkan angka kemenangan mutlak baginya. Tak sesuai dengan prediksiku memang. Eh, bukan prediksi tepatnya, harapan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam kumpul dengan beberapa kawan seharapan. Banyak kecewa dan konspirasi yang keluar. Saya tak menyalahkan. engkau pun pasti tahu, jika sesuatu yang kau dukung habis-habisan, seluruh jiwa raga dan yang kau punya (kecuali nyawa), tiba-tiba dinyatakan kalah. Apalagi semangat dalam tim sebelum hari penting itu betapa tingginya. Dahsyat, keyakinan dan rasa percaya diri yang belum pernah kutemukan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi hidup ini harus berlanjut. Semangat jangan kendur. Selamat buat bapak yang berbadan besar itu. Ia telah membuktikan bahwa ia banyak kuasa dan usaha. The question then, masihkah ini mengasyikkan??&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-4046159203464273057?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/4046159203464273057/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=4046159203464273057' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/4046159203464273057'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/4046159203464273057'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2009/07/dia-lagi.html' title='Dia Lagi'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-8154470358700238640</id><published>2009-04-25T16:07:00.000+08:00</published><updated>2009-04-25T16:08:25.788+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Ujian (tak perlu) Nasional</title><content type='html'>Kalau banyak yang menyerukan peninjauan ulang terhadap Ujian Nasional (UN), maka saya setuju dengan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman selama mengawas UN di salah satu sekolah di Luwu Timur ini makin menegaskan pendapat itu. Sebagai bagian dari upaya untuk menjadikan hasil UN sebagai bagian dari penilaian jika siswa ingin melanjutkan pendidikan ke universitas, maka pihak universitas dilibatkan dalam pelaksanaan UN kali ini. Satu tim dari universitas yang terdiri dari dua orang, terlibat dalam pelaksanaan UN di sekolah. Tugas kami sebenarnya sederhana, sekedar memastikan pelaksanaan UN berjalan lancar dan tindakan-tindakan tidak terpuji dapat dikikis seminimal mungkin. Begitu kutipan pidato saat pelepasan di kampus dan juga harapan dinas pendidikan saat penymabutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama semuanya berjalan biasa-biasa saja. Bersama pengawas lain, kami sepakat ini adalah “bonus” sambil melihat-lihat kondisi yang ada dan juga bagian dari pengenalan medan. Bonus karena kami tak melakukan pengawasan keliling di ruang-ruang kelas dan sekedar menghabiskan waktu di ruang guru dan kepala sekolah. Bonus ini juga berangkat dari upaya “berbaik sangka”, bahwa semuanya akan berjalan normal dan biasa-biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat hari kedua berlangsung, kami kemudian melakukan inspeksi mendadak keliling ruangan kelas. Tentu, ini atas seizin dan sepengetahuan kepala sekolah sebagai ketua pelaksana tingkat satuan pendidikan. Tindakan ini kami ambil saat melihat pelaksanaan hari pertama yang berjalan “tidak semestinya”, paling tidak jika aturan dan standar operasional dari Diknas yang menjadi acuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengawasan yang longgar, teramat longgar, bahkan. Bayangkan siswa berjalan hilir mudik berbagi jawaban di dalam kelas. Sementara pengawas ruangan asyik begosip ria di pojok kelas, seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan. Di ruangan lain, kami temukan beberapa handphone, yang berisi kunci jawaban. Parahnya, dari salah satu hp yang kami periksa, terdapat sms yang berasal dari salah satu guru di sekolah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelanggaran lain bukannya tidak ada. Terlalu banyak jika mau dituliskan di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang ingin saya sampaikan adalah UN telah melembagakan praktik kecurangan di sekolah. Sekolah sebagai tempat mencari ilmu dan berkreasi, serta menjadi wadah menemukan karakter diri, berubah menjadi tempat penuh dusta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dirunut ke belakang, tentu siswa, guru dan sekolah tak bisa disalahkan begitu saja. Tepatnya, mereka hanyalah korban dari elite yang berniat meninggikan status pendidikan di negeri ini dengan cara-cara yang keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes ujian masuk perguruan tinggi tentu tak sama dengan UN. Ada perbedaan mendasar diantara keduany. Yang pertama lebih fokus pada proyeksi kemampuan calon mahasiswa untuk menjalani pendidikan di perguruan tinggi sementara yang kedua lebih fokus pada pengukuran keberhasilan siswa dalam menyerap materi yang telah diberikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi kegenitan aparatur negara dan daerah yang melihat prestasi sebagai sebuah barometer kebanggaan. Tak heran dalam pertemuan dengan bupati dan kepala sekolah, para kepala sekolah diancam akan dimutasikan jika tingkat kelulusan siswa di sekolah mereka “mengecewakan”. Akibatnya, kerja mereka membuat sekolah tak lebih serupa bimbingan belajar. Targetnya sederhana, bagaimana murid mampu menjawab soal-soal dalam ujian nasional. Soal bagaimana mereka mendapatkan jawaban, itu soal lain. Ini ditambah lagi dengan kerjasama sekolah dengan bimbingan belajar, khususnya menjelang akhir tahun pelajaran. Parahnya, perhatian terhadap mata pelajaran yang tidak diujikan di UN menjadi minim dan sekedarnya sahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melibatkan dosen dan juga polisi dalam pengawasan ujian ini juga menjadi perhatian serius. Kehadiran “orang-orang kota”, begitu beberapa guru memanggil kami, dan juga korps cokelat membuat UN serupa hajatan besar yang sungguh penting luar biasa. Seorang guru dengan bercanda bahkan mengatakan kehadiran polisi dan dosen membuat mereka merasa tak dipercaya oleh Negara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, pelaksanaan UN harusnya ditinjau ulang. Biarkan sekolah dan guru yang menjadi penentu dari keberhasilan siswa. Sebab mereka tentu yang lebih tahu kondisi dan kapasitas siswa. Orang-orang kota perlulah dilibatkan, tapi tak lebih pada upaya peningkatan kapasitas guru dan mendekatkan mereka dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Ketimbang membuang duit milyaran rupiah, ada baiknya peningkatan mutu pendidikan tak lagi dilakukan dengan pendekatan birokratis. Itu saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-8154470358700238640?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/8154470358700238640/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=8154470358700238640' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/8154470358700238640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/8154470358700238640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2009/04/ujian-tak-perlu-nasional.html' title='Ujian (tak perlu) Nasional'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-192291275405867325</id><published>2009-03-03T11:14:00.002+08:00</published><updated>2009-03-03T11:31:51.417+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Banyak Nama</title><content type='html'>Saat ini, hampir tak ada ruas jalan yang bebas dari spanduk, baligo dan foto-foto caleg. Tak kebayang berapa banyak nama dan wajah yang harus dihapal, sebagai bagian dari persiapan pemilu. Ini dengan asumsi, pemilih memang ingin tahu lebih banyak tentang calon mereka. Kalau yang cuek aja, rasanya banyak nama dan gambar ini seperti mengganggu hak mereka untuk mendapatkan suasana nyaman saat di jalan. Apakah para pemilik nama dan gambar ini sadar? Kalau saya di tempat mereka, rasanya jawabn kami serupa. Tak ada pilihan lain. Untuk dikenal, promosi standar seperti ini menjadi pilihan terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak selalu harus negatif melihat itu. Paling tidak, bagi mereka yang mencari nama anak, akan banyak referensi nama tanpa harus membeli buku nama-nama muslim atau nama-nama bagus untuk bayi mereka. Atau paling tidak, mereka akan tahu nama-nama yang tidak baik untuk anak mereka kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin setelah pemilu ini akan ada yang membuat buku kumpulan nama-nama untuk bayi, yang bahannya diambil dari nama-nama caleg di banyak ruas jalan. Siapa tahu ada yang berminat...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-192291275405867325?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/192291275405867325/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=192291275405867325' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/192291275405867325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/192291275405867325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2009/03/banyak-nama.html' title='Banyak Nama'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-2801032380796725101</id><published>2008-12-04T15:27:00.002+08:00</published><updated>2008-12-04T15:44:21.913+08:00</updated><title type='text'>Pemuda</title><content type='html'>Hari ini saya membawakan materi dalam sebuah acara yang diadakan oleh Dinas yang berhubungan dengan pemuda. Nama ini disingkat dengan sangat baik, DISPORA, Dinas Pemuda dan Olahraga. Entah mungkin maksudnya hanya pemuda yang wajib berolahraga atau karena atlet-atlet yang ada saat ini adalah pemuda. Jangan tanya kenapa namanya bukan Dinas pemuda dan pemudi. Untuk yang terakhir, saya tak tahu juga alasannya apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Undangan saya terima kemarin, tepatnya sms dan telpon. Undangan resminya tak saya terima. Petugas pengantar undangan katanya sedang sibuk dan banyak urusan, makanya undangan untuk saya tak bisa diantar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya diminta membawakan materi tentang negotiation skills. Sebuah materi klasik sebenarnya. Saya tak tahu apa relevansi materi ini, terlebih lagi tema besar pelatihan ini juga tak saya ketahui. Yang pasti, demi menjaga nama baik seorang kawan, saya iyakan saya dan menerima undangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh yah, acara ini diadakan di sebuah hotel bintang lima di Makassar. Hotel lama yang direnovasi dan berganti nama. Mewah betul hotel ini, begitu pikirku ketika tiba di lobby hotel. Saya tiba jam 8, takut terlambat karena undangannya jam 9. Tapi hingga pukul 8.45, tidak ada konfirmasi dari panitia dan juga ternyata ruangan yang kemarin diberitahukan kepada saya ternyata dipindahkan. Tahu ruangan apa yang akhirnya dipakai, sebuah ruangan besar bernama presidential suite. Wuih...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saaat masuk ruangan, baru 5 orang peserta yang hadir, dari sekitar 40-an yang terdaftar. Maka kami pun menunggu peserta yang lain. Setelaha sekian lama, satu per satu dari  mereka pun hadir, yang sayangnya, banyak dari mereka yang jujur saja, tak bisa lagi dikategorikan pemuda. Entahlah, ketegorisasi pemuda di negeri ini memang unik. hampir semua organisasi pemuda, yang resmi dan memiliki sekretariat yang dibiayai negara, dipimpin oleh mereka yang tak layak lagi disebut pemuda. Atau kalau toh pemuda, entah indikator apa yang kemudian dipakai untuk mentasbihkan kategori ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu semua, acara ini jauh dari harapan, paling tidak itu yang tergambar dari sesi yang saya ikuti. Ada kesan acara ini hanyalah upaya menghabiskan anggaran di tengah tuntutan kepada pemerintah daerah untuk segera menghabiskan anggaran 2008. Belum lagi dalam beberapa kesempatan, fasilitator yang tak lain pegawai dari Diaspora selalu mengingatkan bahwa peserta yang tidak hadir tidak akan mendapatkan penggantian biaya trasnportasi dan konsumsi. Model-model (yang dibawa bank dunia dan lembaga-lembaga asing) seperti ini telah lama dikeluhkan merusak social capital yang ada di masyarakat. Tak ada lagi yang dengan tulus menghadiri acara-acara sosial tanpa penggantian biaya trasnportasi. Kalo sekedar mengganti trasnport sebenarnya tidak ada masalah. Parahnya, banyak yang kemudian menjadikan ini ibarat proyek bisnis, untuk tidak menyebtunya sebagai profesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model-model pelatihan ala Pemda ini pun tidak pernah berubah dari dekade yang lalu. Seelain selalu diadakan di hotel-hotel mewah, target psertanya pun ternyata tidak jelas. Beberapa diantara peserta ternyata hanya keluarga beberapa pegawai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak katakan menyesal. Malah saya berharap materi yang saya bawakan itu bermanfaat, dan paling tidak membantu. Tapi jika model seperti ini terus dipertahankan, maka berapa banyak lagi anggaran negara yang terbuang percuma tanpa tujuan yang jelas. Meski secara hukum tentu hal ini tidak dilanggar, tapi esensi dan hakikat (wuih, keren juga bahasa ini) dari pelatihan itu sendiri bakal tidak maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalo mau model yang lain, mau seperti apa? Nah, itu yang masih harus dicari lagi. Tapi bukan berarti tidak ada alternatif lain, kan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-2801032380796725101?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/2801032380796725101/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=2801032380796725101' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/2801032380796725101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/2801032380796725101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/12/pemuda.html' title='Pemuda'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-625279163913561065</id><published>2008-12-01T13:38:00.002+08:00</published><updated>2008-12-01T14:33:25.078+08:00</updated><title type='text'>Gratis itu Artinya Bayar</title><content type='html'>Hari itu saya bersama istri membawa anak kami ke rumah sakit. Bukan karena anak kami sedang sakit, tapi karena ia masih luput imunisasi Hepatitis dan polio. Sudah coba kami bawa ke Puskesmas dan Posyandu, tapi dokter dan perawat di sana agak takut memberikannya. Menurut mereka vaksin itu sudah diberikan saat kami di Inggris beberapa waktu lalu. Meski, dari dokter di sana, mereka malah menganjurkan kami mengambilnya di sini. Akhirnya terpikirlah kemudian untuk ke rumah sakit Wahidin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan ke rumah sakit, ada dua baligo besar yang kami lewati. Pesannya, pemerintah daerah kini punya program kesehatan gratis. Saya tak tahu dalam batas mana biaya kesehatan ini menjadi gratis. Ini karena baligo itu tidak mengandung informasi tambahan lainnya, selain foto gubernur dan wakilnya terpampang besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tiba di rumah sakit, ternyata kami harus bayar sejumlah 26 ribu rupiah. Padahal ada poster besar di dalam poli anak itu yang menyebutkan vaksin untuk imunisasi bisa diperoleh gratis. Saat diminta kuitansinya, staf bagian poli anak tersebut tak bisa memberikan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak ingin terlibat lebih jauh dengan staf ini. Apalagi dia pula yang kemudian mengambil tugas mengurusi anak saya. Singkat cerita, ia pun berkonsultasi dengan dokter, dan rupanya, tak ada vaksin Hepatitis. Yang ada cuma vaksin polio. Sang dokter merekomendasikan beberapa nama kawannya berpraktek sebagai alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin rasanya menagih kembali duit yang sudah bayar itu. meski jumlahnya tak seberapa, tak puas aja rasanya dengan jawaban sang staf. Belum lagi perlakuan terhadap pasien yang lain. Beberapa pasien mengeluhkan hal yang sama. Ada yang sudah jauh-jauh dari Sinjai untuk pengobatan sang anak, tapi mendapatkan pelayanan yang sangat tidak membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, iklan-iklan layanan sosial dari pemda itu harus lebih jelas dan informatif. Tampang wajah gubernur dan wakilnya, yang tidak percaya diri, lebih baik diganti dengan informasi tambahan mengenai batas mana pasien bisa mendapatkan pelayanan gratis. Ini agar kesehatan yang menjadi hak dasar warga negara betul-betul dijalankan dengan sepenuh hati.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-625279163913561065?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/625279163913561065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=625279163913561065' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/625279163913561065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/625279163913561065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/12/gratis-itu-artinya-bayar.html' title='Gratis itu Artinya Bayar'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-2642856091833446319</id><published>2008-11-05T00:31:00.003+08:00</published><updated>2008-11-05T00:51:14.907+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi'/><title type='text'>Miskin</title><content type='html'>Membicarakan kemiskinan memang selalu lebih menarik jika dilakukan di ruangan yang berpendingin. Apalagi ditemani soft drink dengan merek global, yang nilai asetnya masih jauh berlipat-lipat ketimbang beberapa negara digabung sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wakil dari perusahaan-perusahaan hadir disini untuk berbagi kisah tentang betapa dermawannya mereka. Ada perusahaan kertas yang dengan bangga mengklaim diri sebagai perusahaan peduli lingkungan. Di lain kesempatan, ada pula perusahaan rokok yang menjadi kampiun dalam kompetisi perusahaan yang paling bertanggung jawab terhadap masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjam-jam duduk di ruangan dingin ini membuatku jadi bertanya, apa betul orang-orang miskin itu tahu bahwa mereka sekarang jadi pusat perhatian? Atau mereka hanya dijadikan obyek, either dari pemerintah atau pengusaha yang serakah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Bangkok, saya pura-pura menjadi orang yang tak miskin, seperti yang lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-2642856091833446319?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/2642856091833446319/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=2642856091833446319' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/2642856091833446319'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/2642856091833446319'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/11/miskin.html' title='Miskin'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-8321293843531927843</id><published>2008-10-15T07:16:00.004+08:00</published><updated>2008-10-15T07:54:49.122+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi'/><title type='text'>Serial Pamitan</title><content type='html'>Tinggal berbilang hari kami akan meninggalkan kota ini. Tak ingin ada yang terlupa, pamitan kepada tetangga kami cicil setiap hari di pekan terakhir ini. Semalam saya ke tempat Martin, orang yang selalu namanya ada dalam tulisan di blog ini. Tetangga ini salah seorang yang terdekat dengan kami. Meski ia selalu mengaku kesulitan untuk melafalkan nama kami dalam sentuhan yang lebih "Indonesia". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martin pula salah seorang yang terunik yang kutemui selama lebih dua tahun di sini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sampai harus "cuti" sore ini dari kerja rutinnya. Sebagai loper koran gratis, ia memiliki jadwal tetap pagi dan sore untuk mengedarkan koran city council dan koran iklan ke rumah-rumah di sekitar wilayah Roman Way. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu ia kemudian (kembali) bercerita tentang pengalaman hidupnya. Dirampok saat mencari kerja di Jerman, merasakan panas yang sangat saat di Amerika, dan juga menerima tindakan rasis saat berada di kampung halaman, Irlandia. Ujungnya, ia menjadi loper koran di Birmingham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelar topik soal pengalaman "jadul" pribadi, topik beranjak pada masalah aktual, krisis keuangan global. Ia tak habis pikir, si Gordon Brown memutuskan untuk mem-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;bail out&lt;/span&gt; bank-bank besar yang ada di Inggris. Tentu, dengan duit pemerintah yang berasal dari duit pajak dan juga utang luar negeri. Sebagai pembayar pajak, meski ia akui pajak yang dibayarnya tak ada apa-apanya dibanding Beckham atau Sir Alan Sugar, tapi tetap saja ia tak rela duitnya dihamburkan untuk sesuatu yang dalam istilahnya ia sebut sebagai "membiakkan kapitalisme".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi itukan pilihan terburuk dari yang ada. Kalau tidak, bisa kolaps sistem keuangan di negaramu ini", begitu kataku. Dengan sigap iya menjawab. Iya, tapi tetap saja tak bisa diterima. Kalau perusahaan rugi, itu resiko bisnis. Kalo harga saham mereka anjlok, masak saya yang harus nanggung semua? Salah mereka sendiri, mau terlibat dalam 'dunia spekulasi' yang kejam namun tak mau jadi korban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ingin mengganti topik lain, ia kemudian berujar, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"It doesnt really matter anyway, I dont have any bank account"&lt;/span&gt;. Case closed kalau begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembicaraan kemudian berputar di soal kenangan, dan harapan. Sedih rasanya akan meninggalkan Martin, dan orang-orang baik yang selama ini bersama kami. Tapi begitulah, tahapan hidup ini harus berpindah ke episode baru. Semoga kawan-kawan baik ini selalu terkenang dan mengenang kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum berpisah, ia sempat berharap doa. "Doel, doakan semoga saya menang lotere. Kalau saya menang, akan saya jenguk Rafi di Indonesia". Saya tak tahu harus bilang amin atau tidak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-8321293843531927843?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/8321293843531927843/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=8321293843531927843' title='46 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/8321293843531927843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/8321293843531927843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/10/peramal.html' title='Serial Pamitan'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>46</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-3412706789490531828</id><published>2008-10-09T03:50:00.002+08:00</published><updated>2008-10-09T04:02:22.636+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi'/><title type='text'>Duka</title><content type='html'>Kemarin, saya terima pesan singkat dari seorang kawan. Isinya pendek, mengabarkan berita duka. Pak Wempi, begitu ia sering disapa telah berpulang ke hadirat penciptanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih saya membacanya. Ia adalah kolega, guru, dan juga kawan yang baik, teramat baik, bahkan. Darinya saya banyak belajar. Tak hanya soal ekonomi, tapi juga soal hidup dan beragam pilihannya, termasuk dengan bagaimana menikmatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam aras akademik, dia juga menjadi pioneer, paling tidak begitu anggapan saya. Ia bagi saya adalah orang pertama yang membuat suasana jurusan lebih dinamis dan juga lebih up to date. Ketika dosen-dosen lain masih berkutat dan berbangga dengan beragam buku "tua", ia yang dengan diam berbagi artikel terbaru dan juga buku baru dengan mahasiswanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak waktu yang saya habiskan bersama beliau, meski tak seluruhnya sepadu padan. Kadang ada juga perbedaan dan debat panjang, tapi begitulah, semuanya berjalan baik-baik saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat jalan untuk pak Wempi. Sedih tak bisa hadir di rumah duka, yang juga tak jarang menjadi rumah suka bagi saya dan kawan-kawan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-3412706789490531828?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/3412706789490531828/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=3412706789490531828' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/3412706789490531828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/3412706789490531828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/10/duka.html' title='Duka'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-6531548415941629371</id><published>2008-09-28T17:41:00.003+08:00</published><updated>2008-09-28T20:59:43.886+08:00</updated><title type='text'>Lebaran</title><content type='html'>Selamat Lebaran, Selamat iDOEL Fitri&lt;br /&gt;Mohon maaf lahir dan batin..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-6531548415941629371?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/6531548415941629371/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=6531548415941629371' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6531548415941629371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6531548415941629371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/09/contradiction-in-action.html' title='Lebaran'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-6570718775673044572</id><published>2008-09-15T23:38:00.002+08:00</published><updated>2008-09-16T00:00:59.937+08:00</updated><title type='text'>Nomor Buntut</title><content type='html'>Saat bertemu Martin, salah seorang tetangga di flat, di depan lift, ia langsung bertanya soal nomor keberuntungan saya. "Just give me any number, from 1 to 49", desaknya ketika kujawab saya tak punya nomor tertentu yang jadi lambang keberuntungan. Ia rupanya sedang terburu-buru menuju convinent store di seberang jalan untuk membeli euro million.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kali kedua ia bertanya dengan point yang sama. Sekali waktu saat menikmati cream tea bersama di flatnya, secara tak sengaja ia memakai dua sendok secara bersamaan untuk mengaduk kopi. Baginya, ini sebuah tanda keberuntungan. Maka sontak ia tanya kepada saya mengenai nomor keberuntungan. Kala itu, saya menjawab sekenanya, setelah beberapa kali coba menolak. Esoknya, saya bertemu dengannya, masih dengan penampilan khasnya. Tak ada tanda ia telah menang jutaan poudnsterling seperti yang diharapkannya kala itu. Ia memang memasang taruhan lotere euro million, yang hadiahnya jutaan pounsdterling. Jumlah ini tentu masih jauh lebih banyak ketimbang APBD beberapa daerah di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taruhan dengan beragam macam dan bentuknya memang sangat akrab dengan kehidupan orang Inggris. National Lotere, lotere yang mirip dengan SDSB zaman orba dulu, adalah yang paling favorit. Dengan taruhan 1-5 pound, orang yang pasang pun sangat banyak. Jumlah taruhan ini masih lebih murah ketimbang seporsi fish and chips plus minuman kaleng. Jadi, sekali lagi, menjadi favorit. Mendapatkannya pun tak sulit. Hampir semua toko dan supermarket punya stand lotere ini. Tak ketinggalan, mereka juga punya stand khusus di mall. Sangat &lt;em&gt;affordable&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;reacheable &lt;/em&gt;deh pokoknya. yang khusus taruhan pun tak sedikit jumlahnya. Rumah-rumah taruhan seperti william hill, selalu ramai setiap pekan, bahkan setiap hari. Akhir pekan ramai dengan taruhan bola, sedangkan hari-hari biasa ramai dengan taruhan pacuan kuda atau olahraga-olahraga lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas nama pembiayaan sosial pulalah yang membuat lotere dianggap sebagai sumbangan sosial. Hampir 1/2 dana tim Great Britain untuk mengikuti Olimpiade kemarindi Beijing didapat dari dana lotere. Begitu pula tak terhitung Kastil dan gedung bersejarah Inggris yang direnovasi dan diperbaiki dengan uang 'panas' ini, juga sekolah dan rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal uang panas ini memang diakui sendiri oleh mereka yang beli lotere, termasuk Martin. Ia pernah menang lotere yang jumlahnya 20 pound, jumlah yang masuk kategori jumlah terkecil. Dapat duit sigtiu, abis juga untuk beli rokok, bir dan makanan layak seperti whole chicken dan jacket potato. Ini tak membuatnya kapok, sebab meski kalah, ia tetap saja tak patah semangat. Kalo ini, memang &lt;em&gt;nature&lt;/em&gt;-nya judi dan taruhan, yang bakal membuat orang tak kenal dengan kata berhenti dan kapok. Seorang tetangga yang lain, yang juga rutin membeli lotere setiap minggunya, punya pengalaman yang sama. Hadiah tertinggi yang pernah dimenangkannya adalah 100 pound. Jumlah ini langsung abis untuk membeli rokok, bir dan sepatu. Kapok kah ia? Tak juga. Baginya, ini adalah rutinitas mingguan yang mengasyikkan. Apalagi lotere yang dipasangnya pun tak pernah lebih dari 5 pound/minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu apa Martin menang esok dengan nomor "seadanya" dari saya. Yang pasti, saya berharap kali ini dia tidak dapat lagi. Sebab kalo ia menang, ia berjanji akan memberi saya separuhnya. Bayangkan, separuh dari sejuta poundsterling saja jumlahnya sudah banyak sekali, ini tentu masalah. Masalah lainnya, saya tentu tak punya cukup kenekatan untuk menolaknya....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-6570718775673044572?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/6570718775673044572/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=6570718775673044572' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6570718775673044572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6570718775673044572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/09/nomor-buntut.html' title='Nomor Buntut'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-4291386123493701646</id><published>2008-09-06T21:45:00.002+08:00</published><updated>2008-09-06T22:14:57.330+08:00</updated><title type='text'>Terima Kasih</title><content type='html'>Pekan ini adalah pekan sibuk bagi banyak mahasiswa, khususnya postgraduate students. Deadline untuk submit disertasi tinggal berbilang hari. Saat di kantor administrasi siang kemarin, beberapa kawan telah mengumpulkan disertasi mereka. Selain disertasi, banyak dari teman-teman yang juga menitipkan 'oleh-oleh' kepada supervisor dan beberapa professor melalui kantor akademik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makanya, meja utama di kantor tersebut penuh dengan beragam titipan. Kebanyakan terbungkus dengan kertas khas mandarin. Memang, hadiah-hadiah itu kebanyakan dari mahasiswa asal Cina. Salah seorang kawan bercerita bahwa itu adalah tanda terima kasih mereka kepada supervisor. Beberapa dari mereka juga bermurah hati dengan menyisihkan 'tanda terima kasih' kepada pegawai akademik yang ada di kantor itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, disinilah yang kemudian menimbulkan perbedaan persepsi. Seorang pegawai akademik yang akrab dengan saya bercerita bahwa pimpinan universitas tegas melarang dosen dan staf menerima pemberian dari mahasiswa. Terlebih lagi jika ada kaitannya dengan kegiatan akademik. Lagipula, itu agak diluar mainstream kultur mereka untuk menerima pemberian. Makanya, hampir semua pemberian-pmebrian itu disimpan saja di atas meja atau dipajang di kantor akademik. Tak ada yang dibawa pulang. Itulah mengapa meja utama itu tak pernah sepi dari makanan khas dari berbagai negara dan juga cokelat beraneka rasa. Siapa pun bisa menikmatinya. Ruangan kantor pun tak ubahnya seperti galeri. Beragam lukisan mini dan cenderamata khas asia menempel di dinding. Jangan tanya soal gantungan kunci, banyak macam dan jumlahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di lain sisi, kawan-kawan dari Asia itu tentu tak pernah bermaksud untuk menyogok, atau apalah namanya. Paling tidak, begitu kata teman Cina saya yang turut memberi tanda terima kasih pada siang itu. Kalau toh memang niat awalnya untuk mempengaruhi keputusan akademik, itu sih sudah keterlaluan. Baginya, itu tak lebih dari tanda terima kasih atas bantuan dan bimbingan yang selama ini mereka terima. Tidak memberikan hadiah, takutnya mereka akan dicap tak tahu terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repot juga pikirku. Pihak kampus tentu tak enak hati menolak pemberian-pemberian yang bejibun itu. Apalagi 65% mahasiswa asing di Inggris berasal dari Cina. Jumlah yang sangat signifikan bagi universitas-universitas disini yang sangat bergantung dari tuition fee mahasiswa asing. Tentu, ini terlepas dari faktor integritas dan kemerdekaan berakademik. Ini tak berarti pula meyederhanakan soal pendidikan dan kaitannya dengan kultur mahasiswa asing. Tapi ketika jumlah signifikan yang berbicara, perbedaan sekecil apapun tentu harus dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks yang lain, konon, tingkat kelulusan di Inggris bagi mahasiswa asing membuahkan simalakama bagi dosen-dosen di universitas. Jika tak diluluskan, dikhawatirkan ini akan berbuntut kepada jumlah pendaftar untuk tahun berikut. Jika diluluskan, tentu akan menurunkan kualitas yang telah lama dijaga. Pernah di koran nasional seorang profesor mengaku frustasi. Mahasiswa yang ia tahu betul tak bisa bercakap, meski untuk percakapan dasar sekalipun, tak pernah bersih dari plagiarism dari setiap assignment-nya, dan tak pernah dikasi lulus olehnya, tiba-tiba telah mendapat gelar master dari universitas. Baginya, ini adalah sebuah penghianatan dan saatnya untuk ditinjau ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal tanda terima kasih tadi, bagi saya pribadi itu memang sedikit bermasalah. Apalagi hadiah-hadiah itu diberikan saat nilai untuk disertasi belum resmi keluar. Betapapun itu dikilahkan sebagai sebuah tanda terima kasih, tetap saja etiketnya terasa ada yang aneh. Lalu, sampai kapan hadiah-hadiah yang diterima ditinggalkan begitu saja di atas meja?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-4291386123493701646?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/4291386123493701646/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=4291386123493701646' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/4291386123493701646'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/4291386123493701646'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/09/terima-kasih.html' title='Terima Kasih'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-9050128280440530412</id><published>2008-09-06T02:36:00.001+08:00</published><updated>2008-09-06T02:38:06.385+08:00</updated><title type='text'>Tarawih</title><content type='html'>Ini ramadhan ketiga saya di sini. Selama itu pula, saya harus mengakui tak pernah sekalipun ikut tarawaih berjamaah di masjid. Ada tiga alasan mengapa ini tejadi. Pertama, karena malas. Kedua, malas dan ketiga karena mesjidnya yang cukup jauh yang membuat saya malas lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itulah, bersama beberapa kawan yang seiman (yang tak pernah ikut tarawihan di masjid) berikrar untuk bertarawih bersama. Hari pertama ramadhan menjadi pilihan, selepas pengajian ruitin masyarakat Indonesia di sini, kami berkumpul bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesjid yang kami tuju adalah mesjid Pakistan. Persepsi kami selama ini terhadap mesjid ini adalah khutbah disampaikan dalam bahasa urdhu dan dalam jangka waktu yang lama. ”Wah, ini mesjid yang pas untuk menguji keimanan kita, paling tidak, puasa kan menuntut kesabaran”, begitu canda seorang kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya pilihan lain bukannya tidak ada. Tapi ketika komunitas muslim di inggris dimayoritasi oleh mereka (Pakistan, India dan Bangladesh), pilihan lain itu menjadi tidak berarti. Yang membuat beda paling cuma jumlah rakaat dan enak tidaknya bacaan sang imam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, kami pun bertarwih. Oh yah, ternyata tidak ada ceramah sebelum tarawih. Entah karena tidak ada khatib, atau karena mereka memang tak perlu selalu diingatkan. Seperti kita di indonesia, dengan sederet ceramah, dan bahkan terkadang dilengkapi dengan segudang sambutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tarawih yang panjang, dalam perjalanan pulang, sang kawan tadi berkomentar lagi. ”Betul-betul kesabaran kita diuji malam ini. Tak hanya 23 rakaat, tapi cara mereka shalat pun berbeda dengan apa yang saya tahu.” Kawan lain menimpali, ”Itu artinya pengetahuan agamamu memang pas-pasan, ha..ha..”. Untung dua imam yang bergantian memimpin jamaah bacaanya enak didengar dan perlu. Paling tidak, itulah yang membuat betah meski semalam tarawih mereka menghabiskan bacaan dua juz. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal perbedaan melaksanakan tarawih ini, kemudian menjadi perbincangan panjang. Soal panjang bacaan, soal lama rukuk, juga soal qunut dan witir. ”Yang penting itu tidak berarti kalian akan berhenti pergi tarawih berjamaah”, kata kawan lain coba mem-bijak. Betul juga. Apalagi latar belakang budaya yang berbeda tentu saja melahirkan produk budaya yang berbeda. Perbedaan mazhab tentu berujung pada perbedaan eksekusi ibadah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, mengapa memaksa mereka, atau tepatnya berharap orang-orang Pakistan itu bersembahyang seperti sembahyangnya orang-orang di istiqlal juga tak elok. Tak boleh ada yang memonopoli kebenaran. Yang masalah jika kemudian ada yang sok berkuasa dan memaksakan kebenaran itu, dengan kekerasan, bahkan. Lagian, kita yang numpang shalat di mesjid mereka, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, namanya juga tarawih kesabaran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-9050128280440530412?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/9050128280440530412/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=9050128280440530412' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/9050128280440530412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/9050128280440530412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/09/tarawih.html' title='Tarawih'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-2611913972728558000</id><published>2008-08-31T07:26:00.003+08:00</published><updated>2008-08-31T07:32:43.600+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi'/><title type='text'>Selamat yang tak jelas</title><content type='html'>Saya tak tahu, masihkah ada gunanya menulis ucapan selamat puasa. Tak jelas betul ditujukan buat siapa. Saya sekali lagi tak tahu, masihkah ada gunanya menulis ucapan selamat. Inbox penuh dengan kutipan kata-kata mutiara dan religius, yang takutnya malah kehilangan arti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas cuma satu, yang empunya blog ini seklipun tak pernah kembali mengisi jatah halaman gratis dari blogger. Tapi mungkin ada saja yang dengan sadar atau celaka membaca halaman ini, maka untuk mereka ucapan selamat puasa tentu tak mengapa. Kalau tak puasa? Tak apa, tetap kita butuh puasa. Puasa dari segala yang tak baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat puasa, semoga kita tak sekadar 'mendadak religius' di Ramadhan kali ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-2611913972728558000?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/2611913972728558000/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=2611913972728558000' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/2611913972728558000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/2611913972728558000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/08/selamat-yang-tak-jelas.html' title='Selamat yang tak jelas'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-5547100186579294236</id><published>2008-06-29T20:37:00.000+08:00</published><updated>2008-06-29T20:38:10.203+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Setelah Pesta Berakhir</title><content type='html'>Piala Eropa akhirnya kelar juga. Sebuah pesta sepakbola dengan banyak kejutan. Satau hal yang pasti, terima kasih karena Inggris akhirnya tidak lolos ke Swiss dan Austria. Entah bagaimana nasib perhelatan ini jika mereka turut serta. Gerrard sendiri mengakui, bahwa orang Inggris, media Inggris, serta komentatotr an politisinya selalu berbicara berlebihan akan diri mereka. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"We talked ourselves up too much",&lt;/span&gt; begitu katanya ketika mereka ditekuk Jerman pada piala Eropa sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menonton banyak acara olahraga selama di sini. Tak seperti di Indonesia, ketika sepakbola menjadi satu-satunya tontonan favorit. Ada rugby, golf, tennis, cricket, renang, atletik dan dart, yang ternyata juga menjadi bagian dari olahraga dunia. Terbukti, semua olahrag itu punya piala dunia masing-masing. Tapi tentu saja, cuma sepakbola yang menjadi tontonan paling menarik bagiku. Bahkan konser &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Coldplay&lt;/span&gt; di BBC Three tak cukup mencuri perhatianku untuk mengalihkan pandangan dari pertandingan perdelapan final di BBC one.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke piala Eropa, tim jagoan saya Portugal tak berhasil mencapai puncak dengan generasi emasnya. Mereka toh tak bisa berkutik ketika dihadapkan pada tim dengan mental juara yang kental seperti Jerman. Tapi sekali lagi, tak mengapa. Saya akhirnya terhibur dengan Turki, yang semua orang seperti sepakat menjadikannya tim paling hebat. Mereka begitu mencintai apa yang mereka lakukan, hingga ungkapan klise bahwa pertandingan baru usai ketika peluit panjang berbunyi seperti mendapatkan momentumnya. Seorang kawan punya komentar sendiri mengenai tim Turki ini. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Andaikan Presiden Indonesia seperti Fatih Terim, tentu kita tidak butuh tentara untuk bicara soal negara. Andaikan pemuda Indonesia seperti para pemain Turki, kita tidak pernah merasa malu meskipun mungkin tidak juara",&lt;/span&gt; begitu katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tim paling sial siapa lagi jika bukan France. Mereka seperti sekumpulan hantu yang tak jelas ingin membuat tim lawan takut atau terbahak. Mereka perlu ganti generasi, dan yang tua, tak lagi mengambil jatah generasi baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, pesta akbar itu telah berakhir. Kita yang hanya menyaksikan lewat layar tivi telah menjadi saksi betapa kameramen dan produser tivi telah membuat sebuah dunia baru bagi kita. Merekalah yang kemudian membangun cerita dan drama bagi kita. Tapi sekali lagi tak mengapa, toh mereka telah menghibur dan menemani waktu saya melewati petang dengan beragam drama. Setelah pesta ini usai, hidup harus kembali lagi. Tentu, tidak dengan meninggikan diri berlebihan seperti pesan Gerrard.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-5547100186579294236?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/5547100186579294236/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=5547100186579294236' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5547100186579294236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5547100186579294236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/06/setelah-pesta-berakhir.html' title='Setelah Pesta Berakhir'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-8239688483960800059</id><published>2008-06-22T06:32:00.004+08:00</published><updated>2008-06-22T07:40:37.935+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Bohemian Manifesto</title><content type='html'>Banyak cara yang dipilih orang untuk mengekspresikan perasaan, entah itu sedih, gembira, marah atau tanpa rasa sekalipun. Saat larangan membawa minuman beralkohol di dalam tube (kereta bawah tanah) di London akan diberlakukan, malam sebelum larangan itu berlaku, hampir seluruh penumpang membawa kaleng bir atau botol vodka. Tak sedikit yang mengutuk larangan itu, namun yang biasa-biasa saja dan gembira bukannya tak banyak. Beberapa stasiun akhirnya ditutup. Tak perlu menjadi ahli kriminal untuk tahu sebabnya. Minuman keras dan kegaduhan, bedanya tak lebih dari tinggi kaleng bir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga saat tim Glasgow Rangers takluk dalam final piala Uefa. Kota Manchester seperti menjadi kota yang habis dijarah dan diporak-porandakan oleh suporter yang tak terima kekalahan tim mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana dengan orang-orang yang memilih telanjang sebagai ekspresi perasaan mereka? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, selepas dari Guild of student membeli kopi dan cemilan, saya melewati tower clock dan gedung pusat administrasi menuju library. Clock tower ini seperti Big Ben London modelnya, tapi dengan terowongan yang dapat dilalui kendaraan di bawahnya. Ia bangunan tunggal dengan tinggi menjulang yang terpisah dari gedung pusat administrasi, sebagai penanda dan khas kampus kami. Sejarah dan info lengkap, ada &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Joseph_Chamberlain_Memorial_Clock_Tower"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;disini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa meter dari clock tower, 6 orang mahasiswa berkumpul, dua diantaranya adalah wanita. Mereka seperti mendiskusikan sesuatu. Mereka berselonjor bebas di taman. Hal yang lumrah di tengah musim panas seperti ini. Bagi mereka (orang lokal), sengatan matahari adalah berkah. Tapi bagi mereka yang berasal dari kawasan tropik, itu adalah bencana. Bencana karena panasnya yang berbeda dan lebih terasa kering, dan juga bencana pada mata. Kok mata? Tak perlu penjelasan untuk pernyataan ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke sekelompok mahasiswa itu. Tiba-tiba semua mereka berlari menuju clock tower. Dan tanpa komando, satu-satu mereka melepas pakaian. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Literally&lt;/span&gt;, mereka melepas semua pakaian, dan tak menyisakan sehelai benang pun (maaf, ini mengingatkan saya pada "bacaan-bacaan nakal" saat sekolah dulu). Ekspresi wajah mereka tampak gembira, dan tak ada beban. Dengan sorak-sorai mereka berlari mengelilingi clock tower, seperti ingin memafhumkan semua orang bahwa mereka bisa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak tahu apa alasan mereka. Apakah itu bagian dari kampanye dan protes atas kebijakan atau sekedar sebuah eskpresi kegembiraan, sebutlah sebagai exhibitionist belaka. Hari jumat kemarin memang adalah hari pengumuman untuk mahasiswa undergraduate. Mungkin mereka lulus, dan semua mereka pernah ber-nazar untuk melakukan itu. Entahlah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi mahasiswa-mahasiswa itu tak bertahan lama. Petugas keamanan segera menghampiri mereka dan sejurus kemudian mereka kembali "normal".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenapa memilih ber-primitif ria? Sejarah memang banyak menunjukkan kepada kita bahwa tak berbusana adalah salah bentuk ekspresi paling berpengaruh. Setidaknya itu bisa disimpulkan dari banyaknya kampanye-kampanye &lt;span style="font-style:italic;"&gt;civil society organizations&lt;/span&gt;. Kita masih ingat Agustus 2007 ketika Greenpeace mengumpulkan ratusan orang telanjang di sungai es Swiss. Cancer research di Inggris pernah juga melakukan kampanye penyadaran soal bahaya kanker, dengan dua volunteer rela tak berbusana di tengah kota sambil membagikan brosur dan aneka pesan. Semua itu ada maksud dan target yang jelas. Lain soal dengan cara mereka, yang bagi banyak orang tentu dianggap tak patut secara moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi mikir, jangan-jangan saya terkucil dari pengetahuan bahwa menjadi bohemian dalam tataran tertentu, adalah cara terbaik memunculkan diri di permukaan, seperti mereka dengan aksi sekilas yang kemudian menjadi bahan perbincangan hampir semua orang di kampus. Ah, aneh-aneh saja...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-8239688483960800059?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/8239688483960800059/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=8239688483960800059' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/8239688483960800059'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/8239688483960800059'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/06/bohemian-manifesto.html' title='Bohemian Manifesto'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-6290125738235896638</id><published>2008-06-20T07:36:00.002+08:00</published><updated>2008-06-20T07:52:13.844+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>DVD</title><content type='html'>"Hi mate, do you sell DVD?" Ditanya begitu saya jadi kaget. Saat antri di toilet mall di city center pagi tadi, seseorang tiba-tiba mendekatiku sambil mengucapkan pertanyaan tadi. Saya tentu saja jawab tak punya, sambil menekankan bahwa saya tak menjual kalau pun ada. Emang tampang saya kayak penjual DVD? Dan pasti, DVD yang ia maksud adalah DVD bajakan. Kalau yang ori, tentu ia tak perlu menghabiskan waktu di toilet umum sambil berharap ada penjaja DVD yang asli. Duh, jauh-jauh kesini saya tak perlulah jualan DVD untuk sekedar bertahan hidup, apalagi DVD bajakan dengan genre yang satu itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisnis ilegal ini memang marak di sini. Di tengah harga DVD original yang relatif mahal, teramat mahal bahkan. Untuk new release, kisaran harganya bisa 12 pound lebih. Yang paling murah, itu pun jika ada sale season, kisarannya 3-5 pound. Nah, dari cerita teman, pelanggan DVD bajakan, denga harga sale sekalipun, ia merasa masih kemahalan. DVD bajakan yang kebanyakan dari Cina dan India itulah jadi tumpuan. Murah, meriah dan membuat sumringah. Soal kualitas, jangan terlalu berharap. Tapi jika beruntung, kadang malah serasa menonton tipi dengan format H-D.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, soal tampang penjualnya gimana, saya sendiri penasaran. Saya merasa tak begitu percaya diri memiliki tampang penjual DVD bajakan. Mungkin apa karena saya membawa tas ransel yang lumayan gede. Dari ukurannya, tas saya bisa memuat lebih dari 50 DVD, he..he.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan urusan toilet, saya lihat orang tadi masih ada di depan pintu masuk. Saya menghampirinya dan berkata, "Kalo ketemu teman saya, akan saya sampaikan bahwa ada yang cari DVD di sini. Asal kau mau bersabar menunggu".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-6290125738235896638?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/6290125738235896638/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=6290125738235896638' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6290125738235896638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6290125738235896638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/06/dvd.html' title='DVD'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-5348957033748159635</id><published>2008-06-09T06:45:00.003+08:00</published><updated>2008-06-09T07:19:09.821+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Maen Bola Lagi yuk..</title><content type='html'>Lima tahun lalu, Carlos A Pareira, pelatih Brasil, negara penghasil banyak talenta bola sepak itu pernah berkata, masa depan formasi sepakbola adalah 4-6-0. Tidak akan ada lagi striker murni. Torres di Liverpool dan Adebayor di Arsenal mungkin akan kita temukan posisinya di tengah, saat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;line up&lt;/span&gt; tim diumumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang pernah menyangka, teknologi dimanfaatkan sedemikian rupa untuk sepakbola. Tapi kini, wasit pun memakai perlengkapan komunikasi untuk bercakap denga sejawat di pinggir lapangan dan dua wasit pembantu di setiap sisi lapangan. Melihat mereka, seperti melihat Britney Spears dan Justin Timberlake yang memakai microphone lengket di pipi karena akan bergoyang pinggul di panggung sehingga mike statis tentu jadi tak pas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu hanyalah sedikit contoh tentang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;radicalism&lt;/span&gt; yang melekat dalam perjalanan sejarah sepakbola. Tak semua upaya itu berujung pada kemaslahatan umat. Radikalisasi sepakbola dalam wujud bisnisnya telah mengubah permainan rakyat ini menjadi lebih tercabut dari akarnya (suporter) dan menjadi sebuah produk serupa minuman ringan berkarbonasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lupakanlah analisis mendalam tentang pengaruh korporasi itu dalam sepakbola. Seperti yang lain, tentu ini saat tepat untuk menikmati hidup, sejenak saja tak apa. Euro 2008 sudah dimulai. Prediksi Carlos di atas belum juga terwujud, dan syukurnya, kita masih bisa lihat aksi striker murni beradu taktik dan speed dengan pemain belakang lawan. Tapi soal gol, sepakbola modern tak lagi ramah dengan skor banyak. Begitu ramalan saya, yang tak perlu disimpan rapi dalam box dan dijaga oleh tim keamanan hanya untuk bikin sensasi tak lucu. Tak perlu jugalah ada pakar yang sok ngurus semua urusan negeri, dari urusan foto telanjang hingga lagu kebangsaan yang menanggapi tebakan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yunani, juara bertahan hanya mendapat sedikit peminat pada pasar taruhan William Hill di dekat rumah. Pemain-pemain Inggris pada menikmati liburan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;summer&lt;/span&gt; mereka, dan tim Jerman tampil lebih percaya diri kali ini. Soal juara? Saya berharap Portugal. Pertandingan pertama mereka sungguh nyaman ditonton. Meski Ronaldo masih sering &lt;span style="font-style:italic;"&gt;show off&lt;/span&gt; dan menjengkelkan, tapi saya butuh juara baru. Ini sama kondisinya dengan kebosanan saya terhadap Man UTD, Liverpool, Arsenal yang merajai Premier League. Setara pula dengan keengganan untuk mensupport Inter-Milan, Roma, dan Juve untuk memungkasi Serie A liga Itali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Euro 2008, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;who will you support&lt;/span&gt;?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-5348957033748159635?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/5348957033748159635/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=5348957033748159635' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5348957033748159635'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5348957033748159635'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/06/maen-bola-lagi-yuk.html' title='Maen Bola Lagi yuk..'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-6787555767747366230</id><published>2008-05-17T03:00:00.000+08:00</published><updated>2008-05-17T03:01:30.454+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>PSM Inc.</title><content type='html'>Walikota Makassar yang juga ketua umum PSM mengisyaratkan untuk mengubah PSM menjadi PT atau perseroan terbatas, (Tribun-timur online, 23/04/08). Ini isyarat yang membahagiakan sekaligus menyimpan kekhawatiran jika dilaksanakan ‘sekenanya’. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama dimanjakan dengan supply APBD, memang sudah seharusnya PSM dan klub-klub liga Indonesia lainnya berpikir untuk mandiri. Niatan untuk mandiri ini tidak hanya agar menjadi sebuah organisasi yang betul-betul professional namun juga karena subsidi dari APBD itu sendiri melanggar asas kepatutan dan menafikan kepentingan masyarakat yang jauh lebih penting. Selama ini, PSM memang hanya ‘seolah-olah’ professional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftarnya bisa panjang jika kita ingin mengurai betapa tidak positifnya milyaran rupiah dana masyarakat di APBD yang telah dikeluarkan bertahun-tahun itu dipakai hanya untuk sebuah klub sepakbola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 miliar rupiah dana APBD Makassar dan 1 milliar APBD provinsi yang disuntikkan ke PSM untuk musim ini sekali lagi adalah bukti betapa skala prioritas tidak pernah menjadi frame dalam kebijakan publik. Alasan yang selalu didengungkan adalah bahwa PSM merupakan kebanggaan masyarakat Sul-sel dan sepakbola adalah olahraga paling menghibur masyarakat banyak. Sebuah alasan yang mencederai logika dan akal sehat di tengah kemiskinan, gizi buruk dan himpitan hidup berkepanjangan masyarakat. Apalagi yang namanya olahraga bukan hanya sepakbola dan PSM. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggung jawab APBD terhadap olahraga adalah dalam konteks pembinaan, dan bukannya pengelolaan. Ini yang coba dicampur adukan oleh pengurus dan manajemen kebanyakan klub sepakbola di Indonesia. Pengelolaan (yang amburadul) selalu diklaim sebagai sebuah bagian dari pembinaan. Parahnya lagi, amburadul dan tidak profesionallnya klub-klub ini justru mengambil contoh dari PSSI sebagai induk organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan seperti sebuah keputusan yang dianggap wajar, secara otomatis kepala-kepala daerah yang dana APBD-nya digunakan sekaligus merangkap sebagai ketua umum klub sepakbola. Tak perlu belajar ilmu bisnis dan kepemimpinan untuk tahu bahwa dengan dua jabatan ini akhirnya malah tak ada yang optimal dijalankan. Konsekuensinya, dan ini yang lebih parah, klub-klub sepakbola ini secara langsung maupun tidak langsung dijadikan alat untuk mencapai kepentingan politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ketika keinginan untuk menjadikan PSM sebagai sebuah organisasi bisnis dilontarkan, kita harus mendukungnya. Ada beberapa alasan mengapa ini kemudian menjadi isyarat membahagiakan. Pertama, pengelolaan PSM selanjutnya akan lebih profesional. Tidak ada lagi tiket gratisan yang dibagikan kepada dinas-dinas atau jajaran pemda, hanya karena APBD digunakan oleh klub. Jika ini alasannya, bukankah yang lebih berhak mendapat tiket gratis adalah masyarakat yang notabene memiliki hak tertinggi dalam penggunaan APBD?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tidak ada lagi orang-orang amatir yang sekedar mengambil manfaat dari PSM sebagai batu loncatan untuk pencapaian politis. Ketiga, proses pembinaan akan menjadi fokus utama, sebagai bagian dari pengembangan sumber daya. Keempat, profesionalisme yang diharapkan akan diikuti sikap transparan dan akuntabilitas sebagai prasayarat utama perusahaan terbuka. Ringkasnya, berubahnya PSM diharapkan akan turut menghapuskan budaya ”whateverism” yang selama ini lama menjagkiti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan bukannya tidak ada. Klub sepakbola, meski telah menjadi entitas bisnis sekalipun memiliki target yang berbeda dengan perusahaan, sebagai misal. Prestasi mengkilat di laporan keuangan tak akan berarti apa-apa tanpa prestasi di lapangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Berbasis Suporter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa pilihan yang bisa jadi bahan pertimbangan. Jika mengacu kepada liga-liga profesional di negara-negara maju, menurut Allen (2006) pilihan itu bisa terbagi ke dalam empat bentuk dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kepemilikan berbasis suporter. FC Barcelona sebagai salah satu tim terbaik di Eropa adalah contoh untuk bentuk ini. Kedua, klub yang dimiliki oleh taipan, Chelsea kita tahu dimiliki oleh Roman Abramovich, salah seorang dalam deretan manusia terkaya sejagat. AC Milan juga bisa kita masukkan didalam kategori klub yang dimiliki oleh seorang milyuner dan politikus. Ketiga, klub yang berbasis pasar modal. Keempat, klub yang dimiliki oleh konsorsium, dengan saham yang tidak dijual bebas di pasar modal seperti Arsenal yang dimiliki konglomerat dari Inggris, Rusia maupun timur tengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal bagaimana bentuk yang pas bagi PSM, biarlah menjadi bahan bahasan tim manajemen saat ini. Tulisan ini hanya memberi masukan agar posisi suporter tak hanya sebagai penyorak dalam pertandingan. Mereka haruslah mendapat tempat dalam manajemen klub. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelibatan suporter ini tentu saja diandasi oleh semangat demokrasi. Demokratisasi seharusnya juga menjadi roh sepakbola. Semangat mutualisasi, jika boleh kita sebutnya seperti itu, haruslah menjadi jiwa dan roh dalam menjalankan PSM. Mutual berarti kepemilikan bersama, yang tentu saja berbeda dengan perusahaan. Mutual berarti dimiliki oleh suporter (costumer) sedangkan perusahaan dimiliki oleh pemegang saham (shareholder). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berbasis suporter seperti inilah maka klub akan terhindarkan dari upaya menjadikannya sebagai sapi perah dengan keuntungan berlimpah. Suporter dapat mendesakkan berbagai upaya. Upaya-upaya yang bisa dilakukan diantaranya adalah menentukan batasan maksimum jumlah deviden yang dibayarkan kepada pemilik saham, keterlibatan suporter dalam menentukan kebijakan yang sifatnya strategis seperti harga tiket masuk yang lebih terjangkau namun tidak merugikan posisi keuangan klub. Ringkasnya, keterlibatan suporter menjamin terlaksananya good club governance yang menekankan trasparansi dan akuntabilitas.  &lt;br /&gt;Mengubah PSM menjadi sebuah perseroan terbatas adalah upaya mulia yang perlu didukung. Namun tentu saja, dibutuhkan pembahasan lebih jauh dan kebesaran hati untuk tidak sekedar menjadikan bisnis sebagai nakoda utama perjalanan proses ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bisnis yang menjadi tujuan utama, berarti kita harus bersiap kehilangan pertandingan indah dan hiburan menyegarkan. Seperti yang pernah dikatakan Aime Jacquet, mantan pelatih kesebelasan Perancis. Menurutnya, jika sisi bisnis pertandingan sepakbola menjadi lebih penting ketimbang pertandingan itu sendiri, maka sebernanya sepakbola tidak lagi eksis. Bersiapkah kita?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-6787555767747366230?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/6787555767747366230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=6787555767747366230' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6787555767747366230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6787555767747366230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/05/psm-inc.html' title='PSM Inc.'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-539463642994052148</id><published>2008-05-11T15:49:00.005+08:00</published><updated>2008-05-11T16:55:24.514+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Dari Surga</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SCat8ffiNyI/AAAAAAAAAro/srE_osAOlBM/s1600-h/ngantuk.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp3.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SCat8ffiNyI/AAAAAAAAAro/srE_osAOlBM/s320/ngantuk.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5199034074603337506" /&gt;&lt;/a&gt;Masih soal bayi, tepatnya Rafi. Banyak sekali yang bisa dicerita soal dia, maklum namanya juga masih dalam sindrom first baby excitement. Umurnya sudah seminggu, dan sekarang beratnya sudah bertambah 200 gram sejak pertama ia lahir. Kata tetangga saya, ia akan tumbuh menjadi besar, lebih dari bapak dan ibunya. Tentu saja, dan semoga saja, begitulah harapan kami. Selain kuat makan, ia juga kuat nangis. Sejurus dengan kuat makannya, kuat pula ia untuk urusan buang hajat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terbayang rasanya bagaimana mengurus dia jika hanya mengandalkan tenaga kami berdua. Apalagi saya harus membagi pikiran untuk mempersiapkan diri menghadapi final exams. Untunglah, kami memiliki keluarga se-flat dan juga tetangga yang sangat baik hati. Kepada mereka kami berharap ada jeda waktu untuk sekedar istirahat dan melakukan hal-hal lain. Sang tetangga ini saban pagi mampir ke flat, sekedar berbagi kabar dengan Rafi. Seperti cucu sendiri, setiap hari dibelinya pakaian atau mainan untuk si kecil. "Saya tak bisa menahan diri untuk tak membelikan sesuatu buat Rafi", begitu alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada mereka juga saya dan istri banyak belajar. Hal-hal kecil namun berarti serupa cara memandikan bayi, mengganti nappies, breast feeding, dan lain-lain. Untuk urusan beajar ini, kami memang sudah sejak lama berusaha cari info seputar kehamilan dan bayi. Informasi dari situs-situs di internet menjadi tambahan pengetahuan bagi kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong soal pengetahuan baru, kemarin saat belajar di salah satu library di kampus, saya kemudian tertarik pada satu rak besar di samping rak buku-buku bisnis. Rak itu isinya semua tentang anak. Banyak buku-buku menarik di sana. Ada "Children are from heaven", "Parenting skills", serta buku-buku ber-genre "how to" lainnya. Saya sangat tertarik dan merasa ini penting untuk dibaca. Mungkin setelah ujian kelar, buku-buku itu harus juga masuk dalam library list.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang menjadi perhatian saya selama proses hamil dan bersalinnya istri saya. Keterlibatan laki-laki, entah itu sebagai suami atau sekedar pasangan (disini, tak keren tuh menyebut suami sebagai husband, my partner, begitu kebanyakan yang berlaku sama untuk istri). Mulai dari hal kecil seperti menciptakan suasana yang positif hingga membantu proses persalinan. Saya juga dilibatkan dalam parenting class saat di rumah sakit. Ringkasnya, sosok lelaki dan pasangan disini tak lagi sekedar sosok cemas yang mondar-mandir di depan pintu sambil terus berharap mendengar tangis bayi dari dalam ruangan. Setelah bayinya lahir, senang seketika. urusan menjaga dan membereskan popok bayi menjadi urusan ibu dan neneknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas bahwa isu kesetaraan gender dan feminisme yang masih menjadi perdebatan dan tetap saja masih ada yang coba memperdebatkannya, tapi menurut saya kesadaran seperti ini harus juga disebarkan. Ini tidak kemudian masuk pada wilayah perdebatan ideologis dengan bahasa-bahasa sulit itu, tapi sekedar sebagai sebuah wacana job description semata. Ini juga tidak berarti bahwa peranan lelaki selama ini hanya melulu menanti hasil. Yang pasti, ini adalah sebuah proses untuk lebih menghargai anak dan masa depannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk yang seperti ini, tak perlulah menunggu fatwa MUI untuk sekedar mencari tahu bahwa ada tugas lelaki juga disana. Apalagi MUI sekarang lebih senang ngurusin aliran sesat dan memancing kemarahan ketimbang membantu umat keluar dari perangkap kemiskinan dan pengaruh sinetron jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang yang lahir dari lingkungan yang sangat "lelaki", tentu saya tak bisa begitu saja menganggap ini sebagai sesuatu yang mudah. Apalagi ego sebagai kepala rumah tangga juga tak pupus dari pandangan sempit dan dangkal. Tapi namanya juga usaha dan belajar. Ada naik turunnya, ada juga lebar sempitnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki katanya dari Mars, dan Venus adalah tempat asal wanita. Tapi anak-anak adalah makhluk surga, yang harus dijaga oleh lelaki dari mars dan wanita dari venus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-539463642994052148?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/539463642994052148/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=539463642994052148' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/539463642994052148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/539463642994052148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/05/dari-surga.html' title='Dari Surga'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SCat8ffiNyI/AAAAAAAAAro/srE_osAOlBM/s72-c/ngantuk.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-435740540316964942</id><published>2008-05-03T16:01:00.002+08:00</published><updated>2008-05-03T16:15:13.530+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>2 Mei</title><content type='html'>Birmingham Women Hospital, pukul 23.59, Junior, biasa kami memanggilnya, lahir juga. Sekarang ia sudah punya nama (ia minta untuk dirahasiakan dulu sampai ibunya pulih benar). 3,5 Kg dia punya berat. 50,5 cm panjangnya. What a relief..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-435740540316964942?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/435740540316964942/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=435740540316964942' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/435740540316964942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/435740540316964942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/05/2-mei.html' title='2 Mei'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-873518220904773790</id><published>2008-04-20T23:20:00.002+08:00</published><updated>2008-04-20T23:22:46.084+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Apa kata bintang</title><content type='html'>Sore tadi saya bersama &lt;a href="http://www.penikmatmusim.blogspot.com/"&gt;istri&lt;/a&gt; menyaksikan sebuah acara kuis di tipi. Namanya All star Mr and Mrs, seperti judul film yang dibintangi oleh seseorang yang mirip saya, Brad Pitt dan seorang lain yang tak mirip saya, Jolie, sang istri.  Ini kuis yang katanya menguji pengetahuan seseorang terhadap pasangannya. Pertanyaan mulai dari yang ’ringan’ serupa apa makanan favorit pasangan, warna pakaian paling disukai hingga toko kelontongan mana tempat pasangan sering berbelanja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edisi ini ada tiga pasangan yang diuji sejauh mana mereka sudah berbagi cerita dan ke-favorit-an. Mereka semua (katanya) selebriti atau mantan selebriti. Tak ada yang saya kenal. Tapi bukan itu yang penting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sesi final, tinggal sepasang yang tersisa. ketika muncul pertanyaan apa zodiak pasangan Anda? Bapak tua yang ditanya kelihatan bingung dan mencoba menebak. Telihat dia sedang berusaha menghafal bintang-bintang versi tabloid dan koran itu. ”Taurus” dan ternyata jawaban itu benar. Itu pulalah yang disampaikan sang istri saat suaminya di karantina dalam ruang kecil tembus pandang dengan mata ditutup dan telinga disumbat. Ah, saya jadi ingat sebuah kuis serupa yang pernah ada di tipi indonesia. Saya lupa namanya, tapi kadar kemiripannya tinggi saya pikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, istri saya tiba-tiba bertanya ”Apa coba zodiak saya?”. Ditanya seperti itu saya jadi bingung. Saya cuma tahu tanggal dan tahun lahirnya. Soal bintang, zodiak atau apa pun itu namanya, saya tak pernah menaruh minat luar biasa. 1 juli itu masuk taurus, neptunus atau sagitarius, saya jujur tak tahu. Istri saya tak begitu saja terima jawaban sekenanya dari saya. ”ini soal perhatian atau tidak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh, soal bintang ini membawa kita kepada soal perhatian atau tidak. Tapi apakah zodiak ini sebenarnya? Saya penasaran aja kenapa ia menjadi sesuatu yang diburu dan selalu dicari. Ia bahkan bisa menjadi halaman perdana yang dibuka pembaca saat membeli majalah atau koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu soal ini sebab saya pernah kerja di sebuah koran lokal dan ’mengasuh’ rubrik zodiak. Tapi tunggu dulu, pernah mengasuh rubrik zodiak tapi tak tahu kalo 1 juli itu masuk zodiak apa, sungguh sebuah keterlaluan yang luar biasa, kan? Iya, itu memang keterlaluan, tapi dude, bukankah tadi sudah kusampaikan saya tak menaruh minat luar biasa untuk urusan yang satu ini? Meski saya tahu bahwa zodiak ini adalah semua razi bintang di sepanjang garis imajiner di atas langit, tapi masa iya ini menjadi penentu berhasil atau berjodoh tidaknya seseorang. Itulah mengapa saya tak hapal siapa aja yang masuk di kelompok sagitarius maupun ta(k)urus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam mengolah rubrik ini, saya punya semacam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;template&lt;/span&gt;, yang biasa kugunakan sebagai bahan dasar siap olah. Setiap hari template ini terdiri dari penjelasan mengenai tiap-tiap bintang beserta ’bumbu’nya. ’Rezeki hari ini’, ’jodoh’, ’keuangan’, tiga item ini rasanya jadi favorit banyak orang. Saya kemudian mengolahnya dan ditambahi sekedarnya. Karena frekeuensinya yang harian, saya kemudian mengambil jalan pintas untuk mempertahankan rubrik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih mencari template baru untuk bahasan bintang terbaru, saya kemudian dengan kreatifnya menukar atau mengganti penjelasan taurus, misalnya, menjadi penjelasan aries. Begitu pula sebaliknya, meski dengan sedikit perubahan yang tidak begitu berarti. Saking malasnya, kadang malah penjelasan ini sama setiap hari, meski nama bintangnya beda. Bagi mereka yang tiap hari memelototi rubrik ini, pasti mereka berterima kasih, bahwa ramaan bintang mereka tetap baik-baik saja. Tak tega rasanya menulis bahwa hari ini keuangan anda terganggu. Pun sama tak seudinya membuat orang sedih hanya gara-gara ramalan bintangnya berbicara tentang kesulitan mendapatkan pasangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, zodiak ini telah menjadi penyelaras hidup banyak orang di tengah beragam himpitan. Meski jelas-jelas harga minyak masih tinggi, harga sembako yang naik, serta politikus bangsa yang makin lama makin busuk, kita masih bisa bersenyum ria karena kata ramalan bintang akan ada kejutan kuangan minggu ini. Apa kata ramalan bintang Anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-873518220904773790?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/873518220904773790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=873518220904773790' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/873518220904773790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/873518220904773790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/04/apa-kata-bintang.html' title='Apa kata bintang'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-254209514318327126</id><published>2008-04-05T03:52:00.003+08:00</published><updated>2008-04-05T04:00:31.483+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Lelucon</title><content type='html'>Entah mengapa pejabat-pejabat sekarang suka membuat lelucon yang tidak-tidak. Setelah hampir semua orang penting menonton film ayat-ayat lelaki, ups.. ayat-ayat cinta, sekarang giliran cd dan rok yang akan digembok. Atas nama penghindaran terhadap hal-hal yang tidak diinginkan, begitu salah satu alasan yang muncul. Lelucon terbaru, youtube akan dilarang di Indonesia setelah situs itu menayangkan film Fitna. Ah, selalu saja cara sederhana dan tidak cerdas ini yang dikedepankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sekarang ada yang telah menemukan formula baru tentang hubungan lelucon dan harga minyak goreng yang makin dikeluhkan ibu saya. Makanya, mereka rame-rame membuat lelucon serupa Aming dan Komeng. Berhasilkah? Luapan lumpur yang makin meluas, antrian orang-orang di pom bensin, serta makin tingginya tingkat pengangguran mungkin bisa menjadi jawabnya. Setidaknya kita tak perlu bertanya kepada rumput yang tak lagi bergoyang..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-254209514318327126?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/254209514318327126/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=254209514318327126' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/254209514318327126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/254209514318327126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/04/lelucon.html' title='Lelucon'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-6624755331710776018</id><published>2008-03-25T08:18:00.004+08:00</published><updated>2008-03-25T08:30:16.167+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Pemandangan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/R-hHhicYxpI/AAAAAAAAAiM/sZMGqGC83gc/s1600-h/bbq.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/R-hHhicYxpI/AAAAAAAAAiM/sZMGqGC83gc/s400/bbq.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181470012796880530" /&gt;&lt;/a&gt; Alhamdulillah acara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;barbeque party&lt;/span&gt; kemarin lancar, meski ramalan BBC menyatakan bahwa hari itu akan hujan bercampur salju. Meski tak percaya, tiba-tiba saya merindukan sosok pawang hujan, kalo perlu cari pawang salju. Tapi untunglah, kali ini &lt;span style="font-style:italic;"&gt;weather forecast&lt;/span&gt; BBC sedikit melenceng. Walau sempat turun salju selama satu menit (iya, cuma semenit), setelah itu cerah kembali mewarnai langit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama student dan masyarakat Indonesia lainnya yang ada di Birmingham, kami bakar-bakar sate ayam, ikan dan kambing. Lumayanlah, untuk sekedar mengobati kenangan terhadap makanan-makanan indo yang sejak lama tak tersantapi. Pengalaman soal makanan indo ini juga yang menjadi pengalaman saat mengawal kehamilan &lt;a href="http://penikmatmusim.blogspot.com/"&gt;istri&lt;/a&gt;. Mulai dari sekedar jagung bakar, coto, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hingga putu cangkiri&lt;/span&gt;, kue khas daerah yang memang menggoda selera itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke acara BBQ, bagian yang paling seru tak lain adalah sesi untuk anak-anak. Lomba mewarnai dan menggambar, ini yang paling layak dilaksanakan, takut jika mereka terlalu banyak di luar ruangan dengan udara dingin yang cukup menusuk. Yang menarik, tak ada satupun gambar mereka yang khas gambar anak-anak Indonesia, meski mereka semua masih orang Indonesia asli dan paling tidak pernah ke Indonesia. Khas? yah, saya ingat ketika kecil kami &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(ah, yang benar, saya)&lt;/span&gt; selalu menggambar dengan pola yang hampir seragam, gunung dengan matahari di tengahnya, burung-burung yang menggambarnya cukup dengan menulis huruf 'W' dengan terbalik. Ada juga sawah dan sepetak jalan di tengahnya. Jalannya ini bisa berliuk kadang juga lurus menuju ke tepi gunung. Sesekali saya tak lupa memberi tiang listrik di tepi jalan dan garis terputus-putus pada bagian tengah jalan. Bu guru mengkategorikan gambar ini dalam klasifikasi gambar pemandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, gambar anak-anak siang itu lebih didominasi oleh gambar robot dan boneka-bonekaan. Instruksi kepada mereka memang menggambar dengan tema bebas. Meski begitu, saya berharap ada yang menggambar pemandangan. Tapi yah, robot dan boneka panda yang muncul. Saya lalu menyebutnya realis dan futuristik, ini mungkin cara aman dan "seenaknya" untuk mendefinisikan gambar-gambar itu. Realis karena begitulah, tak ada sawah dan gunung yang mereka saksikan disini. Tak ada tiang listrik, juga tak ada pohon pisang. Futuris, robot itu yang menjadi bahan tunjuk. Benar-benar seenaknya dan sekenanya, kan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membandingkan jaman saya dengan jaman mereka tentu tak patut. Sekarang saja, saya tak yakin jika anak-anak Indonesia masih menggambar pemandangan seperti pola seragam yang saya miliki. Apalagi memang tak ada lagi sawah dan gunung yang bisa digambar. Kalau tak tertutup lumpur dan banjir, pasti sudah berubah menjadi ruko atau mall. Tiang-tiang listrik sudah tak ada, berganti menara seluler perusahaan-perusahaan telekomunikasi yang tak berhenti membodoh-bodohi konsumennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lalu berpikir untuk menggambar lagi "pemandangan" seperti tahun-tahun pertama saya di taman kanak-kanak. Tapi kali ini saya akan menambahnya dengan robot dan boneka panda yang asyik menikmati buah pisang di tepi sawah yag letaknya tak jauh dari lereng gunung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar-benar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(un)realistic&lt;/span&gt; dan futuristik...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-6624755331710776018?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/6624755331710776018/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=6624755331710776018' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6624755331710776018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6624755331710776018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/03/pemandangan.html' title='Pemandangan'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/R-hHhicYxpI/AAAAAAAAAiM/sZMGqGC83gc/s72-c/bbq.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-2910647397093956152</id><published>2008-03-19T00:12:00.002+08:00</published><updated>2008-03-19T00:16:12.807+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Hak</title><content type='html'>Apa yang akan Anda lakukan jika menemukan &lt;a href="http://na.blackberry.com/eng/devices/device-detail.jsp?navId=H0,C101,P203"&gt;blackberry 8100&lt;/a&gt;? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin, saat membunuh waktu menanti jadwal kereta yang masih sejam lagi, saya bersama seorang kawan bersepakat ke toko buku. Di lantai 2 tempat buku-buku &lt;em&gt;second hand&lt;/em&gt; dijajakan, saya menemukan blackberry 8100. &lt;em&gt;Handphone&lt;/em&gt; pintar ini tergolek di dekat deretan buku-buku musik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun memutuskan untuk menunggu setengah jam sampai pemilik handphone ini menyadari bahwa barang berharga miliknya ini terlupa. Sambil menunggu, pikiran saya dipenuhi oleh saran-saran bejat dan bijak. Berhalo-halo dan mengecek email dengan blackberry, tentu luar biasa gayanya. Apalagi tak harus keluar duit hingga ratusan pound untuk memilikinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sisi lain pikiran mengingatkan petuah lama, bahwa mengambil barang yang bukan hak adalah tercela. Bersiap pulalah untuk kehilangan yang lebih besar kelak. Perasaan senada ternyata dirasakan juga oleh kawan saya itu. Baginya, blakcberry ini adalah pengganti untuk handphone butut miliknya, yang kadang membuat iba orang yang melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ternyata tak cukup waktu untuk bijak dan bejat ini berdiskusi. Kami pun memutuskan untuk menyerahkan ke kasir barang panas ini. Sambil berterima kasih, sang kasir berujar kaget bahwa kami mau mengembalikan barang sebagus blackberry ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan menuju stasiun, saya berkata kepada kawan, kita memang tak jadi mengambil blackberry ini, tapi itu tak berarti kebajikan telah memenangkan pertarungan. Mungkin soal kami tak tahu menggunakannya saja yang membuat cemas. &lt;em&gt;Syukurlah, ternyata kami masih pandai menghibur diri..&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-2910647397093956152?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/2910647397093956152/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=2910647397093956152' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/2910647397093956152'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/2910647397093956152'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/03/hak.html' title='Hak'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-7559703548904065545</id><published>2008-03-13T19:33:00.004+08:00</published><updated>2008-03-13T19:43:20.906+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Presiden</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/R9kTDU_i_aI/AAAAAAAAAh0/bN3dgoi5ecE/s1600-h/kampanye.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/R9kTDU_i_aI/AAAAAAAAAh0/bN3dgoi5ecE/s200/kampanye.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5177190194534874530" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Harry si "Viking" itu memang akhirnya tidak terpilih dalam pemilihan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;president guild of student.&lt;/span&gt; Tapi dari seluruh kandidat, ia yang paling banyak dibicarakan. Atas nama inovasi, ia kemudian berjanji untuk menjadikan minuman di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;guild&lt;/span&gt; dijual lebih murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, sesuatu yang sederhana kadang malah lebih memikat, meski tak melulu keluar sebagai kampiun. Tak seperti kebanyakan kampanye yang selalu mengajak kita bermimpi ke awan tanpa pernah sadar bahwa kaki haruslah tetap bepijak di bumi. Sesuatu yang besar-besar selalu menjadi perhatian utama, tanpa sadar bahwa yang besar itu berbangun dari hal yang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bush pernah berjanji untuk menciptakan kedamaian di muka bumi ini. Brown tak luput pula untuk memberantas korupsi dan terorisme sekaligus. SBY tak kurang janjinya untuk menuntaskan kemiskinan. Hasilnya? Si presiden Amerika itu masih terus memelihara hobinya untuk berperang, meski masa jabatannya sebentar lagi paripurna. Pengganti Tony Blair kebakaran jenggot ketika partainya ternayata bermasalah dengan kasus suap dan korupsi. Yang terakhir, mantan tentara itu ternyata asyik saja bersafari kemana-mana ketika ada rakyatnya yang kebanjiran air dan lumpur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harry, andai saja engkau menang dan jadi presiden...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-7559703548904065545?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/7559703548904065545/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=7559703548904065545' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/7559703548904065545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/7559703548904065545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/03/presiden.html' title='Presiden'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/R9kTDU_i_aI/AAAAAAAAAh0/bN3dgoi5ecE/s72-c/kampanye.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-8923749530049298567</id><published>2008-03-11T01:05:00.002+08:00</published><updated>2008-03-11T04:19:04.318+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Analisa Tak Bermutu</title><content type='html'>Kegagalan tim Indonesia dalam &lt;strong&gt;All England&lt;/strong&gt; kali ini sudah kami duga sebenarnya. Seperti tahun lalu, tak banyak dari kami yang membeli tiket pertandingan untuk partai Final. Bukannya tak optimis, tapi berdasar fakta dan sedikit pemikiran ekonomis, akhirnya kami hanya memfokuskan menonton pada partai perempat final belaka. Ini dengan asumsi yang valid, bahwa level inilah langkah terjauh kebanyakan pemain Indonesia di segala nomor. Asumsi kami tak salah, meski ada yang meleset, bahkan nomor ganda campuran tembus hingga Final. Jujur, saya berharap bahwa tebakan kami salah, dan akhirnya ada pemain Indonesia yang berhasil keluar sebagai juara setelah lama negeri ini paceklik gelar di bulutangkis, cabang olahrag yang menjadi andalan, dulunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suporter Indonesia tahun ini lebih banyak ketimbang tahun lalu. Meski jika dibandingkan dengan suporter Malaysia, Korea atau Denmark, jumlah kita masih seiprit. Jangan pula dibandingkan dengan suporter Cina dan tuan rumah England. Meski begitu, ribut dan sorak-sorai tetap saja bikin suasana hidup. Bahkan sempat tribun tempat kami berkumpul didatangi security, yang entah dengan alasan apa. Mungkin ada yang gatal tangannya memakai kamera yang jelas-jelas sudah dilarang untuk menghargai &lt;em&gt;license.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Banyak konspirasi yang kemudian timbul dari saya, dan juga teman-teman penonton lainnya, yang dari Indonesia tentu. Kritik terbesar saya adalah bahwa tidak ada semangat juang luar biasa dari mereka. Begitu gampang menyerah dan mungkin juga malah meng-under estimated lawan. Ada pula yang menyatakan bahwa ini taktik lama tim Indonesia aja. Kalah di Birmingham agar lawan menganggap enteng saat piala Thomas dan Uber Cup Mei mendatang di Jakarta. Jika itu benar, saya tak tahu apa taktik ini masuk akal atau malah mencederai logika di tengah minim gelar tim Indonesia di ajang All England sejak beberapa tahun terakhir. Soal gaya hidup tak lepas juga dari perbincangan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa mencapai gelar tertinggi jika asupan gizi tidak menjadi perhatian serius. Saya tak tahu apa ini memang pembiaran atau memang tidak ada upaya untuk sekedar memperhatikan faktor satu ini. Di tengah modernisasi dunia olahraga dan juga sistem olah tubuh, gizi tentu menjadi faktor yang tidak bisa dianggap enteng. Sepakbola menjadi contoh bagaimana asupan gizi pemain menjadi faktor kunci keberhasilan tim. Tak hanya dalam hal hasil akhir pertandingan, tapi juga untuk kepentingan jangka panjang tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit rasanya membayangkan atlet akan maksimal prestasinya dengan hanya mengkonsumsi indomie dan juga &lt;em&gt;junk food&lt;/em&gt; lainnya. Soal selera mungkin tak banyak cocok dengan makanan disini, tapi membiarkan atlet makan makanan seperti ini sebelum bertanding dan saat bertanding, tentu ada yang salah dengan pengurus olahraga ini. Saya sempat mampir di beberapa kamar atlet di hotel tempat mereka nginap, dan indomie seperti barang wajib sebagai bekal. Indonesia bukan sekali ini ikut All England, dan kunjungan mereka ke Birmingham bukanlah kali pertama. Singkatnya, ada yang "lupa" belajar dari pengalaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang lain lagi, masih dalam lingkup gaya hidup sebagai sorotan. Belum juga pertandingan dimulai, hal yang paling dicari oleh mayoritas atlet Indonesia adalah tempat hiburan dan belanja. Saya tentu bisa saja terjebak pada sikap generalisasi yang berlebihan, apalagi memang ada juga atlet yang tampil seperti atlet yang ”seharusnya”. Atlet baik ini terpaksa saya ”tenggelamkan” untuk menggambarkan keadaan lainnya. Belanja dan hiburan, satu sisi ini tak luar biasa amat, apalagi jika mengunjungi tempat baru. Tapi tujuan mereka kesini kan bertanding, bukan berpelesir dan sekadar study tour. Jika pertandingan kelar dan masih ada waktu, &lt;em&gt;you’re more than welcome.&lt;/em&gt; Apalagi jika mereka kemudian berhasil menjadi kampiun. Tapi, dengan segala hormat terhadap latihan mereka dan juga kerja pelatih, berbelanja dini tentu saja bisa memecah konsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah pertandingan, memang akhirnya mereka semua berbelanja. Saya tak sempat menemani mereka, cuma dari cerita-cerita teman-teman, belanjaan mereka sudah seperti kalangan jet set Inggris yang tak ada beban untuk menghabiskan lebih dari 60 pound uang untuk sekedar alas kaki. Tak berhenti sampai disitu, produk &lt;em&gt;fashion&lt;/em&gt; dan garmen lainnya juga menjadi incaran. Sadar merek juga mereka rupanya. Apalagi status atlet terkenal tentu mengharuskan mereka untuk tampil berbeda dan tentu saja bergaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, saya tak ada urusan dengan gaya hidup dan belanja. Sebulan yang lalu saya juga diminta menemani pengusaha Indonesia yang datang ke Birmingham untuk mengikuti pameran. Selain minta dicarikan tempat makan yang menyediakan nasi, belanja parfum yang harganya diluar akal sehat anak-anak penerima beasiswa, rombongan ini juga minta dicarikan tempat &lt;em&gt;striptease&lt;/em&gt;. Parahnya, yang dicari tempat striptease dengan penari berkulit hitam. Selain rasis, permintaan itu memang sudah keliru sejak awalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke pemain Indonesia, tak sekedar belanja, casino juga menjadi tujuan menghibur diri. Mungkin sebagai pelarian dari kekalahan. Tapi toh, tetap saja ada yang tak sreg. Dimana letak ketidak sreg an itu? Tahun lalu, menpora berjanji untuk menganggarkan 20-25 milyar rupiah untuk PBSI sendiri. Entah segitu jumlah pastinya di APBN atau tidak, yang jelas duit rakyat jelas terpakai untuk mengirim mereka ke sini. Memang, sebagian atlet ada yang memang kaya, khususnya atlet senior dan bintang iklan produk seperti Yonex. Apalagi jika pernah menjadi juara di turnamen seri dunia. Menghabiskan duit tak ada salahnya buat mereka. Tapi Ronaldo, Kaka, dan Beckham, tidak langsung berfoya-foya begitu rupa setelah mereka terkenal. Mereka tetap latihan keras dan tetap sedih jika tak juara. Yang lebih parah, tak hanya pemain, pengurus pun ada juga yang ber-casino ria di tengah kekalahan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;”Habis-habisin duit rakyat aja”,&lt;/em&gt; begitu kata salah seorang teman. Apalagi ada informasi bahwa uang saku mereka selama seminggu disini masih jauh lebih besar dari beasiswa yang kami terima untuk hidup sebulan. Sekali lagi, ini terlepas apakah mereka diberi performance fee atau duit lain dari sponsor. Kekalahan mereka itu sakit dan menyedihkan bagi kami, penonton yang haus gelar. Tapi menghabiskan duit rakyat tentu jauh lebih menyakitkan. Tentu, tak ada permintaan untuk meratapi kekalahan dan kemudian hanyut di dalamnya. Tapi mbok yah, saatnya introspeksi dan mencoba memperbaiki kelemahan. Jika memang rasa ”nyaman” untuk lupa belajar pada pengalaman ini sulit untuk dihilangkan, maka tidak ada pilihan lagi selain sabar. Ah, kalo ini, kata ustad surga balasannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB: Diberi judul sekenanya, juga takut apa ini sekedar curhat karena sirik...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-8923749530049298567?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/8923749530049298567/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=8923749530049298567' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/8923749530049298567'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/8923749530049298567'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/03/analisa-usil.html' title='Analisa Tak Bermutu'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-955288071264097229</id><published>2008-03-02T09:07:00.000+08:00</published><updated>2008-03-02T09:08:34.987+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Sejenak</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Ujian akhir &lt;i style=""&gt;term&lt;/i&gt; pertama telah selesai. Lega sekali rasanya. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Untuk merayakannya, teman-teman pun mengajak ke Gun Barrel, pub langganan kami yang letaknya tak jauh dari gedung sekolah. Pub ini sudah seperti library aja rasanya. Tak jarang diskusi kelompok kami dilaksanakan disini. Jika penat, ada dua meja bilyar dan beberapa Xbox yang siap menghibur. Bagi yang percaya keberuntungan, ada dua &lt;i style=""&gt;fruit machine&lt;/i&gt; di pojok ruangan. Meski namanya menyegarkan dan menjanjikan kebugaran, &lt;i style=""&gt;fruit machine&lt;/i&gt; tak lebih dari mesin poker lainnya. Dengan model satu pound, berharaplah dapat jackpot.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kembali soal ajakan teman, tak enak rasanya menolak, apalagi sudah terdesak. Baiklah, kataku, tapi tak boleh lama sebab tidur panjang telah terjadwal dengan rapi. Masih ada pula daftar panjang film yang harus segera ditonton, hasil download-an istri tersayang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya memesan segelas coke serta &lt;i style=""&gt;fish and chips,&lt;/i&gt; pesanan favorit saya. Bukan favorit benar sesungguhnya, sebab utamanya karena tak ada menu lain yang “bisa” saya pesan selain dua itu. Pub ini memang sedia burger, pizza dan aneka makanan lainnya. Namun, sepengetahuan saya, cuma ikan yang tak meragukan kehalalannya untuk dimakan. Apalagi tidak ada &lt;i style=""&gt;sign&lt;/i&gt; halal di depan pub. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Oh yah, kelompok saya ini terdiri dari lima orang dengan beragam latar belakang. Saya seorang dari Indonesia, empat lainnya berasal dari Jordania, Inggris, Canada dan Rusia. Mereka selau tahu bahwa saya tak bisa menikmati &lt;i style=""&gt;carlsberg, heineken, stella artois&lt;/i&gt; atau &lt;i style=""&gt;cobra&lt;/i&gt;, minuman favorit mereka. Tapi terakhir, mereka sedikit ”protes”, kok Muhammad, si Jordania itu bisa dengan senang hati menuntaskan dua pint &lt;i style=""&gt;stella artois&lt;/i&gt; sementara saya tetap tak tahan untuk mencium baunya sekalipun. Mereka seperti meragukan alasan sebagai muslim untuk tidak minum bir yang sering saya lontarkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya katakan pada mereka, saya ini bukan seorang yang alim dan belum pula menjadi muslim yang baik. Sangat jauh rasanya untuk sampai tahap seperti itu. Saya katakan saja bahwa saya memang tidak bisa, dan tidak bisa. Kalau toh Muhammad memilih untuk minum, itu pilihannya. Penjelasan seperti ini tentu tak cukup, dan jauh dari memadai. Tapi itu penting ketimbang menjawab yang berakibat pertanyaan baru bermunculan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Muhammad sendiri yang jadi bahan perbincangan hanya tersenyum. &lt;i style=""&gt;”Hey, u know, the future belongs not to the East or the West but to those who are trans-culturally competent”&lt;/i&gt;, begitu jawabnya sambil terbahak dengan sangat. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Kami pun ikut terbahak. Ah, rupanya ia masih ingat module &lt;i style=""&gt;knowledge management&lt;/i&gt; kemarin. Apa yang ia katakan persis sama dengan apa yang ditekankan oleh Trompenaars, seorang konsultan bisnis internasional dalam bukunya &lt;i style=""&gt;Riding the waves of culture&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Saya lalu tanya, apa kaitannya itu dengan minum bir? ”Ini bagian dari upaya saya untuk lebih membaur dan tidak membatasi diri terhadap nilai dan &lt;i style=""&gt;culture&lt;/i&gt; yang berbeda”. Sebagai seorang &lt;i style=""&gt;entrepreneur&lt;/i&gt;, ini tentu modal besar menuju kesuksesan, begitu ia percaya. Saya sebenarnya ingin protes, kurang sreg dengan jawabannya, dan menganggap analogi yang ia paparkan itu tidak menyentuh hal yang esensi dari kalimat diatas. &lt;i style=""&gt;Trans-culturally&lt;/i&gt; tak berarti memperbandingkan jeruk dan tiang listrik. Apa yang disampaikan Muhammad sebenarnya adalah respon terhadap tesis Huntington tentang pertentangan peradaban yang salah satunya bakal timbul antara timur dan barat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Tapi sudahlah, ujian final term sudah cukup menguras isi kepala. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Saatnya untuk sejenak menikmati “libur”. Mungkin bisa pula dipake untuk mengisi blog ini yang makin jarang kukunjungi...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-955288071264097229?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/955288071264097229/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=955288071264097229' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/955288071264097229'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/955288071264097229'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/03/sejenak.html' title='Sejenak'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-1204887370806103113</id><published>2008-02-09T03:47:00.000+08:00</published><updated>2008-02-09T03:49:18.530+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Tahun Baru (lagi)</title><content type='html'>Semalam saya menghadiri sebuah perayaan tahun yang baru atas undangan Singapore society di Birmingham. Acara berlangsung di China town, di sebuah restoran China yang katanya sih salah satu yang terbaik di UK. Tahun baru Cina, ini tahun baru ketiga dalam dua bulan tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The year of rat&lt;/em&gt;, tahun tikus yang penuh keberuntungan, begitu kata tuan rumah. Perjamuan luar biasa, dengan sepuluh macam hidangan. Tak semua tentu yang bisa saya santap, sekedar salmon, udang goreng dan oseng sayur. Selebihnya, meski menggoda selera, tetap tak bisa.&lt;br /&gt;Setiap sajian punya makna tersendiri. Ikan misalnya, menggambarkan kebersamaan dan rezeki yang berlimpah-limpah. Yang lain? Maaf, tak semua berhasil masuk memori saya. Yang pasti, semua menuju satu muara, keberlimpahan rezeki dan kemakmuran. Apa ini yang kemudian membuat Cina, menjadi sebuah negara yang luar biasa saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang kurang dari acara semalam, hanyalah iringan musik yang menyertai perjamuan. Menjadi aneh rasanya bertahun baru Cina dengan iringan Rihanna dengan Umbrellanya dan juga Take That. Atau ini yang namanya globalisasi?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-1204887370806103113?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/1204887370806103113/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=1204887370806103113' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1204887370806103113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1204887370806103113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/02/tahun-baru-lagi.html' title='Tahun Baru (lagi)'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-4639634791986564173</id><published>2008-01-21T08:58:00.000+08:00</published><updated>2008-01-21T09:01:40.518+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Penonton Setia</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kaget juga saya ketika cek di BBC 3 hari ini ada highlight piala Afrika 2008. Luar biasa betul piala Afrika yang dilaksanakan di Ghana ini, rupanya. Belum lama rasanya piala Asia berlangsung, tapi berita tentang hajatan besar bangsa Asia ini tak semeriah warna-warni piala Afrika. Yang teringat jelas terliput oleh media Inggris saat itu hanya Irak yang berhasil keluar sebagai juara di tengah morat-marit kehidupan bangsanya. Selebihnya, tak ada yang luar biasa dalam hal liputan dan pewartaan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Piala Afrika memang berbeda. Selain karena banyak pemain dari benua ini yang merumput di Inggris, kualitas mereka pun tak setara dengan benua coklat, Asia, yang masih dianggap dunia ketiga dalam sepakbola. Meski ini terus diperdebatkan dan coba digugat, termasuk dengan menyentuh lapisan ideologis dari perspektif globalisasi, tetap saja, kita harus akui ketimpangan kelas ini. Akhirnya, tak hanya highlight, siaran langsung hampir seluruh pertandingan piala asia pun disaksikan gratis di Inggris. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Memang ada banyak muka Asia di English Premier League (EPL), dan mereka tak hanya di klub-klub gurem lagi kecil. Tapi kelas mereka hanya kelas pelengkap, kalau tak ingin menyebutnya sebagai pemain cadangan sepanjang musim. Kalau toh ada yang muncul di permukaan, jumlah mereka tak perlu memakai kalkulator untuk menghitungnya. Beda jauh dengan pemain Afrika, yang hampir menjadi pemain kunci dan sangat berpengaruh di klub mereka masing-masing. Drogba, Yakubu, dan beberapa pemain Arsenal meninggalkan sedih bagi manajer mereka. Saking stressnya, banyak manajer klub Inggris yang meminta piala Afrika dipindahkan pelaksanaannya saat summer, saat dimana klub-klub Inggris libur kompetisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tak perlu paham teori konspirasi, kita tentu bisa lihat betapa curangnya juga klub-klub Inggris ini memperlakukan bangsa Asia. Pemain-pemain itu hanya dikontrak untuk meningkatkan pangsa pasar klub Inggris di kawasan dengan pertumbuhan ekonomi paling mencengangkan di dunia ini. Nakata, pemain Jepang yang berpindah dari satu klub Italia ke klub lainnya itu adalah fenomena pertama dan terus jadi bahan perbincangan. Ini kemudian diikuti dengan pemain-pemain lain, yang kaos replikanya diharapkan menutupi bahkan melebihi biaya kontrak, dan kalau bisa membuka pasar bagi cenderamata klub lainnya di negara asalnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Ini pula yang kemudian meningkatkan jumlah suporter ”fanatik” dari klub. Suporter fanatik MU contohnya yang kebanyakan berada di Asia, dengan tingkat pembelian cinderamata yang paling tinggi. Mereka betul-betul fanatik, hingga misalnya memborong seluruh aksesoris berbau MU. Orang Asia yang berada di Inggris pun tak lepas dari ’serangan’ klub-klub sepakbola, hingga kemudian banyak iklan berbahasa Cina yang menjajakan paket tour menonton langsung ke stadium yang umumnya ditujukan bagi mahasiswa Cina di Inggris. Tak jarang mereka juga ikut pertandingan klub favoritnya, dimana pun mereka bertanding. Seperti orang Manchester saja mereka kelihatannya, meski minus teriakan dan nyanyian sepanjang pertandingan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Kefanatikan mereka sebenarnya telah diprotes oleh seporter lokal, yang merasa makin terpinggirkan. Sir Alex ferguson boleh protes bahwa stadion sekarang telah kehilangan roh oleh diamnya suporter dan minimnya teror mental terhadap pemain lawan. Namun ia mungkin lupa, bahwa suporter sepakabola Inggris terbentuk dari kelas pekerja yang setia terhadap permainan menawan dan penuh kerja keras. Tempat mereka, yang biasanya berada di bagian atas stadium, telah tersisih tak saja dengan invasi penonton musiman seperti saya, tapi juga dengan harga tiket yang makin mencederai akal sehat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;Tetangga saya, seorang suporter fanatik Arsenal bahkan telah menganggap gila orang-orang yang membayar tiket seharga 35 – 40 pound untuk sebuah pertandingan klub papan atas EPL. Harga itu bisa melambung lebih tinggi jika klasifikasinya sudah masuk liga champion dan uefa. Ia pun kemudian lebih memilih ke pub, menonton bareng suporter lain dengan harga yang lebih manusiawi, cukup dengan membeli beberapa gelas bir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;EPL, laga paling populer sejagat ini memang tak tertandingi oleh piala Afrika, meski banyak bintang dan bakat disana. Tapi mereka, paling tidak telah berhasil mencuri perhatian. Asia, masih harus sabar untuk menjadi penonton. Atau kelas kita memang cuma segitu?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-4639634791986564173?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/4639634791986564173/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=4639634791986564173' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/4639634791986564173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/4639634791986564173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/01/penonton-setia.html' title='Penonton Setia'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-8652756614724803780</id><published>2008-01-12T19:11:00.000+08:00</published><updated>2008-01-12T19:15:04.725+08:00</updated><title type='text'>Tahun Baru</title><content type='html'>Selamat Tahun baru Hijriyah, 1429 H.&lt;br /&gt;Semoga kita bisa berhijrah ke arah yang lebih baik, dan juga lebih peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Personal New year resolution?&lt;br /&gt;Wah, banyak hal yang harus diperbaiki dalam hal kehidupan beragama ini.&lt;br /&gt;Semoga terus dikuatkan dan dimudahkan. Tapi mau lebih baik kok pengennya mudah aja yah?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-8652756614724803780?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/8652756614724803780/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=8652756614724803780' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/8652756614724803780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/8652756614724803780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/01/tahun-baru.html' title='Tahun Baru'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-3492679174232457476</id><published>2008-01-01T10:22:00.000+08:00</published><updated>2008-01-01T10:24:16.033+08:00</updated><title type='text'>2008</title><content type='html'>New year, new you..&lt;br /&gt;No, thanks..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-3492679174232457476?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/3492679174232457476/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=3492679174232457476' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/3492679174232457476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/3492679174232457476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2008/01/2008.html' title='2008'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-5618688151561102466</id><published>2007-12-25T00:32:00.000+08:00</published><updated>2007-12-25T01:00:48.554+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='catatan sekedarnya'/><title type='text'>Ini soal Ide, Bung</title><content type='html'>Hari ini ada berita menarik dari koran kampus. Seorang mahasiswi tertangkap mata berbohong saat mengatakan dirinya sakit dan tidak bisa masuk kelas. Sang dosen,  entah karena penasaran atau karena facebook maniak,  mendapatkan foto sang mahasiswa sedang asyik berpesta  pada hari saat dia harusnya memaparkan tugas  presentasinya di depan kelas. Facebook pun telah terbukti ampuh untuk menjadi alat deteksi kebohongan,  rupanya. Kepopulerannya pun terihat jelas saat berada di computer cluster, di main library. Tak ada PC yang aktif tanpa ada tab yang membuka facebook di monitornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini hanya sebuah contoh tentang bagaimana facebook,  telah menjadikan 2007 sebagai tahunnya. Tak hanya sekedar social network belaka, tapi facebook telah menjadi sebuah instrumen monumental tentang kekuatan ide dan kesanggupannya memberi materi yang luar biasa banyaknya. Tak percaya? Tanyalah Mark Zuckerberg, CEO Facebook, yang kemudian menjadi CEO termuda dengan kapitalisasi lebih dari milyaran US dollar. Ditaksir Yahoo, Google dan Viacom, tak membuatnya goyah. Facebook kemudian menjadi saingan tersendiri bagi Google, di jagat maya dan jagat modal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa kaitan ini semua? Ide, teknologi, dan kerja keras, tentunya, telah membuat beberapa orang (tentu tak banyak) menjadi luar biasa ketimbang yang lain. Dalam jagat bisnis, kemampuan seperti ini yang kemudian dikatakan lebih berharga ketimbang pabrik berhektar-hektar dan mesin bergulung-gulung. Orang-orang dengan talent dan skill yang luar biasa pun kemudian diperebutkan. Talent Management, meski bukan sesuatu yang baru, terus dikampanyekan dan dipraktikkan oleh perusahaan-perusahaan besar. Tujuannya tak lain untuk meningkatkan value dari perusahaan. Dalam laporan keuangan persuhaan, mereka termasuk dalam kelompok &lt;span style="font-style: italic;"&gt;intagible assets&lt;/span&gt;.  Maka tak heran, perusahaan-perusahaan farmasi sekarang ini lebih banyak memiliki asset yang ber'hantu' ketimbang pabrik. Mereka lebih memilih meng-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;outsource&lt;/span&gt; kan bagian produksi dan menjual licence kepada perusahaan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal talent management sendiri, ide ini sebenarnya telah lama dikenal dalam dunia olahraga modern. Contoh sederhananya adalah LA Galaxy, klub sepakbola dengan prestasi biasa, tak dikenal di luar Amerika, menjadi luar biasa terkenal dan dikenal dengan masuknya Beckham.  Jangan tanya soal penjualan merchandise, dan tiket pertandingan. Semuanya menunjukkan grafik yang meningkat. Membayar gaji miliaran rupiah per minggu buat bintang-bintang itu tetap saja tak berarti jika membandingkannya dengan apa yang klub dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal ide tadi, tahun depan pun kemudian diramalkan penuh dengan ide dan kreasi yang baru, dan Facebook pun kemudian menjadi sebuah pengalaman "tahun lalu". Website dengan beragam fitur dan penawaran pun kemudian ramai menjajakan diri, berharap keberuntungan serupa Ebay, Amazon, Facebook, Bizrate, dan lain-lain. Maka hadirlah etsy (www.etsy.com) yang meminjam konsep Amazon.com untuk barang kerajinan tangan, twitter yang seperti PDA yang punya kemampuan mem-push pesan, dan moshimonsters.com, facebook versi anak-anak dengan beragam game dan program edukasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, kuncinya adalah ide dan kreasi yang biasa tapi terkemas luar biasa, begitu selalu yang didengungkan. Itu pula yang akan kita dapat saat membali-balik halaman autobiografi dari person-person ini. Persoalannya, mengapa yang namanya kreatif, menarik, selalu ditentukan dari sono? Oh yah, saya lupa. "Kreatif" ini juga kan bukan sesuatu yang gratis?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-5618688151561102466?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/5618688151561102466/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=5618688151561102466' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5618688151561102466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5618688151561102466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/12/ini-soal-ide-bung.html' title='Ini soal Ide, Bung'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-556033325253584617</id><published>2007-11-22T08:56:00.000+08:00</published><updated>2007-11-22T09:14:28.105+08:00</updated><title type='text'>Breaking News</title><content type='html'>Malam ini Inggris belajar sepakbola dari Kroasia. Sumbangan mereka dalam menemukan olahraga ini tak menjamin tempat khusus di piala eropa 2008. Bintang besar terbukti hanya besar dalam gaji dan fasilitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan kesebelasan ini bertanding, yang menarik bagi saya malah komentar dari komentator dan running text di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tipi&lt;/span&gt; tentang furstasi pendukung Inggris. "No passion, no soul, no determination", kata Alan Shearer sang komentator. "Devastating", kata Ian Wright, rekan tukang koment lainnya. Gary Lineker, berkelakar bahwa summer depan ia bisa berlibur dengan tenang sebab tak ada tim Inggris di piala eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekalahan ini menjadi sebuah "Breaking News" yang mencuri perhatian pemirsa dari fokus kehilangan data di salah satu kementrian pemerintah Inggris. Tak terbayang bagaimana koran-koran Inggris esok hari mencaci pelatih dan pemain mereka. Apalagi pers Inggris terkenal dengan kritiknya yang tajam, dan panjang, membuat orang yang membacanya pun tertular amarah saja rasanya. Setidaknya mereka (harus) belajar. Bintang besar dan kompetisi yang luar biasa, tak memberi garansi bagi tempat terhormat di daratan eropa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan PSSI? Ah, bukankah yang satu ini memang tak punya niat untuk belajar? Sudah gitu, keras kepala pula. Apa kata dunia???&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-556033325253584617?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/556033325253584617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=556033325253584617' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/556033325253584617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/556033325253584617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/11/breaking-news.html' title='Breaking News'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-4344773631297244590</id><published>2007-11-15T02:18:00.000+08:00</published><updated>2007-11-15T02:48:03.093+08:00</updated><title type='text'>Geography</title><content type='html'>Ternyata, saya tak sendirian 'buruk' dalam geography. Menurut survey yg ada di Guardian, anak-anak Inggris sangat buruk untuk ilmu bumi ini. Tak sampai setengah dari responden yang disurvey menjawab benar ketika ditanya dimana letak gunung tertinggi di dunia. Kebanyakan mereka menganggap Everest berada di tanah Eropa. Sungai Amazon masih dianggap sebagai sungai terpanjang di dunia, meski jawab yg benar (setelah cek di national geography) adalah sungai Nil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis dari riset ini kemudian menyebutkan bahwa salah satu alasan mengapa mereka buruk dalam ber-geography adalah tingginya tingkat kunjungan anak-anak ke pusat pertokoan dan game centre. Dua tempat ini adalah tempat favorit mereka. Museum dan public library berada di deretan bawah. Meski masuk dua tempat itu gratis, survey ini menemukan bahwa keduanya tak semenarik mall dan game centre, tempat mereka berbuai mimpi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lalu membayangkan Makassar, dan Indonesia pada umumnya tempat dimana mall bisa hadir sesuka hati. Ia hadir di dekat kampus, sekolah atau bisa tepat di dekat pasar tradisional. Tak peduli pasar tradisional itu kemudian mati tak terurus, kemacetan lalu lintas dan sakit sosial yang ditimbulkannya. Saya tak anti mall. Sungguh, saya juga menyukainya. Menyukai etalasenya yang tak henti menjajakan mimpi. Baiklah, saya juga sering ngopi dan beli buku disana. Tapi tak jadi aktifitas rutin, sesekedarnya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ponakan saya yang masih sekolah menengah sudah tak terpisahkan dengan mall. Janjian ama teman di mall. Beli baju tak mau lagi kalo bukan di mall. Jangan tanya soal makan, segala franchise dan warung yang ada semua sudah dicoba. Tak ada lagi tempat untuk sekedar berniat ke pasar batangase--di dekat rumah--yang becek itu. Meski beberapa kali saya katakan padanya, pasar itu adalah surga makanan enak. Semuanya serba segar dan mengenyahkan. Soal hygiene atau tidak, toh terbukti saya hingga kini baik-baik saja. Apa jawabnya? Gaul dikit dong, paman..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum sempat konfirmasi kemampuan geographynya. Satu sisi saya juga mengerti gejolak muda dan segala tetek bengeknya. Mengekang itu tak meluruskan, malah bisa jadi makin membuatnya bengkok tak berbentuk. Tapi tetap saja ada rasa khawatir (ini khas orang lebih tua yang sok tahu). Semoga saja berbanding lurus dengan kegenitannya ber-gaul ria. Atau jangan-jangan dia malah lebih tahu bahwa air terjun tertinggi itu ada di Venezuela?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, makin sok tahu saja saya rasanya..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-4344773631297244590?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/4344773631297244590/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=4344773631297244590' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/4344773631297244590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/4344773631297244590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/11/geography.html' title='Geography'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-4689941637593553774</id><published>2007-10-12T07:29:00.000+08:00</published><updated>2007-10-12T07:32:38.884+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi'/><title type='text'>Eid Mubarak</title><content type='html'>Ada yang Lebaran hari ini. Tak sedikit juga yang memilih berhari raya besok.&lt;br /&gt;Nantilah, setelah lebaran usai kita berkumpul agar esok mungkin bisa kita cari waktu sembahyang yang sama dan tak membingungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Idul Fitri 1428 H.&lt;br /&gt;Maaf lahir bathin dan segala apa yang tidak menyenangkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-4689941637593553774?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/4689941637593553774/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=4689941637593553774' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/4689941637593553774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/4689941637593553774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/10/eid-mubarak.html' title='Eid Mubarak'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-5200142625621805153</id><published>2007-10-11T07:42:00.000+08:00</published><updated>2007-10-11T07:46:26.895+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Kita berteman</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Bloody Facebook wastes my time”,&lt;/span&gt; begitu tulis seorang kawan di profile &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;facebook&lt;/span&gt;nya. Saat bertemu di kelas pagi tadi, saya lalu menyapanya dan bertanya apa kabar dengan facebooknya? Ia cuma nyengir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Entah karena kuliah &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;business ethics&lt;/span&gt; yang tidak menarik baginya atau sang dosen yang memberi presentasi seadanya, ia pun asyik membuka-buka halaman account facebook melalui handphonenya. Kawan ini duduk tepat di sebelah saya. Setengah berbisik, kukakatakan padanya untuk tidak menghabiskan waktu dengan facebook. Lagi, ia kembali nyengir. Facebook, benci tapi rindu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Begitulah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;social network&lt;/span&gt; seperti facebook, friendster yang spesialis benua &lt;st1:place st="on"&gt;asia&lt;/st1:place&gt;, myspace, tagged, hi5, &lt;i style=""&gt;to name a few,&lt;/i&gt; telah menjelma menjadi penanda sebuah generasi. Seperti MTV dengan beragam mode dan musiknya yang sering menjadi acuan banyak anak muda. Entah MTV kini masih menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;trendsetter&lt;/span&gt;, tapi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;social network&lt;/span&gt; kini telah memiliki tempat tersendiri di hati banyak orang. Tak hanya monopoli anak muda saja sebenarnya. Yang berumur dan masuk kategori lansia pun tak sedikit yang punya halaman di banyak social network. Banyak? Yah, tak sah rasanya jika cuma bergabung di satu network belaka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Dengan network-network ini, saya bisa memiliki teman yang banyak. Teman yang bisa lebih saya kenali ketimbang teman beneran yang bersama kami banyak menghabiskan waktu. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang request jadi teman hanya karena saya membeli bukunya di Amazon. Siapa dia? Tak sekalipun saya pernah ketemu dan bahkan namanya pun tak kuingat dengan baik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Friendship? Wah, paradigma berteman dan berkawan kini sudah berubah, sobat. Teman dalam kenangan dan kenyataan kini beradu dalam ruang maya yang makin tak terbatas. Tapi apakah ini kemudian bebas dari kritik? Di koran Financial Times edisi weekend kemarin dalam rubrik konsultasi bisnis ada seorang karyawan yang ‘curhat’ soal dilemma yang dihadapinya. Bos di kantornya mengirimkan ‘aplikasi’ permohonan untuk menjadi kawan di facebooknya. Ia ragu luar biasa untuk mengklik ‘confirm’ sebagaimana presedur standard berteman ala facebook. Kebayang jika sang bos ternyata tahu ia suka keluar malam menikmati pengalaman dari satu pub ke pub yang lain. Tak tahan juga ia jika sang bos melihat foto usilnya ‘mengerjai’ inventaris kantor. Dalam rubrik ini meminta saran, apakah ia menerima atau menolak permintaan ‘berteman’ dari sang bos. Bagaimana pula dengan konsekuensi jika ia kemudian memilih untuk menolak?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Seorang lainnya menulis betapa facebook telah melampaui apa yang ia harapkan. Tak habis pikir ia harus merespon tawaran poke, tattoo, dan bermacam aplikasi dari facebook yang dikirimkan ‘teman-teman’ mayanya. Ia mengeluh betapa over aggressive nya proses berteman di social network. Saya juga sebenarnya mengalami hal yang sama. Poke, tattoo, aquarium, dan aplikasi-aplikasi lainnya dari facebook, membuat saya jadi tak mengerti tentang facebook. Dasar gaptek dan tidak punya banyak waktu mengamati dan mendalami, request-request itu menumpuk tanpa pernah saya jamah. Selain tak mengerti, sekali lagi, niat saya emang cuma menambah account di social network yang lagi trend. Soal teman baru yang sedikit beda dengan account lain, itu bonus. Popularitas saya sebagai orang yang kenal dan dikenal banyak orang pasti akan terdongkrak. Oh yah, popularitas, itu mantranya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Tengok betapa kandidat calon presiden di Amerika &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; tak melewatkan sedikitpun peluang ini. Hillary Clinton, Obama, dan juga yang lain, pasti memiliki account di facebook, myspace, yang muaranya tentu untuk mendongkrak popularitas. Nama mereka juga tercatat sebagai pemilik account di youtube. Tapi apakah selalu jelek ketika berbicara popularitas?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Saya percaya bahwa social network ini punya nilai positif juga. Saya akhirnya bisa bertemu (paling tidak di dunia maya) dengan seorang kawan lama yang kini ada di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Sejak berpisah beberapa tahun yang lalu, praktis tak kontak-kontak dengannya. Tak ada kabar berita serta &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; kangen sebagai seorang kawan. Tak itu saja, ia bisa pula dipakai untuk bertukar informasi, jika perlu berdagang. Seorang kawan melelang barang-barang yang dimilikinya melalui friendster dan facebook. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Desakan untuk junta militer di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Burma&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; juga kencang disuarakan di banyak social network. Juga kepedulian terhadap bencana di Afrika dan kepedulian terhadap sesama melalui jejaring komunikasi. Jadi, tak hanya sekedar berbagi pesan dan foto. Tak juga melulu sekedar berbagi komen. Namun tetap saja, fungsi utamanya sebagai penghubung bagi teman lama dan mencari teman baru.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;Maukah Anda jadi teman saya?&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-5200142625621805153?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/5200142625621805153/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=5200142625621805153' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5200142625621805153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5200142625621805153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/10/kita-berteman.html' title='Kita berteman'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-5171177142299223890</id><published>2007-09-29T07:51:00.000+08:00</published><updated>2007-09-29T07:57:07.982+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi'/><title type='text'>Tak sekedar Lapar</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Ramadhan sudah setengah jalan. Sudah seberapa penuh kantong amal dan ibadah kita terisi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Di time edisi online ada &lt;a style="font-weight: bold;" href="http://www.time.com/time/photogallery/0,29307,1663022_1448107,00.html"&gt;link menarik&lt;/a&gt;. Photos of the week, berisi foto-foto tentang ramdhan. &lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt; satu foto dari &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. di situ digambarkan beberapa lelaki sedang berbaring di masjid. Mungkin mereka lelah dan lapar, hingga perlu sedikit istrirahat. Pemandangan seperti ini memang biasa saat ramadhan. Mesjid dan surau terisi, meski tak penuh, saat shalat jamaah dilakukan. Setelah itu, dengan berjamaah pun kita pulas. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Menahan lapar dan haus serta tidak berhubungan dengan pasangan, begitu yang biasa kita memaknai puasa. Sesederhana itukah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Kata seorang imam, ketiga aktifitas halal yang ditahan itu hanyalah katalisator dalam jejak langkah kita mengisi ramadhan. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang jauh lebih esensial dari sekadar menahan kebutuhan purba kita itu. Kesalihan social, kepedulian terhadap sesama dan harapan untuk terus melepas diri dari nafsu duniawi menjadi ujian sesungguhnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Soal korupsi misalnya. Data tranparansi internasional menyebutkan bahwa deretan pertama negara-negara terkorup di dunia justru adalah negara dengan tingkat religiusitas yang tinggi. &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sebagai contoh, adalah negara muslim terbesar di dunia. Tapi tingkat korupsinya jauh diatas negara-negara yang tak memutar sinetron religi di stasiun televisi mereka. Di lain pihak, Jepang, sebuah negara dengan mayoritas rakyatnya bisa dikatakan tak beragama, selalu menjadi contoh bagi pelaksanaan rasa malu dan kejujuran.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Salahkah agama? Tentu tak elok jika agama kemudian menjadi sasaran tembak dari semua ini. Yang keliru mungkin adalah konsep keberagamaan dan bagaimana agama dilihat dalam perspektif kekinian. Dalam beberapa hal, ada tentu bagian yang tidak bisa digugat dan sebab itulah keimanan berarti percaya. Namun tak berarti tak ada ruang untuk, katakanlah ‘meninjau kembali’ konsep beragama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Dalam kitab suci, tak sedikit ayat yang mengingatkan untuk berbuat adil, peduli terhadap sesama, dan bersikap jujur. Yang jadi soal, adalah peletakan kesalihan dalam konteks ritual dan dalam tampilan yang cenderung jauh dari esensi ibadah dan saleh itu sendiri. Tak heran jika kemudian terjadi reduksi besar-besaran akan ibadah. Kesalihan kemudian menjadi domain individu dan tidak pernah ditekankan untuk muncul dan berkembangnya kesalihan social. Lebih utama rasanya memperbincangkan pahala dan timpalan api neraka ketimbang berkutat dengan korupsi biaya KTP dan sogok-menyogok polisi dan masyarakat saat terkena tilang. Tak pernah pula kita dengar tokoh agama bereaksi terhadap penggusuran, ketimpangan social atau korupsi dalam masyarakat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Kemegahan juga kian mewarnai kehidupan beragama. Tak habis pikir rasanya sebuah kabupaten seperti Maros, tempat saya menghabiskan banyak umur saya, lebih membangun sebuah mesjid megah berbilang milyar namun masyarakatnya masih banyak yang kesulitan makan. Di Kalimantan timur malah kabarnya mesjid dibangun dengan biaya yang bisa dipakai untuk membuat banyak sekolah dan madrasah. Ini mungkin wujud kecintaan terhadap agama. Tapi segitu parah dan kelirukah cinta itu dijewantahkan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Menjelang ramadhan, fokus utama justru pada penutupan tempat-tempat hiburan. Rasionalisasinya adalah keinginan untuk menghormati ramadhan. Tak jarang penutupan paksa bahkan penghancuran satu tempat menjadi aksi reaksioner terhadap ajakan dialog yang sebenarnya bisa lebih dikedepankan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Lalu, akankah individu yang salih mendapatkan berkah ramadhan? Bagi saya, kesalihan dan keimanan haruslah termanifestasi dalam ruang kehidupan yang lebih nyata. Ibadah, kesalihan, haruslah disertai pengorbanan. Jika tidak, yang lahir hanyalah hamba salih yang egois. Pengorbanan untuk sesama, itu yang masih langka. Saya pun rasanya masih demikian. Celakalah saya…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-5171177142299223890?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/5171177142299223890/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=5171177142299223890' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5171177142299223890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5171177142299223890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/09/tak-sekedar-lapar.html' title='Tak sekedar Lapar'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-2757275679974857546</id><published>2007-09-17T07:45:00.000+08:00</published><updated>2007-09-17T07:50:47.003+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Berdamai dengan Interupsi</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;33 jam seminggu, begitu hasil riset Ac Nielsen soal berapa waktu yang kita habiskan menonton tipi. Kita? Kalau toh bukan saya, Anda, berarti ada orang lain yang punya 33 jam waktu untuk menonton. Bahkan ada yang menghabiskan waktu lebih lama menonton tipi ketimbang bekerja. Bisa jadi, orang itu menonton sambil bekerja, atau ia merupakan pegawai tim pengawas siaran tipi. entahlah, pokoknya kotak ajaib itu telah mempengaruhi hajat hidup orang banyak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Apa arti angka ini? Taruh kata kita kerja 8 jam sehari, sebagaimana dicatat dalam kontrak kerja, maka hasil riset Nielsen itu menyebutkan bahwa lebih dari 4 hari dalam seminggu waktu kita habis untuk nonton tipi, dgn asumsi tdk mengerjakan pekerjaan lainnya. &lt;i style=""&gt;Like must always be compared with like, &lt;/i&gt;tapi ini sekedar analogy sederhana betapa banyaknya waktu yang diminta oleh kotak ajaib itu. Angka ini tentu menghkawatirkan sebagian kalangan. Mulai dari orang tua, pengamat dan praktisi pendidikan, ahli jiwa, sampai pada aktivis lingkungan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Namun yang bahagia tentu tak sedikit jumlahnya. Pengiklan salah satunya. Tak ada hari tanpa kreasi mereka untuk sekedar mencuri perhatian dalam keseharian kita. Entah itu di kereta, billboard di jalan, bioskop, mall, hingga rumah ibadah. Praktis tidak ada tempat yang sunyi dari iklan atau upaya-upaya sejenisnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Beruntung saya bisa menikmati siaran &lt;a style="font-style: italic; font-family: arial;" href="http://www.bbc.co.uk/"&gt;BBC&lt;/a&gt;. Mengapa? Tak ada iklan sebagai jeda dalam setiap programnya. Siaran langsung sepakbola tim Inggris pun bisa ternikmati dengan nyaman., sebagai contohnya. Atau menikmati serial Heroes yang tak diinterupsi oleh iklan parfum Armani terbaru atau Volvo SUV keren, yang tentu saja tak &lt;i style=""&gt;cuocok&lt;/i&gt; buat kantong saya. Lalu, Darimana mereka dapat dana untuk segala operasionalnya? Mirip TVRI jaman dulu, selain dapat suntikan pemerintah, mereka juga narik dana dari masyarakat melalui &lt;i style=""&gt;TV licence&lt;/i&gt;, semacam iuran/pajak televisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Tapi bisakah kita lari dari pelbagai interupsi ini? Maaf, tak ada ruang yang &lt;i style=""&gt;zero interruption&lt;/i&gt;. Friedman menyebutnya sebagai &lt;i style=""&gt;the age of interruption&lt;/i&gt;, zaman gila yang penuh dengan beragam interupsi. Praktis tak ada hari tanpa email &lt;i style=""&gt;spam&lt;/i&gt; bagi pengguna email gratisan dari yahoo atau gmail. Menyebutkan Anda pemenang lotre berhadiah jutaan pound, meski tak sekali pun memeasang taruhan. atau email palsu yang meminta pembaca untuk berbaik hati meminjamkan rekening bagi harta rampasan perang dengan jumlah jutaan dollar dengan nama pangeran dari negara antah beranta sebagai pengirim.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Jangan pula berharap lepas dari sms iklan atau telepon berdering menawarkan ragam produk dan segala bujuk rayunya. Di depan flat saya, meski telah terpasang pengumuman bahwa pedagang keliling dilarang masuk, tetap saja ada yang berhasil curi-curi perhatian untuk sekedar menunjukkan brosur mereka. Atau dengan modus yang lebih elegan, menitipkan brosur kepada loper atau pak pos. Jadilah bank statement yang saya terima setiap bulannya selalu disertai dengan brosur pakaian renang atau tujuan wisata baru dengan tarif miring.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Sebenarnya begitulah mekanisme yang ada. Tak perlu rumit memahami teori pemasaran dan perilaku konsumen untuk tahu bahwa iklan dan segala macam interupsi itu juga memberi andil bagi kita, para konsumen. Dengan interupsi-interupsi itulah kita bisa mengenal produk dan apa saja yang bisa memuaskan hasrat dan kebutuhan kita. Hasrat dan kebutuhan? Ya, tak usah malu untuk menyadari bahwa kebanyakan belanja kita lebih untuk memuaskan hasrat ketimbang kebutuhan. Tak heran jika saya sering membeli barang yang tak jelas benar manfaatnya buat saya, toh tetap juga terbeli karena hasrat yang menggunung. Sementara kebutuhan utama sering terpinggirkan dengan beragam dalih. Sebuah interupsi yang menyenangkan, begitu kilah yang jadi umum.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Sekali lagi, berharap tak ada interupsi?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-2757275679974857546?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/2757275679974857546/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=2757275679974857546' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/2757275679974857546'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/2757275679974857546'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/09/berdamai-dengan-interupsi.html' title='Berdamai dengan Interupsi'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-1088764088429644159</id><published>2007-09-15T07:09:00.001+08:00</published><updated>2007-09-15T07:10:49.967+08:00</updated><title type='text'>Selamat Puasa</title><content type='html'>&lt;object width="425" height="350"&gt;&lt;param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/D_5DEchv4Uo"&gt;&lt;/param&gt;&lt;param name="wmode" value="transparent"&gt;&lt;/param&gt;&lt;embed src="http://www.youtube.com/v/D_5DEchv4Uo" type="application/x-shockwave-flash" wmode="transparent" width="425" height="350"&gt;&lt;/embed&gt;&lt;/object&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga puasa hari ini memberi banyak berkah untuk kita semua dan tentu, makin meningkatkan kesalehan sosial kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berpuasa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-1088764088429644159?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/1088764088429644159/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=1088764088429644159' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1088764088429644159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1088764088429644159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/09/selamat-puasa_15.html' title='Selamat Puasa'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-1290507540829538662</id><published>2007-09-01T18:10:00.000+08:00</published><updated>2007-09-01T18:16:25.431+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi'/><title type='text'>Mobil sport</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/Rtk7vhWHiKI/AAAAAAAAAgI/3ZZBQTFcQIY/s1600-h/Bread+5.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 238px; height: 178px;" src="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/Rtk7vhWHiKI/AAAAAAAAAgI/3ZZBQTFcQIY/s200/Bread+5.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5105177340192196770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Saya memang bukan pembelanja yang baik, paling tidak itu kata &lt;a href="http://www.penikmatmusim.blogspot.com/"&gt;istri&lt;/a&gt; saya. Setiap habis ‘tugas’ belanja, saya selalu lupa berapa harga barang yang sudah saya beli. Jika sebelum belanja saya selalu bersiap dengan daftar belanja, itu memang nilai tambah. Tapi kelar belanja yang jadi masalah. Pertanyaan istri saya semisal, “tadi beli bawang merah ini berapa, daging sapi ini beli 1 pound, ya?” Atau “kenapa beli susu yang mahal?” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Jawaban saya untuk semua pertanyaan itu bisa ditebak, “tidak tahu”. Atas nama variasi saya sih sering ganti dengan “lupa” atau “tadi struk belanjanya jatuh”. Saya memang bukan pembelanja yang baik. Jarang sekali saya bisa menghapal—baik di dalam maupun di luar kepala—soal harga barang yang sudah (dan akan) dibeli. Ia memang sangat detail untuk urusan satu ini. selain mencatat setiap pengeluaran, ia pun membuat daftar prioritas belanja. Satu sisi ini tentu tak sejalan dengan jiwa merdeka saya yang sejak lama tak terkekang. Namun sisi lainnya kok berkilah bahwa tak ada yang terkekang. Justru saya yang boros ini jadi terbantu untuk lebih &lt;i style=""&gt;well planned&lt;/i&gt;. “Biar nanti bisa beli mobil sport”, hiburnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Mobil sport? Ha…ha…ha... Menabung seabad pun rasanya tak kesampaian. Ini memang lelucon khas dengan banyak kawan saat mengajukan beberapa lamaran kerja setelah kuliah dulu. Carilah kerja yang gajinya bisa buat beli mobil sport, begitu motto hidup pencari kerja yang tak tahu diri. Kalo PNS, mau nabung berapa keturunan? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(tak ada opsi untuk korupsi, ya..)&lt;/span&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Bukan mobil sport itu benar yang membuat saya jadi ingin hapal dan ingat harga barang-barang belanjaan saya. Cuma penasaran aja, bawang merah tadi belinya berapa ya, kok bisa lupa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-1290507540829538662?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/1290507540829538662/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=1290507540829538662' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1290507540829538662'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1290507540829538662'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/09/mobil-sport.html' title='Mobil sport'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/Rtk7vhWHiKI/AAAAAAAAAgI/3ZZBQTFcQIY/s72-c/Bread+5.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-2993213319430012058</id><published>2007-08-24T02:05:00.000+08:00</published><updated>2007-08-24T02:18:40.645+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Berbagi'/><title type='text'>Buku Untuk Semua</title><content type='html'>&lt;a href="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/Rs3OBhWHiII/AAAAAAAAAf4/EpVCd5Fw4r0/s1600-h/BXplate.png"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5101960478406969474" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/Rs3OBhWHiII/AAAAAAAAAf4/EpVCd5Fw4r0/s200/BXplate.png" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saat jeda di library siang tadi, saya melintasi rak buku yang berlabel &lt;em&gt;“free book”.&lt;/em&gt; Heran juga, kok ada buku gratis hari gini? Tertarik, saya pun mencoba mengambil satu buku. Setelah membaca brosur dan keterangan di sampul buku, ternyata buku-buku yang ada di rak itu memang gratis.&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dari om &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Bookcrossing"&gt;Wiki&lt;/a&gt; saya kemudian jadi tahu bahwa program &lt;em&gt;free book&lt;/em&gt; ini diluncurkan oleh kelompok &lt;strong&gt;&lt;a href="http://www.bookcrossing.com/"&gt;bookcrossing&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt; sejak tahun 2001 yang anggotanya disebut &lt;em&gt;bookcrossers&lt;/em&gt;. Niatnya untuk “membebas”kan buku dan menjadikan kegiatan membaca menjadi sebuah kegiatan yang menyenangkan. Modelnya sederhana. Tinggalkan buku-buku anda di ruang publik dan biarkan orang kemudian mengambilnya dan membacanya. Pembaca kemudian bisa menyerahkan lagi buku itu di &lt;em&gt;collect point&lt;/em&gt; atau sekedar menaruhnya di kafe, toko, atau &lt;em&gt;public space&lt;/em&gt; lainnya dan nanti akan diambil dan dibaca lagi oleh orang lain. Ini seperti slogan “3R” mereka, &lt;em&gt;Read a good book, Register to bookcrossing, and just Release it into the wild so others can read it.&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tak ada aturan rumit. Siapa saja bisa mengambil buku yang tersedia. Namun untuk mewakafkan buku, kita perlu register ke situsnya dan kemudian menuliskan kode yang disediakan. Biar menarik, kode di setiap buku yang bisa dicatatkan di situs bookcrossing itu kemudian dimasukkan lagi oleh pembaca untuk kemudian kita semua bisa tahu jejak rekam perjalanan buku dan pembacanya. &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Buku yang saya ambil contohnya. Ternyata telah dibaca oleh banyak orang. Komentar dan rating akan buku ini juga ada. Termasuk data dimana mereka mengambilnya dan kapan. &lt;/div&gt;&lt;div&gt; &lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tentu saja, program ini tidak lepas dari kritik. Penerbit, pengarang dan juga jaringan distribusi buku akan teriak keras bahwa kegiatan ini akan menurunkan nilai buku. Tak akan ramai lagi toko buku, serta amazon si raja buku itu akan tersedot keuntungannya. Lalu, bukankah kritikus-kritikus ini harus berkaca pada industri musik? Meski gencar melawan pembajakan, tak sulit amat untuk mendapatkan album terbaru dari top ten chart atau lagu terbaru Letto atau Tukul Arwana. &lt;em&gt;Social network&lt;/em&gt; ala &lt;a href="http://multiply.com/"&gt;Multiply&lt;/a&gt; memungkinkan kita mendapatkan semua itu. Tinggal buka account, dan Anda bisa mengunduh lagu dan video sepuasnya. Toh artis musik tetap saja bisa beli &lt;em&gt;land cruiser&lt;/em&gt; atau berjejal di butik-butik mewah. Ini tentu tidak kemudian menjadi alasan pembenar bahwa pembajakan dan perampasan hak cipta benar adanya. Tapi apa salahnya berbagi buku. Bukankah ilmu yang tidak bermanfaat adalah ilmu yang tidak dibagi?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya lalu ingat pengalaman saat kuliah dulu. Beberapa kawan dan saya sendiri tentunya, pernah bertanding soal siapa yang memiliki buku paling banyak. Soal lain itu urusan baca atau tidak. Kesan banyak buku banyak ilmu, dan pintar, adalah tema &lt;em&gt;seksi&lt;/em&gt; bagi mahasiswa baru dan adik-adik junior. Ada juga dosen yang dengan bangga memajang deretan buku di ruang tamu mereka, seperti mengabarkan pada setiap yang datang, ”Hey, saya punya buku yang banyak, lho”. Lalu kalau banyak kenapa? &lt;em&gt;Wong &lt;/em&gt;mau pinjam beberapa buku saja ceritanya jadi panjang. Yang penting adalah bagaimana buku itu tidak saja bermanfaat bagi diri tapi juga bisa dibagi dengan yang lain.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Menjadi soal memang jika watak peminjam ”yang baik”—meminjam buku adalah hak, mengembalikannya bukanlah kewajiban—masih tertanam kuat di dalam kepala. Ini juga memang penyakit. Apalagi memang harga buku yang kelewat mahal di Indonesia. Saatnya pemerintah meninjau kembali pajak-pajak yang menghambat tumbuh dan berkembangnya industri buku. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kembali ke bookcrossing ini. Singapura ternyata telah ”meratifikasi” ide ini dengan menjadi negara resmi pertama yang menjadikannya sebagai semacam 'program nasional'. Tak terbilang manfaat bagi rakyat Singapura. Padahal mereka juga sudah terkenal dengan budaya dan fasilitas baca yang lengkap. Belum lagi infrastruktur dan teknologi mereka yang mendukung. Sungguh, kampanye membaca tak lagi sekedar slogan dengan gerakan seperti ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Bagaimana kemudian ini bisa diaplikasikan di Indonesia? Tak perlulah sampai sedrastis Singapura atau sesuai konvensi bookcrossing, saya kira. Cukup dengan memperbanyak perpustakaan-perpustakaan gratis bagi masyarakat. Mereka yang punya buku-buku banyak di rak-rak juga bisa membagi akses bagi yang lain, ketimbang buku-buku itu tersimpan rapi tak terbaca dan bisa jadi tak terawat. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Tahun lalu, kakak saya yang guru SMA meminta ijin agar buku-buku saya yang menumpuk di kamar bisa dia bawa ke perpustakaan sekolahnya. Menurutnya, lebih banyak buku saya ketimbang buku yang ada di perpustakaan sekolahnya. Seperti kebanyakan sekolah negeri, fasilitas minim dan perpustakaan sepi adalah gambaran umum. Belum lagi letak sekolahnya yang memang jauh dan tak masuk dalam radius keramaian. Dengan begitu, ia berharap bahwa ada bahan bacaan alternatif bagi murid-muridnya. Meski kebanyakan buku-buku saya itu hanyalah novel, biografi, buku sejarah dan kumpulan tulisan dari beberapa penulis.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Awalnya saya khawatir, takut buku-buku itu rusak dan yang paling ekstrim, hilang. Tapi ketimbang menumpuk di rumah dan membuat ibu saya repot merawat dan membersihkannya, kuizinkan saja. Sekarang baru sadar, bisa jadi buku-buku saya itu telah berpindah tangan ke beberapa murid, dan siapa tahu ada saja yang mendapat manfaat dari membacanya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Nah, saatnya membebaskan buku dengan berbagi kepada yang lain. Masuk akal, kan?&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-2993213319430012058?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/2993213319430012058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=2993213319430012058' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/2993213319430012058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/2993213319430012058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/08/buku-untuk-semua.html' title='Buku Untuk Semua'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/Rs3OBhWHiII/AAAAAAAAAf4/EpVCd5Fw4r0/s72-c/BXplate.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-8040931250990044478</id><published>2007-08-17T18:35:00.000+08:00</published><updated>2007-08-17T18:36:55.307+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Merdeka, Bung</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kita belum merdeka, bung”&lt;/span&gt;, begitu kata teman saya via emailnya. Panjang ia bercerita tentang kondisi buruh yang selama ini dibelanya. Menurutnya, tak ada kata merdeka dalam kosa kata mereka. Gaji yang dipotong seperti tak ada henti, lembur yang tak terukur, harga minyak tanah yang tak terjamah, semuanya membuat mereka merasa tak merdeka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Bukan tak ada saya pikir, cuma belum merdeka aja kali. Tapi apa artilah perdebatan semantik ini, toh pada kenyataannya masih banyak nasib buruh, dan bukan hanya buruh, yang belum merdeka dari kebutuhan dasar kemanusiaan seperti makan dan tempat tinggal. Amrtya Sen, peraih hadiah nobel ekonomi mengemukakan bahwa masalah kemiskinan bukanlah terletak pada tidak adanya yg akan dimakan, juga bukan masalah pendanaan atau pengadaan makanan. Namun lebih banyak karena masalah distribusi atau tidak adanya pemerataan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Merdeka dari ketakutan, itu juga yang masih menjadi barang mahal bagi bangsa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Ya, rakyatnya tentu saja. Toh para penguasa itu memiliki pengawal yang setiap saat bisa menjaganya, so mereka tak masuk bagian orang takut ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Kemarin presiden sudah baca pidato kenegaraan di DPR, termasuk rencana-rencana pemerintah setahun ke depan. Terdengar banyak duit yang dibicarakan. Belum lagi &lt;i style=""&gt;highlight&lt;/i&gt; dari pidatonya yang ber-&lt;i style=""&gt;trend&lt;/i&gt; naik. Anggaran pendidikan naik, anggaran kesehatan naik, gaji PNS dan TNI naik, anggaran ini-itu naik. Melelahkan juga baca pidato yang panjang itu. Tapi intinya semua naik, bagus bukan? Tapi waspadalah, orang statistik punya anekdot sendiri akan ilmu mereka. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; tiga model kebohongan, bohong, luar biasa bohong, dan statistik itu sendiri. Tapi namanya harapan harus terus disemai, sebab itulah yang membuat hidup lebih berarti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Merdeka, Bung!!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-8040931250990044478?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/8040931250990044478/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=8040931250990044478' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/8040931250990044478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/8040931250990044478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/08/merdeka-bung.html' title='Merdeka, Bung'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-6605603017263826069</id><published>2007-08-13T18:58:00.000+08:00</published><updated>2007-08-13T19:09:30.429+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bisnis'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Pasar Halal</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RsA7CVYpZsI/AAAAAAAAAfo/MpnzA0jcUZ4/s1600-h/fish_and_chips+_3.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 231px; height: 141px;" src="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RsA7CVYpZsI/AAAAAAAAAfo/MpnzA0jcUZ4/s200/fish_and_chips+_3.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098139689469699778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Tiba-tiba hampir seluruh restoran dan warung makan yang ada di sepanjang &lt;st1:city style="font-style: italic;" st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Bristol&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; road&lt;/span&gt; dekat kampus itu memajang tanda Halal di depan pintu mereka. Seingat saya, tahun lalu masih terhitung dengan sebelah tangan restoran dan tempat &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;jual makanan halal di sepanjang jalan ini. Salah satunya warung &lt;span style="font-style: italic;"&gt;burger&lt;/span&gt; yang sering jadi andalan kalau sudah malas balik ke rumah untuk memasak. Pemiliknya orang Turki dan memang muslim. Burgernya lebih maha dari harga burger pada umumnya. Tapi mau giman alag, tdk ada pilihan lain. Namun kini jumlah warung halal itu telah berlipat. Mulai dari restoran besar sampai warung tradisional semacam&lt;i style=""&gt; fish and chips&lt;/i&gt;. Soal apakah &lt;i style=""&gt;sign&lt;/i&gt; halal yang mereka pajang itu telah melalui proses sertifikasi panjang dari Halal Food Authority atau tidak, itu urusan lain.&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Makanan h&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;alal, atau produk muslim secara umum memang menjadi salah satu bisnis paling menarik saat ini. Di Amerika sendiri, sebagai pusat kapitalisasi dunia telah menunjukkan trend ini sejak lama. Penelitian yang dilansir majalah &lt;i style=""&gt;the economist &lt;/i&gt;menyebutkan bahwa lebih dari 6 juta masyarakat muslim disana berpenghasilan diatas rata-rata atau sekitar $50,000 - $100,000. Sementara penghasilan rata-rata kebanyakan hanyalah kisaran $40,000. Mereka juga berpendidikan lebih tinggi ketimbang masyarakat lainnya, dimana dua per tiga dari jumlah itu memiliki satu atau lebih gelar kesarjanaan. Satu lagi yang membuat kaum muslim menjadi target pasar yang menggiurkan, mereka punya kecendrungan untuk memiliki anak lebih dari dua. Nah, komplit &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:state&gt; pasar ini?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Segmen yang pali&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;ng menarik dan menjadi perhatian kaum muslim kebanyakan adalah sector makanan, keuangan dan pasar konsumen yang memang banyak bersinggungan hokum-hukum syariat. Laporan economist menyebutkan bahwa pasar produk halal tumbuh 16% per tahun atau sekitar $580 milyar setiap tahunnya. Jumlah yang menggiurkan, bukan?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Namun apakah persepsi soal halal ini kemudian sudah selesai? Ternyata tidak. Beberapa penjual daging dan orang Inggris kebanyakan cuma tahu bahwa halal itu berarti daging selain daging babi. Maka daging sapi atau domba meski tidak disembelih dengan proses halal akan menjadi halal dengan asumsi seperti ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Bahkan awal-awal kedatangan saya banyak diisi dengan berbagi cerita soal halal dan tidak suatu makanan. Saya sering ditanya macam-macam, mulai dari ikan yang halal dan tidak halal, atau adakah babi ha&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;lal (&lt;i style=""&gt;halal pork&lt;/i&gt;) dalam Islam? Meski secara pribadi saya tak suka bicara soal halal-haram ini sebab banyak dai dan ustad yang akhirnya lebih sibuk dan siap ribut soal ini ketimbang mengingatkan masyarakat bahwa menyogok polisi atau menaikkan harga barang secara tak wajar adalah dosa juga adanya. Untungnya saya bukan dai terlebih ustad. Tapi yah namanya beda budaya dan kebiasaan, proses cerita ini menjadi unik dan enak saja jalannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Kembali ke bisnis produk halal, Mc Donald di London juga telah melakukan uji coba penjualan makanan halal. Di Southall, bagian utara &lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;London&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, salah satu restoran cepat saji itu menyediakan paket halal. Meski tak memasang info dan &lt;i style=""&gt;sign&lt;/i&gt; di depan toko mereka, namun permintaan pake&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp1.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RsA7JlYpZtI/AAAAAAAAAfw/uGVzK1GWOFE/s1600-h/fullagirls.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 188px; height: 117px;" src="http://bp1.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RsA7JlYpZtI/AAAAAAAAAfw/uGVzK1GWOFE/s200/fullagirls.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5098139814023751378" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;t ini ternyata tinggi. Terbukti, waktu itu paket ini sampai membuat antrian panjang dari pengunjung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Produk lainny&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;a tid&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;a&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;k kala&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Barbie&lt;/span&gt; versi islami, yang disini namanya diganti Fulla. Tak seperti Ba&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;rbie&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt; y&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;ang blonde, berbusung dada, serta gonta-ganti pacar, si Fulla adalah tokoh idola banyak calon mertua. Rajin belajar, membaca, shalat dan masak. Sempurna, bukan? Produk keuangan jangan ditanya. Mulai dari HSBC hingga Barclays sudah punya divisi syariah dimana target buruan mereka adalah raja-raja minyak timur tengah dengan jumlah uang yang melimpah. Tentu saja pasar besar lainnya adalah kaum muslim (kebanyakan imigran) yang ada di Inggris.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Namun apakah ini yang kemudian menjadi titik awal kebangkitan Islam? Banyak pihak yang menilai demikian. Namun bagi saya, bisnis tetaplah bisnis, tak perlu menjadi Adam Smith untuk tahu soal ini. Soal kemudian ada berkah dan manfaatnya, anggaplah itu sebagai bonus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-6605603017263826069?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/6605603017263826069/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=6605603017263826069' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6605603017263826069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6605603017263826069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/08/pasar-halal.html' title='Pasar Halal'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RsA7CVYpZsI/AAAAAAAAAfo/MpnzA0jcUZ4/s72-c/fish_and_chips+_3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-8804926995434643622</id><published>2007-08-07T08:57:00.000+08:00</published><updated>2007-08-07T09:01:29.050+08:00</updated><title type='text'>Tepuk Tangan Sepakbola</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RrfEDlYpZqI/AAAAAAAAAfY/DaXN5L_3tb0/s1600-h/DSC05341.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 246px; height: 184px;" src="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RrfEDlYpZqI/AAAAAAAAAfY/DaXN5L_3tb0/s200/DSC05341.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5095757069247145634" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;“Cuma mengumpan kok &lt;i style=""&gt;ditepu’i&lt;/i&gt; kayak gitu”, teman saya berkomnetar saat bersama kami menyaksikan &lt;i style=""&gt;pre season friendly&lt;/i&gt; Aston Villa Vs Inter Milan di Villa Park beberapa hari yang lalu. Begitulah memang, apresiasi penonton dalam menyaksikan pertandingan sungguh luar biasa. Sepanjang pertandingan gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai terus saja menjadi atraksi menarik tersendiri selain pertandingan itu tentunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Mengumpan tepat sasaran, habis nendang mengarah ke gawang—meski tak masuk hingga atraksi individual menawan, semua mendapat tepuk sorak yang membahana. Namun itu hanya berlaku sebagian besar untuk pemain tuan rumah. Lawan, tetap saja memperoleh terror yang pantas. Ibrahimovic, striker Inter yang saat itu tak tampil optimal harus rela di &lt;i style=""&gt;“booo”&lt;/i&gt; hampir separuh pertandingan. Aksinya yang sering jatuh tanpa sebab, membuat penonton tuan rumah menjadi gregetan—untuk tidak menyebutnya marah. Luis Figo juga bernasib serupa, akibat tindakannya mengusik keputusan wasit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Tapi semuanya tetap dalam bingkai hiburan. Saya malah curiga pertandingan disini pakai scenario segala. Tak ada lemparan botol bekas, atau penonton yang lari mengeroyok pemain. Ini yang kemudian menjadi catatan penting dari keberhasilan industri bernama &lt;i style=""&gt;premier league&lt;/i&gt; yang konon merupakan liga terkaya dan berpenghasilan paling tinggi sejagat ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Sebagai industri, liga ini digerakkan oleh kreatifitas, termasuk dalam menjaring penonton. Karena tingkat mahasiswa internasional yang datang ke Inggris setiap tahun menunjukkan trend meningkat, maka strategi pasar klub-klub pun kini masuk kampus. Aston Villa, yang di liga termasuk klub menengah hampir selalu membuka stand penjualan tiket sebelum pertandingan regular dimulai. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Belum lagi program-program seperti stadium tours, valentine day at &lt;st1:place st="on"&gt;Villa  Park&lt;/st1:place&gt;, penjualan merchandise sampai kasino. Tak terbilang rupiah pemasukan klub dari kreasi-kreasi seperti ini. Itu baru klub-klub gurem atau menengah. Tentu ceritanya akan lain jika klub itu bernama Manchester United, Arsenal, Liverpool atau &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Chelsea&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Ada&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt; seorang mahasiswa asal &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang merupakan fans berat MU. Hampir setahun ia disini tiket yang dikoleksinya saat menonton pertandingan MU di Old Trafford sudah lebih dari 20 lembar. Ini termasuk liga regular, champion dan friendly match MU. Jika harga satu tiket pertandingan itu £35, maka duit yang dihabiskannya itu setara dengan sewa rumah 3 kamar tidur, termasuk biaya listrik, air, dan gas selama sebulan. Bonus? Ya, termasuk biaya makan selama sebulan di Inggris. Nah, jumlah orang seperti ini tentu tak sedikit. Mahasiswa asal Cina punya kegilaan luar biasa terhadap klub-klub Inggris. Mungkin liga utama Inggris ini salah satu alasan mereka memilih kuliah di sini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Kembali ke teman saya itu, ia pun mengungkapkan sulit rasanya sepakbola &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; akan maju seperti yang ia rasa dan tonton kali ini. Saya menyanggahnya. Tak selalu &lt;i style=""&gt;fair &lt;/i&gt;membandingkan langit dan empang. Meski tak simpatik dengan PSSI yang dikelola tak ubahnya partai politik, tapi sepakbola &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; tuh punya bukti (sedikit dan sejenak) untuk bisa berkontribusi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Jika ungkapan Pele yang pernah berkata bahwa “pada sepak bola, Anda bisa melihat kehidupan di dalamnya” bisa dipakai, sepakbola &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; rasanya memang menggambarkan kehidupan masyarakatnya. Tapi bukankah dalam kehidupan ada juga peluang untuk maju? Perhelatan piala &lt;st1:place st="on"&gt;Asia&lt;/st1:place&gt; kemarin semoga menjadi anak tangga pertama. Meski banyak syarat yang harus dipenuhi sebelum kemudian berjejak ke anak tangga berikutnya. Tidak lagi pakai dana APBD salah satunya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-8804926995434643622?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/8804926995434643622/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=8804926995434643622' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/8804926995434643622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/8804926995434643622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/08/tepuk-tangan-sepakbola.html' title='Tepuk Tangan Sepakbola'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RrfEDlYpZqI/AAAAAAAAAfY/DaXN5L_3tb0/s72-c/DSC05341.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-968656856562327427</id><published>2007-07-18T08:30:00.000+08:00</published><updated>2007-07-22T16:32:47.121+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bisnis'/><title type='text'>You shop we drop</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/Rp1hE4Z-JcI/AAAAAAAAAfQ/mF8HM4Gabgk/s1600-h/ske_shop_till_drop_lg.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/Rp1hE4Z-JcI/AAAAAAAAAfQ/mF8HM4Gabgk/s200/ske_shop_till_drop_lg.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5088329890487215554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Jika coba menghitung mundur 10-20 tahun ke belakang, harga-harga barang hari ini tentu sudah di luar akal sehat. &lt;i style=""&gt;DVD player&lt;/i&gt;, komputer, serta alat elektronik lainnya menjadi murah tak terkira, tentu saja dengan asumsi ada uang untuk membelinya. Sejak tahun 1996, menurut index harga konsumen, tingkat penurunan untuk barang-barang elektronik sebesar 56%. Ini berarti, harga televisi beberapa tahun lalu kini kurang dari setengahnya. Tanpa mengecilkan kondisi negara-negara berkembang, harga murah menjadi sebuah keniscayaan di negara-negara maju.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Economic of scale&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;, begitu mantranya. Makin banyak barang yang diproduksi, maka makin bisa pula harga ditekan. Ini ditambah pula dengan proses otomatisasi yang meminggirkan peran manusia sebagai faktor produksi, yang upahnya tentu menjadi variable dalam penentuan harga. Kalau toh tetap memakai tenaga manusia, maka buruh murah menjadi pilihan wajib para pengusaha.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Cina kemudian menjadi sebuah rumah bagi segala yang murah, &lt;i style=""&gt;the home of cheap&lt;/i&gt;. Hampir tidak ada produk yang berhubungan dengan ‘hajat hidup orang banyak’ yang tidak diproduksi di cina. Mulai dari mainan, garmen, elektronik, hingga otomotif. Cina tak lagi dikenal hanya dari kaos dalam, peniti, silet serta perkakas ‘imut’ lainnya. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Murah selalu berpadanan dengan belanja. Di negara-negara maju, taraf belanja masyarakatnya memang sudah mencapai taraf kecanduan. &lt;i style=""&gt;Consumer democracy, ‘the age of cheap’&lt;/i&gt;, begitu kata David Booshart. Menurutnya, makin beragamnya pilihan terhadap produk membuat konsumen menjadi bebas dan merdeka untuk menentukan pilihan. Ini pun kemudian diramalkan menjadi sebab dari bergesernya kekuatan &lt;i style=""&gt;image&lt;/i&gt;. Dalam hal&lt;i style=""&gt; fashion &lt;/i&gt;misalnya, yang kini tak lagi menjadi monopoli desainer kecuali untuk kalangan artis dan &lt;i style=""&gt;jet set&lt;/i&gt; yang memang tak bisa hidup tanpa merek. Sampai ada ada anekdot bagi kalangan sophalic, &lt;i style=""&gt;style&lt;/i&gt; desainer tapi harga &lt;i style=""&gt;high street. &lt;/i&gt;Muncul pula kemudian istilah &lt;i style=""&gt;Fast fashion&lt;/i&gt;, desain baru hari ini akan Anda jumpai esok di toko-toko pinggir jalan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Dalam sebuah program dokumenter di BBC, digambarkan betapa kebiasaan belanja masyarakat Inggris yang sudah ‘mencederai’ akal sehat. Belanja menjadi kegiatan harian serupa &lt;i style=""&gt;lunch&lt;/i&gt; dan &lt;i style=""&gt;meeting&lt;/i&gt; di kantor. Jadilah mereka belanja tanpa pernah berpikir bahwa barang yang mereka beli itu betul-betul dibutuhkan atau tidak. Rayuan &lt;i style=""&gt;‘buy one get one free’&lt;/i&gt; juga menjadi sihir bagi konsumen. Banyak teori pemasaran kemudian lahir dan menggantikan model pemasaran yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘jadul’&lt;/span&gt;. Tentu saja muaranya agar semua orang &lt;i style=""&gt;shop till drop. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Lalu, benarkah barang yang murah selalu memberi keuntungan bagi konsumen? Terlepas dari kualitas barang, rasanya kita perlu waspada dengan apa yang diperingatkan Booshart, &lt;i style=""&gt;although manufactured goods have been getting cheaper, with that trend, comes cheap morals and cheap ethics.&lt;/i&gt; Sisi gelapnya adalah budaya &lt;i style=""&gt;throwaway&lt;/i&gt;, dimana barang-barang yang tidak dipakai (meski masih berfungsi dengan baik) langsung masuk ke tong sampah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Charity shop&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt; yang sangat bergantung dari derma orang-orang akan barang bekas namun layak pakai pun kehilangan banyak pemasukan. Tak banyak lagi yang memilih mendermakan barang-barang itu. Pikir mereka, toh barang ini saya beli dengan sangat murahnya. Jika harus di&lt;i style=""&gt; charity shop&lt;/i&gt;-kan lagi, jadi berapa harganya? Budaya &lt;i style=""&gt;throwaway&lt;/i&gt; ini juga menjadi ancaman bagi masa depan yang lebih cerah. Turunanannya tentu soal lingkungan dan kesinambungan kehidupan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Hal lain, konsumen tidak pernah mau berpikir bahwa barang murah yang dibelinya tak begitu saja ada. Ia lahir dari pengorbanan buruh-buruh yang diupah murah, dengan kondisi kerja yang kadang mengenaskan. Kurang udara, sumpek, tekanan kerja yang tinggi, minim asuransi, serta sederet isu social lainnya yang tak ada dalam label barang. Paling yang muncul di label hanyalah &lt;i style=""&gt;“Made in &lt;st1:country-region st="on"&gt;China&lt;/st1:country-region&gt;”, “Made in &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;”&lt;/i&gt;, dan negara-negara berkembang lainnya &lt;i style=""&gt;(... you name it)&lt;/i&gt;. Buruh NIKE Indonesia mau di-PHK, &lt;i style=""&gt;it’s not my problem&lt;/i&gt;. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Saatnya berhenti belanja? Ah, iklan obral produk-produk Nike di &lt;i style=""&gt;JJB Clearance &lt;/i&gt;membuatku berhenti menulis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;foto: pushindaisies&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-968656856562327427?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/968656856562327427/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=968656856562327427' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/968656856562327427'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/968656856562327427'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/07/you-shop-we-drop.html' title='You shop we drop'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/Rp1hE4Z-JcI/AAAAAAAAAfQ/mF8HM4Gabgk/s72-c/ske_shop_till_drop_lg.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-1747664202727166124</id><published>2007-07-09T22:48:00.000+08:00</published><updated>2007-07-09T23:02:31.230+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Warming Up</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RpJLFhOym5I/AAAAAAAAAfA/uJpK4jbkxUY/s1600-h/positive-proof-global-warming-underwear.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 223px; height: 146px;" src="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RpJLFhOym5I/AAAAAAAAAfA/uJpK4jbkxUY/s200/positive-proof-global-warming-underwear.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5085209487446547346" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;“Global Warming”, istilah itu begitu popular belakangan ini. Banyak gerakan yang kemudian mencoba ‘memasarkan’ kecemasan terhadap perubahan iklim bumi yang sepertinya jauh melebihi ekspektasi umat manusia di muka bumi ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Banjir yang menimpa sebagian wilayah Inggris turut 'melambungkan' nama global warming. Tetangga saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;weekend&lt;/span&gt; kemarin punya cara unik mengisi liburan. Mereka berencana mengunjungi tempat banjir di selatan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Wilayah itu memang ‘kena getah’ yang lumayan parah. Tinggi genangan air tak lagi sebatas mata kaki, bahkan koran lokal menyebutkan tinggi air sudah mencapai mata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;beneran&lt;/span&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Tetangga saya itu mungkin merasa wilayah banjir itu sesuatu yang unik. Untuk sebuah negara dengan sistem drainase yang baik seperti Inggris, banjir tentu menjadi sebuah kejadian ‘unik’. Apalagi wilayah banjir itu tak dikenal memiliki sejarah kebanjiran yang parah. Ia pun bercerita tentang global warming yang menjadikan cuaca tak menentu dan imbasnya banjir datang meski tak diundang.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Beberapa hari lalu, Al Gore, mantan calon presiden Amerika (yang pongah itu) juga mencoba menjadi pionir dari gerakan global ini. Konser di delapan negara pun dilaksanakannya. Tujuannya sederhana, “biar orang tahu global warming itu betul-betul ada dan mereka jadi &lt;i style=""&gt;aware&lt;/i&gt; akannya”, begitu komentarnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Lucu juga, global warming yang salah satunya disebabkan oeh konsumsi energi yang berebihan, harus dikampanyekan dengan serupa konser, yang tentu saja juga menghabiskan tak sedikit energi. Madonna, yang mengisi konser ddi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;London&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, tentu saja tak ingin berjubel di antrian pesawat komersial bersama penumpang lain. Jet pribadi dan helicopter tentu disiapkan untuk mengangkut Madonna dan segala timnya. Belum lagi tata cahaya yang digunakan saat konser di stadion Wembley (yang megah itu). Lampu-lampu yang digunakan tentu bukan seukuran lampu di kamar saya yang cuma 60 watt.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Hypocrite? Ah, tak mengapa. Toh panitianya juga telah menjamin dengan iklan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ciamik&lt;/span&gt; bahwa mereka menggunakan energi yang ramah lingkungan dan menggunakan bahan-bahan yang recyclable. Perdebatan ini juga mirip dengan kondisi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; yang event-event olahraganya disponsori perusahaan rokok. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Jauh lebih penting memang kecemasan ini diwabahkan. Asal negara-negara besar dan maju tidak saja menyalahkan negara-negara miskin seperti &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Toh mereka tak terbayang energi yang telah mereka habiskan, yang tentu saja telah mengotori lapisan bumi kita. Jika dimulai dari zaman revolusi indsutri sekalipun, jumlah ‘sampah’ mereka tentu sudah tak &lt;i style=""&gt;ketulungan&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Global warming=banjir dan cuaca yang tak menentu, begitu definisi tetangga saya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Link: &lt;a style="color: rgb(0, 0, 153); font-weight: bold;" href="http://penikmatmusim.blogspot.com/2007/07/cerita-cerita-tentang-global-warming.html"&gt;Cerita lain tentang Global Warming&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Foto: &lt;b&gt;&lt;a href="http://www.neatorama.com/2006/05/" target="_top"&gt;www.neatorama.com/&lt;wbr&gt;2006/05/&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;a href="http://www.neatorama.com/2006/05/" target="_top"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-1747664202727166124?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/1747664202727166124/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=1747664202727166124' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1747664202727166124'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/1747664202727166124'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/07/warming-up.html' title='Warming Up'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RpJLFhOym5I/AAAAAAAAAfA/uJpK4jbkxUY/s72-c/positive-proof-global-warming-underwear.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-511902883925998919</id><published>2007-06-26T23:19:00.000+08:00</published><updated>2007-06-26T23:33:31.913+08:00</updated><title type='text'>An Apology</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RoExkSvcLkI/AAAAAAAAAec/BhGTWsu0wjc/s1600-h/an+apology.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 234px; height: 158px;" src="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RoExkSvcLkI/AAAAAAAAAec/BhGTWsu0wjc/s200/an+apology.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5080396354226499138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Banyak cara menjaring dana masyarakat. Salah satu yang unik seperti yang dilakukan &lt;a href="http://www.nspcc.org.uk/"&gt;NSPCC&lt;/a&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(National Society for the Prevention of Cruelty to Children)&lt;/span&gt; ini. Lembaga derma berbasis kemasyarakatan ini aktif menggalang dana untuk pencegahan kejahatan terhadap anak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Cara unik mereka seperti yang hari ini saya terima melalui &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;i style=""&gt; “An Apology”,&lt;/i&gt; begitu tertulis dengan huruf besar di amplop bagian depannya. Karena tak ada informasi lain, maka penerima pun kemudian tertarik untuk membukanya. Saya sendiri awalnya kaget, siapa pula yang minta maaf dengan cara seperti ini. Rasanya tidak ada juga kesalahan “resmi” yang pernah terjadi kepada saya hingga mengharuskan permohonan maaf yang resmi pula, dengan bersurat maksud saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Bunyi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; di dalamnya pun cukup menarik juga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Dear friend,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;First of all: an apology.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;I know you didn’t ask me to write to you. Yet, here I am—writing to you anyway—expecting you to give up a few moments of your time. You’re probably just thinking, “oh dear, not another charity asking me for money…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Setelah itu kemudian paparan data serta penjelasan singkat mengenai sejauh mana pencapaian program dan kampanye mereka. Termasuk sebuah formulir kesediaan untuk secara rutin menyisihkan 2 pound per bulan sebagai bagian dari kegiatan donasi. Awalnya saya pikir ini serupa spam letter aja, yang agak meragukan. Setelah mengcek situs mereka, ternyata benar adanya. Mereka pun terdaftar di pemerintah. Satu lagi, &lt;i style=""&gt;patron&lt;/i&gt; (pelindung) lembaga ini; &lt;i style=""&gt;Her Majesty The Queen.&lt;/i&gt; Tentu lembaga gadungan tak seenak itu memasang nama ratu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Tidak juga unik sebenarnya. Mungkin kreatif aja. Unik memang sering dipadankan dengan kreatif, meski dalam beberapa konteks unik menjadi lebih dekat dengan aneh. Terlepas dari perbedaan terminologii itu, satu hal yang menjadi perhatian saya adalah upaya mereka menggalang dana tanpa menimbulkan kesan memaksa dan membuat penderma pun merasa terpanggil untuk terlibat, meski dalam tingkat yang berbeda.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Cara unik/kreatif ini sering pula dilakukan oleh lembaga-lembaga derma lainnya di Inggris. Salah satu yang palingn kreatif adalah &lt;a href="http://www.oxfam.org.uk/"&gt;Oxfam&lt;/a&gt;. Selain dengan &lt;a href="http://www.oxfam.org.uk/shop/index.htm"&gt;&lt;i style=""&gt;charity shop&lt;/i&gt;&lt;/a&gt;nya, lembaga ini juga kerap menawarkan program derma sesuai dengan minat dan keinginan kita melalui &lt;a href="http://www.oxfamunwrapped.com/"&gt;Oxfam Unwrapped&lt;/a&gt;. Pernah membayangkan membeli toilet? Melalui program ini, Oxfam misalnya menawarkan kepada masyarakat membeli toilet seharga 30 pound. Dana yang terkumpul kemudian dipakai untuk membuat toilet di negara-negara tempat Oxfam bekerja. Menurut kawan yang pernah terlibat di Oxfam, program ini pernah dilakukan untuk membangun puluhan toilet di Aceh setelah daerah itu terkena tsunami. Ada pula  penawaran &lt;span style="font-style: italic;"&gt;voucher gift&lt;/span&gt;, yang menerima hadiah itu berarti telah menyumbang atau berderma sejumlah uang yang kemudian diwujudkan dengan penanaman pohon, penyedian fasilitas air bersih kepada masyarakat miskin di Afrika.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Ide kreatif, akuntabilitas, dan bertanggung jawab tentu menjadikan mereka tak terlalu sulit untuk menjalankan banyak program. Sama tak sulitnya bagi mereka untuk membagi-bagikan dana kepada lembaga sosial dan LSM di Indonesia, yang orang-orangnya masih kebanyakan bertindak sebagai pencari kerja ketimbang membantu masyarakat. Saya tak alergi terhadap LSM dan lembaga sosial. Banyak—banyak sekali bahkan—dari mereka yang tulus dan sangat pantas diberikan apresiasi positif terhadap langkah dan tindak mereka. Namun niat dan rencana baik saja tidak cukup. Tak perlu tunggu menjadi negara maju dan kaya untuk berwujud seperti itu. Perlu ide kreatif , program jelas dan tak muluk-muluk, serta tentu saja bertanggung jawab agar rencana tersebut terealiasasi. Masyarakat yang ingin berderma tentu saja tak sedikit jumlahnya. Masalahnya, jumlah yang banyak ini lebih sering jadi peluang bisnis pribadi daripada bisnis lembaga untuk masyarakat yang manfaatnya untuk masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-511902883925998919?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/511902883925998919/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=511902883925998919' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/511902883925998919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/511902883925998919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/06/apology.html' title='An Apology'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RoExkSvcLkI/AAAAAAAAAec/BhGTWsu0wjc/s72-c/an+apology.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-6061927555375390897</id><published>2007-06-21T23:41:00.000+08:00</published><updated>2007-06-22T01:00:20.016+08:00</updated><title type='text'>Iseng</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RnqtbCvcLjI/AAAAAAAAAeU/ek6tf0QgRok/s1600-h/02.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RnqtbCvcLjI/AAAAAAAAAeU/ek6tf0QgRok/s200/02.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5078562209917578802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Saat pulang belanja kemarin, taman di depan flat telah ditumbuhi tanaman baru dengan kuncup bunga berwarna merah, putih. Sungguh indah. Tentu akan lebih indah lagi 3 atau 5 minggu ke depan, saat seluruh bunganya mekar dengan warna-warninya. Sebelumnya kami memang telah ‘kerja bakti’ menanam tulip dan bunga mawar. Namun karena hujan yang hampir tiap hari mengguyur &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;kota&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, tumbuhan-tumbuhan itu mati sebelum memancarkan keindahannya.  &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Siapa gerangan yang menanam bunga-bunga indah ini, sebab tak ada undangan kerja bakti yang masuk di flat kami? Ternyata pasangan tua Arthur dan Audry yang tinggal di lantai 10. Mereka sedang santai duduk menikmati sandwich dan orange juice. Saya pernah membahas mereka sedikit &lt;a href="http://batangase.blogspot.com/2007/04/hardest-part.html"&gt;&lt;u&gt;disini&lt;/u&gt;&lt;/a&gt;. Setelah berbasa-basi dan coba menyapa, saya pun bertanya kenapa mereka menanam bunga-bunga itu. Ini juga sekedar mengkonfirmasi jika saya luput dalam kerja bakti yang mungkin undangannya tak kesampaian. Meski tak ada paksaan, sebagai pendatang tak elok rasanya jika tidak berpartisipasi dalam acara-acara di lingkungan sekitar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;“Sekedar iseng, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;my dear&lt;/span&gt;. Bunga-bunga ini kami ambil dari taman kami di lantai 10 dan rasanya sayang jika keindahan di lantai 10 tak ternikmati oleh orang lain. Saya dan Arthur juga bosan di flat terus, tak ada kegiatan,” jawab Audry yang usianya seumuran nenek saya di kampung. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Arthur kemudian menimpali, “Kurang kerjaanlah kami ini, maunya berkebun tapi tidak punya lahan maka taman flat inilah yang kami kerjakan”. Mereka berdua tertawa, saya juga ikut tertawa jadinya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Pasangan ini memang istimewa dan menyenangkan. Tak seperti kebanyakan orang Inggris yang tertutup, mereka seperti &lt;i style=""&gt;devian&lt;/i&gt; dari karakter orang Inggris yang menurut antropolog &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kate Fox&lt;/span&gt; dalam bukunya &lt;a href="http://www.amazon.co.uk/Watching-English-Hidden-Rules-Behaviour/dp/0340818867"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“Watching the English”&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; sangat tertutup terhadap orang asing. Dalam bahasa Fox, mereka lebih memilih “memandang langit hitam ketimbang menyapa orang asing”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Audry, sang istri terlihat sangat menikmati aktivitas ‘iseng’ ini. Deretan lubang yang dibuatnya sangat rapi. Jarak antar lubang pun sangat pas, tak sama saat kami kerja bakti dulu. Saat itu mereka memang tak terlibat. Kami, saya dan penghuni flat lainnya saat itu bisa dikatakan menanam tulip dan rose seadanya. Di kantong bibit sudah jelas aturan pakai dan standar tanam yang meminimalkan 6 cm kedalaman lubang. Seperti tak tahu aturan aja, lubang-lubang yang kami buat hanya kisaran 3 cm, itu pun dengan jarak yang sangat jauh dari rapi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Iseng, kurang kerjaan, begitu sekali lagi mereka menyebut aktivitas itu. Namun bagi saya itu sungguh bermakna. Banyak hal besar di dunia ini memang yang lahir dari iseng dan orang kurang kerjaan. Meski banyak juga yang membuat dunia jadi seperti neraka dengan segala keisengan dan kurang kerjaannya, tapi saya percaya, 3 minggu ke depan saya bisa membuktikan hasil kerja iseng mereka yang begitu indah. Setidaknya saya bisa menikmati &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“wangi bunga dimana-mana…”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-6061927555375390897?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/6061927555375390897/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=6061927555375390897' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6061927555375390897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/6061927555375390897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/06/iseng.html' title='Iseng'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RnqtbCvcLjI/AAAAAAAAAeU/ek6tf0QgRok/s72-c/02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-5604561784081453531</id><published>2007-06-14T08:04:00.000+08:00</published><updated>2007-06-14T08:07:23.425+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>Tentang Hujan</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Kembali saya berhadapan dengan perbandingan. Membandingkan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; dengan negara maju seperti Inggris ini. Ceritanya begini. Saat ada festifal Indonesia di Nothingham kemarin, saya bertemu dengan beberapa mahasiswa &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; lainnya. Di sela perbincangan mengenai desertasi yang menanti, muncul topik “pulang kampung” dengan resiko ketidakpastian dan ancaman tak termanusiawikan atau tinggal dengan fasilitas yang nyaman, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kota&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; yang ramah dan manusiawi di negeri ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Beberapa mahasiswa yang tampangnya mirip bintang sinetron mengatakan bahwa nasionalisme sekarang tak harus mengikuti model Hatta dan Sjahrir saat mereka dengan gagah berani meninggalkan Belanda dan memilih pulang kampung untuk membangun Indonesia. Nasionalisme toh tak sesempit itu. Kontribusi terhadap negara &lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:State&gt; tidak harus dengan berdiam (apalagi dengan segala carut-marutnya) di &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Mereka pun mebandingkan kehidupan yang dijalin saat ini dengan kehidupan yang teah dijalninya saat di Indonesia. Namun pihak berseberangan menganggap “pulang kampung” bukanlah pilihan jelek. Hujan uang di negeri orang tetaplah kalah meski hujan batu di negeri sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Oh yah, soal beberapa yang mirip bintang sinetron, kabar yang saya dengar malah memang ada yang bintang sinetron beneran. Saya tak tahu, sebab saya bukan pencinta sinetron. Kalau toh dia bintang sinetron, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘so what?’&lt;/span&gt;. Asal dia bukan bintang sinetron rohani yang pura-pura jadi ustad dengan lafalan alquran keliru saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Saya memilih mendengar saja saat itu. Selain selama ini memang sudah akrab dengan hujan batu, saya juga tak pandai diri bersiap dengan hujan uang. Entah hujan seperti itu memang ada atau tidak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Kembali ke perbincangan nasionalisme tadi, tidak ada kesimpulan memadai dari dua pendapat yang berbeda. Perbincangan ini pun memang tak diniatkan untuk mencapai mufakat, toh soal keyakinan dan nilai, siapa yang bisa pengaruhi siapa, &lt;st1:state st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;kan&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:State&gt;? Lagi pula, tema seperti ini memang lebih enak dibahas, tapi tak enak untuk dipraktekkan. Kenikmatan itu selalu membuai, begitu kata mutiaranya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Saya lalu teringat saat di kedutaan beberapa waktu lalu, saya bertemu beberapa TKI yang sedang mengurus berkas keimigrasian. Kami lalu berbagi cerita, termasuk bagaimana mereka memendam rindu yang mendalam akan kampung halaman. Menikmati hujan air di teras rumah, dengan secangkir teh dan sepiring pisang goreng. Alangkah nikmatnya..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Ramalan cuaca menyebutkan besok akan hujan..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-5604561784081453531?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/5604561784081453531/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=5604561784081453531' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5604561784081453531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5604561784081453531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/06/tentang-hujan.html' title='Tentang Hujan'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-7667649279097225248</id><published>2007-05-15T03:32:00.000+08:00</published><updated>2007-05-15T03:58:30.939+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bisnis'/><title type='text'>Melihat Perang dari Kacamata Bisnis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/Rki_WRk97sI/AAAAAAAAACU/4a-aK_q1vE8/s1600-h/baghdad.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/Rki_WRk97sI/AAAAAAAAACU/4a-aK_q1vE8/s200/baghdad.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5064508170374606530" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dangerous places can be hugely profitable&lt;/span&gt;, begitu pameo orang bisnis dalam meyakinkan diri. Ya, setiap bahaya selalu menyiratkan keuntungan luar biasa, tentu bagi mereka yang memiliki cara pandang berbeda melihat perang, misalnya. &lt;st1:place style="font-weight: bold;" st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Baghdad&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; Business School&lt;/span&gt;, sebuah buku yang menyajikan bagaimana pertaruhan masa depan dari seorang manajer bersama sebuah nama besar dalam bisnis logistik. Ini sebenarnya buku lama (ditulis tahun 2004) dan saya beruntung mendapatkannya dengan harga murah (£0.01) dari sebuah marketplace di Amazon.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Setiap kita tentu melihat Irak dengan perangnya adalah tempat yang tidak “sehat” untuk berbisnis. Semua prasyarat normative tak dimiliki negeri itu, saat perang berlangsung, tentu. Keamanan, stabilitas, infrastruktur, dan sederet indicator lain adalah mustahil untuk terpenuhi sejak amerika yang gila perang itu menginvasi Irak.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tapi bagi orang seperti Heyrick Bond Gunning, perang adalah tantangan dan jika berdamai dengannya kita bisa, kesuksesan adalah ganjaran setimpal untuk sebuah kenekatan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Terlepas bahwa alasan ekonomi juga menjadi pendorong bagi Bush untuk mengirimkan ribuan tentaranya ke Irak, banyak kalangan bisnis yang melihat apa yang tidak dilihat oleh mata kebanyakan. DHL, salah satunya. Perusahan logistic terbesar di dunia ini melihat peluang yang tidak kecil. Tentu, mereka tak sekedar bertaruh selayaknya taruhan pacuan kuda atau pertandingan premiership di William Hill. Jadilah reputasi DHL sebagai perusahan logistic terbesar bertemu dengan Irak, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;one of the world’s most inhospitable markets.&lt;/span&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Heyrick mungkin tak cukup bagus jika buku ini diniatkan sebagai sebuah catatan perjalanan yang dalam. Namun buku ini juga menjadi bagus sebagai sebuah catatan diluar mainstream ilmu bisnis yang sangat mengagungkan stabilitas. Tiap chapter dari buku ini pun coba mem”bisnis”&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:state st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; diri. Maka judul seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“developing a business plan”&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“first mover advantage”&lt;/span&gt; atau &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“risk management”&lt;/span&gt; menjadi pembuka dari setiap bagiannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Ia bercerita tentang dilema saat ia ditawarkan merintis DHL di&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Baghdad. Padahal, ia telah mapan dengan profesinya di perusahaan jasa keuangan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mergermarket&lt;/span&gt;. Akhirnya ia pun memilih tantangan DHL dan langsung berangkat selang beberapa hari setelah ia pulang liburan. Untungnya, pengalaman sebagai tentara ia miliki dan tentu saja berharga di tempat seperti &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Baghdad&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang mencekam saat itu. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“It was a chance to do something potentially life-changing”&lt;/span&gt;, begitu ia menghibur diri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Singkat cerita, dalam kurun beberapa bulan armada DHL makin bertambah banyak dan Heyrick pun membawahi lebih dari 30 karyawan. Sebuah pencapaian luar biasa dalam lingkungan yang tidak biasa. Strategi yang diterapkan pun sebenarnya standard saja. Berkawan dengan tentara, mengincar pasar diplomatic dan kedutaan, serta melacak jejak bisnis baru yang bakal muncul. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Cerita menarik ia sajikan tentang bagaimana pekerja Irak yang harus bolak-balik bandara untuk mengurus logsitik dan ternyata belum pernah sekalipun menginjak bandara. Tercatat pula bagaimana orang-orang Irak itu dibayar rendah ($300/bln) namun masih sempat pula berhias dengan kalung dan cincin emas. Bagaimana pula ia harus berkawan dengan wartawan dan mencoba mengambil peran dalam kerja-kerja NGO hanya untuk mendapatkan informasi keamanan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Hambatan dan kesulitan bukannya tidak ada. Namun begitulah bisnis besar dibangun. Google, Microsoft, dan sederet nama-nama besar dalam dunia bisnis tak lahir hanya dari proposal dan sekedar “berusaha”. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; mission impossible yang harus dituntaskan terlebih dahulu sebelum mendapatkan saham mereka menjadi rebutan di bursa.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Perang Irak kini memang belum ada tanda akan berakhir. Namun Heyrick tentu telah mendapatkan sebuah pelajaran berharga dari sekolah bisnis bernama &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Baghdad&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;. Saya tidak telalu heran, jika kemudian ia memang ternyata merupakan satu kesatuan dari paket &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“let’s rescue &lt;/span&gt;&lt;st1:place style="font-style: italic;" st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Iraq&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;”&lt;/span&gt; dari pasukan kolisi pimpinan Amerika. Tapi pelajaran bisnis yang dibaginya, tetap sungguh berarti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-7667649279097225248?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/7667649279097225248/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=7667649279097225248' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/7667649279097225248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/7667649279097225248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/05/melihat-perang-dari-kacamata-bisnis.html' title='Melihat Perang dari Kacamata Bisnis'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/Rki_WRk97sI/AAAAAAAAACU/4a-aK_q1vE8/s72-c/baghdad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-5064641777665811343</id><published>2007-05-10T09:39:00.000+08:00</published><updated>2007-05-15T03:59:43.085+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Belanja'/><title type='text'>Dibuang sayang…</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RkJ4dRk97qI/AAAAAAAAACE/y9rcUOKtyZQ/s1600-h/Carboot8.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RkJ4dRk97qI/AAAAAAAAACE/y9rcUOKtyZQ/s320/Carboot8.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5062741375447854754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Berburu barang bekas selalu memberi pengalaman luar biasa. Setelah mengenal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;charity shop,&lt;/span&gt; saya lalu menjajal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;car boot market&lt;/span&gt;. Encarta mengartikannya sebagai, &lt;i style=""&gt;open sale of people's things: a sale of second-hand and new merchandise from the trunks of people's cars, usually taking place on an open-air site rented for the purpose.&lt;/i&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Yah, inilah pasar yang memuaskan hasrat mereka yang berburu barang bekas. Untungnya lagi, ini juga menjadi wadah bagi mereka yang ingin menjual barang-barang, yang tentu saja sayang untuk dibuang begitu saja. Tak ada batasan dalam hal barang yang diperdagangkan. Mulai dari mainan anak-anak, keramik hingga lemari pakaian. Namun periksa sebelum membeli menjadi pedoman utama, sebab tidak ada garansi, apalagi minta uang kembali. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Jika beruntung, Anda bisa mendapatkan barang-barang langka dari sang pemilik yang merasa sudah tidak punya ruang untuk memarkir barang itu. Seperti sempat tertangkap mata ini, ada satu set alat makan yang terbuat dari perunggu. Barangnya udah tua, ini terlihat dari tahun pembuatan yang tertera di dalam kotaknya. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; juga komik-komik tua pilem-pilem jadul. Tak ketinggalan keramik-keramik ukir yang ukurannya luar biasa serta hiasan-hiasan dinding khas kerajaan. Ada niat untuk membelinya, Cuma terpikir tidak ada lagi ruang tersedia di flat untuk menampung “kegenitan berestetika” dan kesadaran menjadi kolektor yang telat dari saya ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Selain barang-barang bekas, juga terdapat barang-barang baru, yang kebanyakan merupakan barang impor dari Cina dan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Webcam, produk elektronik, serta barang-barang lain yang tentu saja harganya jauh jika dibandingkan dengan banderol toko di city centre. Soal kualitas, yah sedikit mendekati standard lah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Satu lagi, ada juga yang berjualan cd dan dvd bajakan. Pilem Spiderman 3, shooter, bahkan sudah ada dalam format cakram digital ini, meski secara resmi belum dirilis. Namanya bajakan, selalu selangkah lebih maju. Apalagi harga dvd original yang sangat tidak rasional bagi kantong kebanyakan, maka jadilah counter penjualan dvd bajakan ini menjadi salah satu favorit pengunjung. Plus, ada banyak pilihan untuk pilem blue. He..he..Terbukti, mereka pun rupanya tak cukup kuat melawan pembajakan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Satu hal yang saya lihat, tak semua dari pedagang itu menargetkan untung. Meski mereka dikenakan retribusi untuk berdagang, namun tak sedikit yang berpartisipasi demi kesenangan belaka, tak ubahnya berekreasi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Sejam berkeliling, tak ada yang berhasil saya beli. Namanya kunjungan pertama, mungkin butuh kunjungan kedua, ketiga dan berikutnya untuk berkeputusan. Tak apa, kali lain mungkin ada yang melego keramik Cina dari dinasti Ming, atau barang langka lain dan saya beruntung mendapatkannya. Urusan ruang pasti bisa disiasati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Foto: Wikipedia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-5064641777665811343?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/5064641777665811343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=5064641777665811343' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5064641777665811343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5064641777665811343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/05/dibuang-sayang.html' title='Dibuang sayang…'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/RkJ4dRk97qI/AAAAAAAAACE/y9rcUOKtyZQ/s72-c/Carboot8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-3081451322371563828</id><published>2007-04-17T23:23:00.000+08:00</published><updated>2007-04-17T23:31:27.878+08:00</updated><title type='text'>War with next door</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;a href="http://www.statistics.gov.uk/default.asp"&gt;BPS&lt;/a&gt;-nya Inggris menyatakan bahwa tahun 2006 yang lalu ada 6 juta keluhan resmi yang diajukan sebagai protes terhadap tingkah tetangga. Rupa-rupa sebabnya tak lain adalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“selfish attitudes”&lt;/span&gt; yang bisa jadi berupa berisik suara musik, kembang api, tangis bayi, bunyi alarm, dan gonggongan anjing. Mereka menyebutnya sebagai gangguan terhadap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“expectation of quiet”&lt;/span&gt;. Ah ada-ada saja. Itu yang resmi, yang tidak resmi bisa jadi lebih banyak. Salurannya pun bisa berupa balasan teriak, telpon tetangga, atau atau lempar atap rumah tetangga. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Makin modern sebuah kehidupan sepertinya punya implikasi positif terhadap meningkatnya keinginan untuk komplain. Ini memang dimungkinkan, dimana kesadaran masyarakat terbangun untuk kemudian berani menyuarakan aspirasi dan hak mereka dengan jalur yang resmi dan menihilkan keinginan bertindak seenak diri. Muaranya tentu adalah terciptanya sebuah tatanan social yang demokratis dan berkeadaban. Tapi sesederhana itukah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Ah, rasanya jika ukurannya kenikmatan, sekali lagi kenikmatan, dalam batasan tertentu lebih bisa ternikmati hidup bertetangga di batangase &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Meski di Indonesia sendiri sudah banyak muncul kritik terhadap perilaku hidup modern yang meminggirkan rasa kekeluargaan. Saya bisa dengan tenang saja menikmati suara merdu Tommy J Pisa atau Dian Pisesa dengan lagu-lagu sedih mereka dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tape&lt;/span&gt; tetangga depan rumah. Atau alunan lagu-lagu barat yang cadas dari anak tetangga belakang rumah yang mungkin niatnya agar bisa dikatakan gaul. Meski kadang menjengkelkan karena tak kenal waktu, tapi tak membuat saya menjadikannya alasan untuk mengkomplain ria. Oke, ini bisa jadi karena tenggang rasa yang tinggi, ga mau ribut ama tetangga, atau karena tidak ada saluran untuk menyalurkan komplen. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Jadi ingat juga saat kos dulu. Teman disamping kamar saya seorang katolik yang taat. Ia rajin memutar lagu-lagu rohani, hampir sepanjang ia di kosan. Teman kamar sebelah lagi larut dalam alunan rock Jamrud. Tetap aja ternikmati, meski jika magrib tiba saya suka ngetok dinding pembatas kamar sebagai peringatan. Pernah sekali mereka tak mengindahkan, maka pintu kamar mereka pun yang kemudian saya ketuk. Memasang muka masam meski tak bermaksud menakuti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Modern, modernitas, atau apapun namanya selalu menyisakan kompleksitas. Entah kenikmatan hidup yang telah terasa itu akan bertahan atau tergusur dengan komplain-komplain yang tak ada niat lagi untuk mencari solusinya sambil rujakan atau rapat RT. Setelah itu, semua orang akan merasa punya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“neighbour from the hell”&lt;/span&gt;. Hey, bukankah dulu ada pelajaran toleransi di sekolah?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-3081451322371563828?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/3081451322371563828/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=3081451322371563828' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/3081451322371563828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/3081451322371563828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/04/war-with-next-door.html' title='War with next door'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-3343216529522710148</id><published>2007-04-08T09:43:00.000+08:00</published><updated>2007-04-08T18:02:29.615+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita'/><title type='text'>The Hardest Part</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Malam kemarin, saat pulang dari rumah teman saya bertemu dengan sepasang tetangga jauh. Jauh, karena mereka tinggal di lantai 10 dan saya di lantai 5. Mereka sering saya jumpai. Paling sering di lift. Ini tempat kami sering bertukar sapa, sekedar tanya kabar dan diam dengan pikiran masing-masing. Mungkin sambil menerka apa yang ada di pikiran masing-masing. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Setelah sekian lama bertukar sapa, baru semalam saya berani menanyakan nama mereka. Kayak aneh aja rasanya sering jumpa tanpa tahu nama. Yang laki, Arthur (78) dan pasangannya &lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Audry (82). Oh yah, Audry ini mengingatkan saya dengan Barbara dalam &lt;a href="http://www.youtube.com/watch?v=CcHxSTxix9g"&gt;video klip Coldplay, The hardest part&lt;/a&gt;. Gila aja, Barbara yang lebih pas jadi nenek itu dengan lincah dan tanpa ragu menari dan berakrobat layaknya penari latar Madonna yang lincah. &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Lengkap dengan kostum yang serupa Britney Spears dan Madonna itu sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Kembali ke laptop, pasangan tetangga saya ini unik juga. Mereka punya dua anjing yang sangat disayangi. Saya lupa nama kedua anjing itu, soalnya nama Jerman yang agak tidak bersahabat dengan lidah saya. Yang jelas, satu betina dan lainnya jantan. Keduanya sangat sensitive dan suka mengonggong. Sepatu dan celana jadi incarannya untuk dijilat saat di lift. Kedua anjing ini begitu disayang, setidaknya dari cerita mereka berdua yang empat kali sehari rutin membawa anjing ini menghirup udara segar di taman samping flat. Terbayang kelelahan untuk pasangan tua seperti mereka turun dari lantai 10, menghabiskan 20 – 30 menit di taman menanti dengan sabar anjing-anjing mereka bermain dan kemudian kebali ke flat. Begitu seterusnya, setiap hari. Tapi saya tak yakin mereka menganggap itu sebagai the hardest part, mesi rutinitas kadang tak baik bagi akal sehat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Lama kami ngobrol dan saling bertukar cerita. Namun saat itu saya lebih memilih mendengar. Mendengar pengalaman mereka, termasuk kisah cinta mereka, yang baru menikah sejak 8 tahun yang lalu, sesuatu yang biasa aja disini barangkali. Sesekali dalam cerita mereka sering bertukar pandang, sambil saling bertanya jika ada detail yang luput. Ah, sungguh menarik dan romantis juga. Belum lagi kisah Arthur yang banyak menghabiskan waktu dengan berkeliling dunia sementara istrinya mengabdikan diri sebagai perawat hingga kemudian pension. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Saya tak tahu apa mereka punya anak. Cerita pengalaman hidup mereka membuat saya lupa tanyakan soal itu. Apalagi mereka lebih senang cerita soal anjing kesayangan. Jadilah kombinasi cerita anjing, nikah tua dan keliling dunia menjadi topik utama silaturrahmi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Malam itu sebenarnya masih ingin saya dengar banyak cerita lagi. Tapi tak tega juga melihat badan tetangga tua saya itu yang mulai menggigil karena angin yang menusuk. Meski sudah spring, dingin bukan berarti pergi begitu saja. Saya pun rasanya tak tahan juga. Tak ber-jumper, dan pula tak ber-sepatu membuat pilihan menjadi terbatas. Tadi sekedar niat mengetes daya tahan tubuh, dan percaya dengan cerahnya cuaca. Namun salah, cerah tak berarti hangat. Maka pamitlah saya sambil berjanji untuk bersua mereka lagi dan berharap semoga besok ada cerita baru untuk didengar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-3343216529522710148?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/3343216529522710148/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=3343216529522710148' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/3343216529522710148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/3343216529522710148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/04/hardest-part.html' title='The Hardest Part'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-5003272088408203056</id><published>2007-03-30T07:20:00.000+08:00</published><updated>2007-03-30T07:26:27.288+08:00</updated><title type='text'>Syukur</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Cerita tentang kehidupan individual di negeri ini sudah sering saya dengar. Wanti-wanti seperti ini juga yang banyak dilontarkan saat mengikuti training sebelum berangkat kesini. Yah tidak kenal ama tetangga lah, tak suka campur-urus perkara orang lain lah, hingga yang agak keren dikit, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;don’t put your foot on other’ shoes&lt;/span&gt;, sebagai nasihat mumpuni.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Namun kemarin, tepatnya minggu kemarin saya merasa perlu sedikit menata kembali pikiran sambil berucap syukur bahwa saya masih bisa punya tetangga. Contoh-contoh seperti yang terungkap diatas memang telah terjalani dengan baik. Namun yang ini, sungguh, tak sampai hati rasanya. Menjadi individu yang merdeka tentu punya resiko, tapi tetap saja, ada “rasa” yang hilang dari hidup itu sendiri. Kesadaran seperti ini sebenarnya sudah banyak dilontarkan. Dalam beberapa kampanye politik saat menjelang pemilihan presiden (salah satunya Bush) di negara maju, kampanye untuk mengembalikan peran keluarga dan masyarakat sebagai kekuatan makin nyaring disuarakan. Soal berhasil atau tidak, itu urusan lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Tetangga yang tinggal tepat diatas flat (lantai 6) kami meninggal. Parahnya, tubuh layunya ditemukan setelah seminggu lebih ia menghembuskan nafas terakhir. Itu pun berkat spekulasi Martin, si loper koran yang mencium bau menyengat saat mencoba memasukkan koran melalui lobang &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;surat&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Sang loper juga kebetulan tinggal seflat, tepatnya di lantai tujuh. Ia coba memanggil dan mengetuk pintu, lama tak ada jawab, ia pun menelpon polisi. Dan kekhawatirannya pun terbukti..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Operasi polisi ini praktis diam dan tanpa pelibatan tetangga. Buktinya, tetangga lain yang tinggal selantai dengan ia yang meninggal dunia pun tak tahu. Saya, istri dan teman serumah pun mengetahuinya dari cerita Martin, yang memang dekat dengan kami. Saat turun ingin keluar flat, ia melonjak dan kaget mendengar bunyi pintu kami buka. Rupanya bayangan buruk sejak ia mencium bau menyengat itu belum juga pergi. Awalnya ia tak mau berbagi cerita. Tapi setelah didesak, akhirnya ia pun menuturkan cerita itu, dengan catatan tak usah membagi cerita ke tetangga yang lain. Mungkin agar tak mengganggu stabilitas, begitu pikir saya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Sehari setelah persitiwa itu pun, tak ada reaksi luar biasa. Bahkan, saya menjamin tidak banyak penghuni yang tahu. Kami memang tidak dekat dengannya, bahkan cuma sesekali berpapasan dengan tetangga itu. Tapi tetap saja, ada rasa yang mengganggu. Sebagai tetangga, tentu tak sekedar urusan "elok" jika memilih melibatkan diri, atau sekedar khawatir. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Oh yah, gedung tempat kami tinggal ini berisi flat yang kebanyakan penghuninya adalah pensiunan. Banyak diantara mereka malah tinggal sendiri, tidak ada keluarga dan anak. Mungkin karena tak ingin dianggap durhaka, anak mereka kemudian memilih menyewakan flat ketimbang membawa orang tua mereka ke panti jompo. Nasib yang sama menimpa tetangga yang meninggal itu. Ia sendiri, tidak ada sesiapa yang menemani. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Di negeri ini, teknologi dan masa depan sama tidak jelas ujungnya, kalau toh ia pas untuk disandingkan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Smartphone&lt;/span&gt; hari ini, akan menjadi purba dalam rentang tak terlalu lama dan tergantikan dengan sesuatu yang baru. Kita jadi tak bisa membayangkan, bagaimana akhir dari gerak maju teknologi ini. Hidup juga begitu, tua dan kematian seperti suatu yang tak tergambar. Banyak nilai yang kemudian tergantikan. Lalu, dimanakah kenikmatan hidup yang dicita-citakan itu?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;Kembali, saya harus mengucap syukur..&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-5003272088408203056?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/5003272088408203056/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=5003272088408203056' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5003272088408203056'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/5003272088408203056'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/03/syukur.html' title='Syukur'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-7747268858823300009</id><published>2007-03-20T08:58:00.000+08:00</published><updated>2007-03-20T09:02:28.528+08:00</updated><title type='text'>Gombalisasi</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Ini kali kelima ada orang yang menganggap saya orang &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Kali ini kawan dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;Tanzania&lt;/st1:country-region&gt;, setelah sebelumnya kawan dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;Korea&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Bangladesh&lt;/st1:country-region&gt;, &lt;st1:country-region st="on"&gt;Pakistan&lt;/st1:country-region&gt; dan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;India&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; sendiri. Khusus yang India, sampai lebih dari dua orang. Apa karena saya mirip Saruk Khan atau karena kulit sawo yang kelewat matang khas &lt;st1:place st="on"&gt;asia&lt;/st1:place&gt;? Yang lebih parah saat orang &lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt; sendiri yang mengira saya sekampung, sambil bertanya dengan bahasa &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Tak salah, saat itu saya jadi bingung sendiri, sambil menenangkan hati bahwa mereka tidak sedang mengejek saya. Sebelumnya pula, ada dugaan yang tidak terlalu buruk. Saya dari Philipina atau &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Thailand&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Yah, ASEAN lah, skornya ga terlalu buruk untuk urusan tebakan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Kasus saya mungkin masih mendingan. Teman dari &lt;st1:country-region st="on"&gt;Korea&lt;/st1:country-region&gt;, yang dari tampang dan nama jelas khas &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Korea&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; malah dianggap berasal dari Afrika. Ini kejadian saat ia mengurus SIM Inggris, mengalihkan status SIM Korea nya. Entah ini kesalahan pengisian form atau apa, yg jelas di SIM itu tertera asalnya dari Afrika. Terbukti, modern, teknologi tinggi, tak menjamin manusia menjadi lebih bercita rasa. Ini bukan soal rasisme atau upaya diskriminasi, tapi begitulah adanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Globalisasi, dari kaca mata bisnis dan ekonomi punya arti sederhana. Tidak ada batas, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;borderless&lt;/span&gt;, bahasa kerennya. Lupakan dulu definisi-definisi rumit dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;scholar&lt;/span&gt; dan jurnal. Sederhananya ya seperti itu, ga terbatas. Dan ternyata, itu yang terjadi beberapa dekade belakangan ini. Tak ada batas, dalam arti bahwa tak terbatas upaya orang untuk mengira saya sebagai orang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Tak terbatas pula upaya saya untuk menganggap diri sebagai Brad Pitt, meski untuk yang ini dijamin ga ada yang bakal percaya. Tapi yah, namanya juga usaha.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Atau, beberapa hari ke depan mungkin ada yang menganggap saya sekampung mereka di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Shanghai&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;. Siapa tahu…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-7747268858823300009?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/7747268858823300009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=7747268858823300009' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/7747268858823300009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/7747268858823300009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/03/gombalisasi.html' title='Gombalisasi'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-7288886382507896310</id><published>2007-03-17T23:17:00.000+08:00</published><updated>2007-03-17T23:18:06.412+08:00</updated><title type='text'>Bahagia</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Pekan ini, saya terima banyak kabar bahagia. Maksudnya, mereka yang mengabarkan berita berbahagia, saya pun berbahagia mendengarnya. Dua orang kawan, akan “menuntaskan masa lajang”, begitu kutipan resmi dari pesan di milis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Kawan pertama, ada di Bone. Ia pernah menjadi teman serumah. Ah, tepatnya saya yang menumpang di rumahnya. Tak ada nama siapa pendampingnya, tapi yang jelas, tetap semangat dan selamat untuknya. Sejak lama ia memang memiliki niatan itu, mungkin baru sekarang dapat jawaban dari shalat istikharahnya yang khusyuk itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Kawan kedua di tanah jauh &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, di Vermont. Undangan via milis dan harapan agar doa terkirim untuk mereka, disertai kutipan manis dari M. Scott Peck, M.D., &lt;i style=""&gt;“Love is the exercise of choice. Two people love each other only when they are quite capable of living without each other but choose to live with each other”&lt;/i&gt;. Sungguh luar biasa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Dunia ini makin menarik memang, sejak kita sadar dan tahu bahwa tidak semua hal yang kita rancang, dengan matang sekalipun, akan berwujud. Begitulah adanya hidup.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Selamat berbahagia, kawan(s).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-7288886382507896310?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/7288886382507896310/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=7288886382507896310' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/7288886382507896310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/7288886382507896310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/03/bahagia.html' title='Bahagia'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-2246122692872255719</id><published>2007-03-13T04:27:00.000+08:00</published><updated>2007-03-13T04:30:09.199+08:00</updated><title type='text'>Terima kasih</title><content type='html'>Kaos tak dapat ditolak, kopi Turki tak dapat ditampik. Ya, saya beruntung rasanya mendapatkan 2 kaos dari teman yang baru pulang dari Cina. Saya lupa nama kota tempat ia tinggal, kalau tidak salah di bagian selatan Beijing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa spesialnya kaos Cina itu? Pertama, tentu karena itu pemberian dan patut dihargai. Kedua, ini yang tidak penting, Oke, hampir 70% produk TPT (tekstil dan produk tekstil) yang ada di dunia ini rasanya made in China. Ini hanya kisaran kasar, tapi saking banyaknya, yah kisaran itu bisa jadi halus. Entah itu bermerek adidas, nike atau umbro. Tapi yang ini, asli buatan China tanpa merek-merek global yang "mengintimidasi" itu. Yang pertama tulisan kaligrafi cina yang artinya kesejahteraan. “Semoga ini menjadi doa bagi perjalanan hidup kamu”, begitu kata teman saya. Kaos yang kedua bergambar Deng Xiaoping, tokoh penting dibalik kesuksesan Cina. Ia terkenal dengan ungkapannya, “bukan kucing hitam atau kucing putih yang penting, melainkan kucing yang dapat menangkap tikus”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kopi Turki? Ah, itu hadiah dari teman Jepang yang baru menghabiskan &lt;em&gt;weekend&lt;/em&gt; di Turki. Tahu saya penggemar kopi, maka jadilah kopi Arabica dengan sampul coklat berbahasa turki itu yang jadi pilihan cenderamata. Ketika saya tanya apa artinya, ia cuma yakin bahwa itu kopi enak. Soal arti, masihkah ia perlu saat kita menyeruputnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih untuk mereka berdua. Semoga ada kesempatan untuk berbalas baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-2246122692872255719?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/2246122692872255719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=2246122692872255719' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/2246122692872255719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/2246122692872255719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/03/terima-kasih.html' title='Terima kasih'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-462369563104061657</id><published>2007-03-08T09:25:00.000+08:00</published><updated>2007-03-08T09:39:28.228+08:00</updated><title type='text'>Ini Hari</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Lama tak mampir ke blog ini. Bukan soal tugas yang menumpuk, atau tidak ada ide. Bukan itu betul yang membuat rumah sederhana ini jarang ditengok. Cuma malas aja, ga lebih, itu agar tampak lebih bertanggung jawab aja kelihatannya. Selebihnya, yah emang belum cukup berdisiplin aja, begitu kata &lt;a href="http://pecandubuku.blogspot.com"&gt;aan&lt;/a&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Saat antri menunggu pesanan cheese burger untuk makan siang, tiba-tiba dihampiri seorang kawan &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang mengajak nonton All England. Katanya ada tiket satu biji, gratis. Yang punya tiket lebih memilih ke &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Manchester&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; nonton piala champion. Baguslah kalo begitu, rezeki memang tidak jauh-jauh, begitu kata orang bijak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Sebenarnya sejak bulan lalu udah ada tawaran tiket yang diumumkan di milis. Namun karena bertepatan dengan jadwal sekolah dan assignment yang seperti janjian bikin deadline berdekatan, maka saya tak tertarik untuk beli tiket. Alasan lain, dan ini yang utama, harganya cukup membuat kita merogoh kocek lebih dalam [ini istilah koran yang sejujurnya ga pas], meski untuk sudent selalu ada diskon yang cukup membantu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Tawaran itu rasanya sayang untuk dilewatkan, meski saya bahkan tidak tahu siapa pemain &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang akan main. Tapi tak apa, hitung-hitung cari pengalaman. Makan siang itu terpaksa panas-panas dibungkus, soal rasanya yang tidak gurih dan lezat lagi ga masalah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Sesampai di National Indoor Arena, saya betul-betul serupa orang yang tak berpengalaman. &lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:City&gt; dua ganda &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; yang sedang bermain di lapangan, tak ada satupun yang saya tahu namanya. Kan ada nama mereka di belakang kaos? Iya, tapi entah siapa yang mendesain kostum itu, nama pemain jadi tidak jelas. Kalau toh warnanya jelas, pilihan hruf tegak jadi tidak pas dengan nama orang Indonesia yang panjang. Untuk pelupa dan bukan fans atlit bulutangkis seperti saya, itu tentu membuat diri menjadi sedih [sampai segitunya..] Terpaksalah teman sebelah duduk yang udah berbaik hati memberikan tiket gratis berubah fungsi seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tourist guide&lt;/span&gt; menjelaskan siapa dan bagaimana jejak rekam pemain-pemain itu. Iya, sangat detail teman itu menjelaskan, lengkap dengan gosip-gosip serta item-item yang ada di ensiklopedia lainnya,  entah itu tentang kejuaran yang pernah diikutinya atau tentang momen yang dikenangnya saat menonton pemain itu melalui tipi di rumahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Kalau soal atmosfer, yah miriplah kalau nonton-nonton lainnya. Teriak dan rebut-ribut. Cuma gregetnya belum luar biasa, masih pecah karena dari enam lapangan yang tersedia semuanya terepakai. Jadi, agak susah untuk fokus nonton satu pertandingan. Yang menarik bagi saya adalah bahwa tadi ada beberapa pemain dengan nama yang sangat &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; (akhiran “to” atau “wan”) yang membela negara seperti Perancis, Hongkong dan juga &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;USA&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Partai ganda putra tadi, saat &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; versus Hongkong. Kedua ganda itu asli &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;, untungnya &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; menang. Kasian soalnya lihat tim Hongkong itu dicaci dan dianggap seperti penghianat. Teriakan seperti bukan “Indonesia asli”, “Dimana rumah Lo” sampai yang kasar seperti “penghianat Lo” tak henti bergema [duh, hyper lg nih].  Ah, kasian betul mereka. Bukankah mereka tak ada bedanya dengan insinyur Indonesia yang kerja di Shell atau BP? Atau Wirawan [sungguh, ini nama samaran] yang menghabiskan seperempat umurnya di lembaga riset pertahanan Inggris sebagai ahli rudal? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Yang menarik lainnya, cerita dari anak-anak di PPI tentang tingkah dan kebiasaan pemain &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; saat bertandang disini. Menurut kabar, ada pemain yang kalah saat pertandingan penyisihan pagi tadi, langung berangkat ke &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Manchester&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; untuk nonton piala champion. Pokoknya banyaklah mereka cerita, sebab saat menjemput di bandara hingga menemani jalan-jalan, katanya selalu ada yang “menarik”, meski belum pas untuk dikonsumsi banyak orang. Apalagi kalau wartawan infotainment tahu, bisa kelewatan jadinya. Seberapa menarik, saya sendiri tidak tahu dan tidak berani berspekulasi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Belum ada kabar terbaru apa besok hingga final hari akan ada tiket gratis lagi. Tapi semoga saja ada dan bisa nonton lagi. Kali ini akan lebih menarik, meski tidak ada jaminan pemain Indonesia akan terus berlaga hingga akhir pertandingan. Kalau toh tak ada, semoga tim &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; bisa berbuat yang terbaik, sambil membayangkan diri sebagai pejabat olahraga yang sedang melepas keberangkatan kontingen setelah di beberapa paragrap di atas mencoba menjadi wartawan olahraga plus gosip.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-462369563104061657?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/462369563104061657/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=462369563104061657' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/462369563104061657'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/462369563104061657'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/03/ini-hari.html' title='Ini Hari'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-7103965307549008955</id><published>2007-02-17T09:07:00.000+08:00</published><updated>2007-02-17T09:23:05.118+08:00</updated><title type='text'>Segelas coklat dan Brosur</title><content type='html'>&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Hujan+angin=dingin. Tapi jika saat dingin seperti ini ada yang tawari segelas coklat gratis, tentu menyenangkan. Begitulah, saat melintas di depan sekolah, ada pemuda &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;India&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; [tak perlu penjelasan soal ini. Rautnya serupa Amitha Bachan dan cara bertuturnya berkecepatan di atas rata-rata, maafkan saya…] menawarkan segelas coklat panas dan brosur. Yang utama tentu brosurnya, coklat panas itu sebagai penghargaan atau "bonus" karena udah mau terima brosur mereka. Soal dibaca atau tidak, lembar-lembar brosur yang hampir semuanya bahkan belum sempat dibalik ke lembar kedua tercecer hanya semeter dari gerobak yang dipenuhi logo PWC itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Perusahaan itu perusahaan gede. Siapa yang tak kenal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Price Waterhouse Cooper (PWC)&lt;/span&gt;? Di Indonesia, ini perusahaan beken untuk urusan audit dan performance improvement. Soal bayarannya, lihat saja dalam laporan keuangan tahunan dari perusahaan yang pake jasa mereka. Lalu, apa pula hubungan PWC ini dengan coklat?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;Tak ada, ini hanya trik pemasaran biasa. Kata orang pemasaran sih, ini namanya Above the Line. Mereka sedang mencari "tenaga-tenaga terampil" [ini &lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt; khas sebuah radio di &lt;st1:place st="on"&gt;Makassar&lt;/st1:place&gt; dalam mengiklankan lowongan atau lembaga pendidikan] untuk direkrut dalam perusahaan. Mereka kesannya menjemput bola, sebab perusahaan lain, tentu tak ingin luput mendapatkan tenaga-tenaga terampil yang dibutuhkan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Namun masalahnya, Anda tentu bosan dengan selebaran yang dibagikan dan belum tentu pas dan menarik hati. Sudah tak menarik, menyita waktu, malah bisa berakibat fatal jika anda salah membuang sampah. Namun jika dengan segelas coklat dalam dingin hari, ehm rasanya setimpal. Toh, anda tak perlu baca, apalagi paham isi brosur, itu jika memang tidak tertarik. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Tapi mbok yah dibaca jugalah, kali aja ada info yang bermanfaat.. )&lt;/span&gt;. Selain itu, ada kotak sampah tersedia menampung brosur buangan anda. Jika lemparan anda melset, tak usah khawatir, pemuda pembagi brosur itu akan memasukkannya tepat ke tempat yang pas.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Cara seperti ini rasanya lazim di sini, mungkin karena seringnya orang di jalan menampik pemberian brosur. Meski bagi-bagi brosur tanpa imbalan tetap saja ada, terutama acara-acara mahasiswa dan klub-klub. Nah, soal bonus ini lagi, kemarin ada pula perusahaan kue yang membagikan brosur mengenai produk mereka, disertai dengan contoh produk. Jadilah saya menikmati apple pie gratis, yang kalau beli di McDonald atau fish and chips outlet harganya lumayan, lumayan murah sih kadang...&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Model ini tak hanya monopoli perusahaan atau mereka yang berharap untung. Beberapa waktu lalu, dengan hari yang berbeda, dinas pemadam kebakaran dan kepolisian wilayah melakukan hal serupa. Pemadam kebakaran ini datang lengkap dengan personel dan mobil berperalatan lengkap. Tujuannya sekedar mengingatkan bahaya kebakaran serta memberi tips dalam menghadapi kebakaran. Tak lupa mereka memberikan contoh aksi dengan kobaran api dan bagaimana mencegah agar api tak menjalar. Bonusnya? Banyak gantungan kunci dan boleh foto bareng dengan petugas pemadam kebakaran. Sesi foto ini banyak menarik perhatian mahasiswa internasional, mungkin karena image pemadam kebakaran yang naik oleh peristiwa 9/11 kali ya?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Lalu polisi. Pemilik seragam hitam putih ini datang juga dengan wajah ramah dan beragam souvenir. Niatan mereka sekedar mengingatkan untuk menjaga keselamatan dan juga menjaga sepeda. Ya, penyuluhan standard lah, meski tidak perlu ngumpul-ngumpul sebagaimana layaknya penyuluhan PKK atau LKMD. Cukup anda bertanya, dan dijawab, tentu selama anda tidak bertanya soal teori &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Time Valaue of Money &lt;/span&gt;yang mudah tapi cukup membingungkan itu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Selain bersuluh[?] mereka juga membagikan souvenir menarik. Tatakan gelas yang jika lihat desainnya, tak nyangka itu dari polisi. Asli menarik dan unik, mirip-mirip desain di majalah underground yang serba dinamis. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; juga gantungan kunci serta alarm diri, yang nyaringnya luar biasa. Tak ketinggalan, mereka juga menjual kunci dan gembok sepeda dengan harga jauh dibawah harga pasar. Soal kualitas? Ini produk polisi bung, tentu mereka tahu soal kunci dan pembongkar kunci.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="EN-GB"&gt;Hari-hari besok, semoga ada perusahaan laptop yang bagi-bagi brosur dan produknya dengan gratis. Tapi akankah?&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-7103965307549008955?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/7103965307549008955/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=7103965307549008955' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/7103965307549008955'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/7103965307549008955'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/02/segelas-coklat-dan-brosur.html' title='Segelas coklat dan Brosur'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-117148169436838532</id><published>2007-02-15T03:27:00.000+08:00</published><updated>2007-02-15T03:34:54.656+08:00</updated><title type='text'>Sudahkah Anda Pesan Meja Hari ini?</title><content type='html'>“&lt;em&gt;Abulla&lt;/em&gt;, sudah pesan meja untuk malam ini? tanya  teman saya asal Taiwan, Jay, saat menanti kelas di pagi hari. &lt;em&gt;Abulla,&lt;/em&gt; begitu nama saya dipanggilnya. Mungkin sulit baginya menyebut sempurna nama saya. Entah karena soal lidah atau memang ia asing dengan nama seperti itu. Meski sudah kulatih untuk menyebut yang benar, ia tetap saja kesulitan. Tak apalah, yang penting nama saya tidak diganti-gantinya. Sebab banyak teman-teman, khususnya dari Cina, Taiwan, dan Korea memiliki nama alias. Michael, Peter, Cristy, menjadi nama pasaran. Ada beberapa bahakn yang memiliki nama alias yang serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal meja, saya balik bertanya, “Meja apaan, Jay?”. Yang ditanya malah kelihatan bengong dan seperti tak habis pikir. &lt;em&gt;“Come on man, it’s valentine”.&lt;/em&gt; Ia kemudian bercerita bagaimana ia sulit mendapatkan meja untuk candle dinner bersama pacarnya yang akan datang dari Warwick. Beberapa restoran telah ditelponnya, namun malam ini semuanya udah fool booked. Ia masih coba beberapa alternatif, namun jika tetap tidak ada, ia dan pacarnya akan menghabiskan malam di city centre, meski tak ada menu special dan sebatang lilin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak habis pikir saya. Kupikir saat pagi tadi seorang pendengar di radio minta tolong kepada penyiar agar dicarikan meja untuk makan malam itu hanyalah lelucon. Ternyata benar adanya. Jay, teman saya itu bernasib sama. Ini ditambah pula dengan perbincangan tentang rencana melewatkan malam dan beragam caranya dari mahasiswa di &lt;em&gt;common room&lt;/em&gt; tempat biasa kami berkumpul saat makan siang. Dari curi-curi dengar saya jadi tahu, mala mini ternyata special, paling tidak begitu dari cara mereka berencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita saol valentine, sejarah dan beragam versinya telah banyak ditulis. Tak kalah luar biasanya dengan catatan akhir tahun atau tulisan tentang hari kemerdekaan di Indonesia. Termasuk coklat dan bunga, yang sering menjadi pertanda perayaannya. Terima kasih untuk media dan pengiklan yang makin membuat ari yang sebenarnya biasa aja ini menjadi special [bagi mereka yang merasakan special, tentunya. Buat yang merasa biasa aja, ga usah khawatir, kalian tak sendiri]. Namun mendengar cerita Jay, perbincangan di &lt;em&gt;common room&lt;/em&gt; dan siaran radio pagi tadi, saya baru tahu soal makan malam yang serunya seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, di flat kami punya meja makan yang lumayan lapang. Tempat kami biasa melewatkan sarapan dan makan malam bersama. Tiba-tiba saya jadi khawatir, jangan-jangan meja kami pun sudah ada yang memesan…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-117148169436838532?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/117148169436838532/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=117148169436838532' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/117148169436838532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/117148169436838532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/02/sudahkah-anda-pesan-meja-hari-ini.html' title='Sudahkah Anda Pesan Meja Hari ini?'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-117140982818212052</id><published>2007-02-14T07:34:00.000+08:00</published><updated>2007-02-14T07:37:08.520+08:00</updated><title type='text'>Duta Bangsa</title><content type='html'>Business Policy and Strategic Management, modul paling pagi (9 am) dan jarang diikuti lengkap oleh seluruh students yang jumlahnya sekitar 30an. Kali ini yang dibahas tentang Hofstede’s Cultural Dimension theory. Teori ini sebenarnya coba menggambarkan perbedaan kultur yang harus menjadi perhatian pebisnis sebelum mencoba masuk atau ingin langgeng dalam arena 'bermain'. Hofstede Theory is based on the assumption that countries can be compared with each other by rating the following parameters; uncertainty avoidance, power distance, individualism versus collectivism, assertiveness, and future orientation.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana melihat ini secara sederhana? Simply look at the company’s annual report. It’s different when you read annual report from the US company and Europe company. The US company tend to bombardier you with the figure and a lot of numbers, whilst Europe company neglect it and judge that as an impolite. Perbedaan seperti ini tentu saja tidak mencolok, namun tetaplah mudah untuk dirasakan. Soal bisnis harus tahu culture, tentu saja semua setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik bagi saya saat faktor-faktor ini dijabarkan, lengkap dengan negara-negara yang menjadi contoh dari faktor tersebut. Ada nama Indonesia di sana, tepat sejajar dengan faktor short-term versus long-term view serta uncertainty avoidance. Apa artinya ini? Indonesia “kebetulan” masuk sebagai bagain dari Negara-negara yang derajat kepastian dan stabilitasnya rendah sekaligus tidak paten dengan cara pandang yang jauh ke depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihan juga Indonesia jika begini, pikirku. Apalagi kalau mau jujur, hampir di setiap unsur nama Indonesia bisa ada, khususnya dalam konteks yang “tidak baik-baik amat”. Tapi jangan selalu merendah diri, terlebih untuk sesuatu yang debatable. Beberapa waktu lalu terlihat bagaimana kelemahan peneliti-peneliti asing di Word Bank dalam “membaca” politik perberasan di tanah air. Tercatat pula bagaimana IMF terbukti salah dalam memberi resep ketika Indonesia menghadapi krisis moneter yang berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat rehat, kawan dari Libya [saya masih penasaran, mungkin dia anak Khadafi] bertanya kepadaku, apakah benar apa yang disampaikan oleh dosen itu? Tiba-tiba saya mau menjadi duta bangsa yang baik, dan akhirnya, tanduk untuk ngeles tumbuh dengan seksama. Saya jawab aja bahwa dalam konteks ilmiah, pendapat itu benar karena sudah melalui proses ilmiah. Namun dalam kenyataannya, kadang jauh berbeda, atau paling tidak sedikit keliru. Mau bukti? Soal fleksibilitas, itu yang bangsa ini punya, dan sangat banyak bangsa tidak memilikinya. Bangsa Indonesia lebih fleksibel, hingga saking fleksibelnya kita tak punya rencana jangka panjang. Di tengah jalan, rencana bisa dirombak, tergantung kondisi dan perencana, jangan lupa tergantung penguasa juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih kurang? Sekarang soal kolektivitas kalo begitu. Gotong royong, bahkan dalam segala urusan. Tak saja soal bersih-bersih lingkungan, korupsi dan demo mendesak peningkatan gaji bagi DPRD pun dilakukan secara kolektif. Meski, belum tentu untuk urusan penjara dan menjalani hukuman kolektifitas itu tetap terjaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu, yang saya katakan padanya itu adalah “terjemahan kelewat bebas” dari apa yang dimaksud Hofstede. Namun begitulah, selalu ada keinginan ngeles kalo soal Indonesia. Bukan soal bahwa saya cinta tanah air. Tak juga karena chauvinisme telah begitu popular setelah ajang Putri Indonesia digelar beberapa waktu lalu dan salah seorang pesertanya tak tahu apa arti kata itu, sehingga koran dan tipi pun berubah menjadi kamus khusus kata itu. Lalu, jika bukan karena itu, lalu kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak ingin menyebutnya sebagai perwujudan nasionalisme. Tak juga, sebab nasionalisme kini telah mengambil tempat di pinggir pusaran setelah tak kuat melawan arus keras globalisasi. Kalau toh sikap seperti itu tetap masuk kategori nasionalisme, baiklah, berarti nasionalisme yang saya punya mungkin sudah kadaluwarsa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-117140982818212052?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/117140982818212052/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=117140982818212052' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/117140982818212052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/117140982818212052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/02/duta-bangsa.html' title='Duta Bangsa'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-117009173983335122</id><published>2007-01-30T01:14:00.000+08:00</published><updated>2007-01-30T01:32:37.876+08:00</updated><title type='text'>Puisi Cinta dalam Perjalanan</title><content type='html'>Divisi apa yang paling berat dalam sebuah perusahaan? Pemasaran, &lt;em&gt;marketing&lt;/em&gt; kerennya, begitu kata seorang kawan yang telah bekerja di salah satu bank swasta. Sebagai bagian dari divisi “menjual” [sebagaimana yang banyak dipahami dari konsep &lt;em&gt;marketing&lt;/em&gt;] ini, ia dituntut untuk mencapai bahkan melampaui target jumlah nasabah dan jumlah duit yang mengucur sebagai kredit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kalau kita bicara dalam konteks bank, sebagai bisnis. Lalu bagaimanakah marketing dalam konteks kekinian? &lt;em&gt;[duhh..kekinian bow]&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Saya tak minat untuk membahasnya secara filosifis dan sok akademis, tapi lebih suka melihatnya dari sudut aplikasinya. Saat berada di train station menanti kereta, selain jejeran bilboard produk-produk ”biasa” [paket liburan, pilem baru, pakaian model baru, makanan dan minuman—pokoknya yang &lt;em&gt;mass product&lt;/em&gt; deh..] tak sedikit bilboard atau iklan yang memasarkan buku [kebanyakan novel] baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini mungkin ada kaitannya dengan kebiasaan masyarakat disini untuk mengisi waktu dalam perjalanan dengan membaca. Maka seluruh stasiun kereta menjadi lahan yang ”basah” untuk novel dan buku baru memperkenalkan diri. Ini mungkin biasa saja, namun konsep &lt;em&gt;marketing &lt;/em&gt;dari penerbit dan novelis sungguh jitu dan lebih mengena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ketika dulu saya sering mendengar dari orang-orang yang pernah ke luar negeri bahwa masyarakat barat [dan juga Jepang] menjadi pintar karena banyak membaca, saya jadi curiga, ada penerbit yang ”bermain” di sana [waduh, kok saya tiba-tiba jadi senang dengan teori konspirasi...].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku, novel, itu produk yang &lt;em&gt;tangible&lt;/em&gt;. Lalu bagaimana dengan memasarkan pengetahuan, konsep atau pemahaman yang &lt;em&gt;intangible&lt;/em&gt; atau bisalah kita kategorikan sebagai kampanye?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;What am I after all but a child, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;pleas`d with the sound of my own name? &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;repeating it over and over;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;I stand apart to hear - it never tires me.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;To you your name also;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Did you think there was nothing but two or three&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;pronunciations in the sound of your name?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Walt Whitman, 1819 - 92) &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;London Underground&lt;/strong&gt; membuat saya terkesima. Berbeda dengan kemarin-kemarin, sekarang ada yang baru di Underground. &lt;em&gt;&lt;a href="http://www.tfl.gov.uk/tube/arts/poems/"&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Poem on the Underground&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;&lt;/em&gt;, ini semacam kampanye untuk mencintai puisi atau mengenalkan puisi kepada masyarakat. Tak perlu menjadi sadar dan menjadi sok puitis, targetnya sekedar bagaimana puisi bisa menjadi kata batin dari masyarakat. Hal yang sama rasanya pernah dilakukan juga oleh pengembang apartemen mewah di Jakarta, namun apa motifnya, saya tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka saat menuju restoran Mawar [rumah makan Malaysia dengan rasa yang sangat pas di lidah kampoeng saya] dan saat balik ke Marylebone, di &lt;em&gt;tube&lt;/em&gt; saya bisa menikmati puisi dari Whitman di atas. Atau juga Henry Vaughan [jujur, saya tidak tahu siapa dia…] yang judulnya &lt;em&gt;“from the world&lt;/em&gt;”, atau ada juga puisi &lt;em&gt;“No man is an Island”&lt;/em&gt; dari John Donne. Kampanye ini telah berjalan sejak 1986 dan setiap tahun, puisi-puisi yang dipajang di Underground dibukukan dan dijual lagi kepada masyarakat. Nah, bisnis lagi, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan Tanya saya mengenai puisi-puisi itu dan penciptanya, teman &lt;a href="http://pecandubuku.blogspot.com"&gt;&lt;strong&gt;Aan&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;strong&gt; &lt;/strong&gt;ini mungkin lebih tahu. Atau bisa juga tanya &lt;span style="color:#000099;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://pasarcidu.blogspot.com"&gt;wartawan Ahmad&lt;/a&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;, yang juga pandai berpuisi. Tapi yang pasti, ini sebuah bentuk “percakapan” antara penyair dan masyarakat, yang dalam pandangan saya penyair juga manusia dan juga harus membumi serta memasyarakat. Yang terpenting, puisi-puisi itu seperti meneduhkan dari panasnya rutinitas kota besar. Analisis ini bias saja keliru, karena saya memang tidak ahli dalam bidang ini, meski juga tetap tidak ahli dalam bidang yang lain..he..he..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ada apa dengan iklan buku di stasiun dan puisi cinta di kereta bawah tanah itu? Kreatifitas dan visi berjalin padu untuk sebuah tujuan. Ga perlu &lt;em&gt;genit&lt;/em&gt; ngomong kapitalisme dan produk barat segala, terlalu jauh dan memang saya tidak mengarah ke sana. Yang saya ingin sampaikan sekedar bagaimana menyiasati kendala dan mengubahnya menjadi sebuah peluang dengan segala inovasi dan kreasi. Selain itu, ini merupakan konsep menarik yang bisa dikembangkan. Itu saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-117009173983335122?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/117009173983335122/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=117009173983335122' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/117009173983335122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/117009173983335122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/01/puisi-cinta-dalam-perjalanan.html' title='Puisi Cinta dalam Perjalanan'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116976215717414899</id><published>2007-01-26T05:50:00.000+08:00</published><updated>2007-01-26T05:55:58.890+08:00</updated><title type='text'>PSM tidak "Jantan"</title><content type='html'>Beberapa hari belakangan ini, topik berita mengenai pemanfaatan APBD bagi klub-klub sepakbola di Indonesia menjadi hangat. Namun sayangnya, ini tidak menular juga kepada media-media lokal di Makassar. Entah saya yang luput dalam membacanya atau mereka memang tidak minat. Tidak ada satupun media yang coba mempertanyakan penggunaan Rp 15 milyar APBD [Sulsel dan Makassar] oleh PSM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana sejumlah ini, tercatat resmi namun tidak terutup kemungkinan jumlahnya lebih besar lagi. Sebab modus operandi titip-titip dalam mata anggaran di APBD bukan lagi hal yang luar biasa. Dana yang dianggarkan di dinas tertentu belum tentu untuk kepentingan dinas itu, apalagi jika mata anggarannya memang sudah "abu-abu" seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"biaya tak terduga"&lt;/span&gt; [kalo yang ini lazim dalam proposal mahasiswa, meski aturan akuntansi sebenarnya tidak melazimkan hal ini].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal media lokal yang tidak menyinggung masalah APBD dan PSM bisa jadi karena tidak ada juga pihak di Makassar yang merasa itu adalah tindakan yang salah dan patut dipertanyakan. Atau adakah hal lain yang berpengaruh? Sebab dari pengakuan seorang kawan yang dulu sempat bekerja di salah satu harian di Makassar, PSM masih menjadi topik yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"marketable"&lt;/span&gt; sehingga sayang jika lahan subur ini diterlantarkan, atau kasarnya diserang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan itu juga yang saya kira menjadi salah satu faktor yang membuat PSM tidak maju-maju. Lho, kok bisa? Ya karena dalam berberita, media-media lokal ini selalu menempatkan PSM serupa barang yang tak terjamah. Jika PSM kalah, judul yang digunakan tak jauh dari, "PSM kurang beruntung", atau judul-judul lain yang jadul banget. Pokoknya, tidak pernah saya baca&lt;br /&gt;kritik "keras" soal strategi atau kesalahan PSM. Tidak pernah pula saya baca soal ulasan mengenai bagaimana memperbaiki PSM dari sisi manajemen atau kaderisasi. Yang ada hanya sensasi-sensasi sempit dan berita seputar manajer, walikota, dan pejabat yang bicara soal memburu pemain dari negara ini atau pelatih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, soal penggunaan dana APBD ini tentunya tidak begitu menarik. Dan yang pasti, itu tadi, ada pasar yang harus dijaga stabilitasnya.. APBD merupakan dana "bantuan" dari masyarakat yang dibayarkan melalui pajak dan berbagai macam retribusi. Target wajib pajak dan retribusi ini pun tidak hanya terbatas pada mereka yang berpunya dan berkelebihan. Meski begitu, penggunaannya kadang kala tidak bisa dipertanggungjawabkan dan lebih sering tidak kembali kepada masyarakat, awal dari uang itu menjadi ada. Dana APBD untuk PSM itulah salah satu contohnya. Soal pelanggaran formal dan model penyimpangannya yang beragam, bisa&lt;br /&gt;dilihat di kompas. Aturan-aturan formal dari departemen dalam negeri dan peraturan dalam penerbitan APBD, sudah lebih dari cukup untuk menyadarkan bahwa seharusnya PSM digugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri sejak lama berpikiran seperti ini. Kalau PSM dapat dana dari APBD, maka penonton ga perlu bayar masuk stadion. Bukankah itu uang mereka juga? Lah, bukannya gratis, karcisnya malah mahal dan fasilitas yang didapat rasanya tidak sepadan dengan yang dibayarkan penonton. Ini mungkin relatif juga sih, tapi paling tidak, dengan membayar karcis&lt;br /&gt;dengan jumlah tertentu itu, seharusnya ada pula value added yang didapat penonton. Kalau masuk stadion harus siap-siap helem, entah nilai tambah apa yang didapat. Lalu, kalau bukan dari APBD dari mana klub mendapatkan dana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah dijual aja dunk.. Pertanyaannya kemudian, emang ada yang mau beli? Nah, ini saya agak ragu, tapi ada lah pastinya. Selama PSM bisa terlepas dari pengaruh politik dan kekuasaan, ia tentu saja merupakan target bisnis yang menjanjikan. Dan satu lagi, banyak saudagar kaya yang rajin berkumpul tiap tahun di Makassar. Daripada mereka ngomong terlalu jauh tentang peran [yang tak pernah juga terealisasi] mereka terhadap pembangunan Makassar, mending beli dan kelola deh itu PSM. Tapi sekali lagi, itu bisa terwujud jika PSM benar-benar bisa lepas dari pengaruh kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak habis pikir saya, dari dulu bicara soal kejayaan PSM tapi manajernya masih merangkap sebagai walikota. Sebenarnya wajar sih, karena mayoritas dana yang diperoleh PSM berasal dari APBD kota Makassar, maka sebagai pemilik saham terbesar, ia berhak untuk menempatkan walikota sebagai CEO. Namun sebenarnya, karena dana APBD, pemilik saham terbesar kan masyarakat? Maka masyarakat dunk yang harus menentukan. Kalau sekarang&lt;br /&gt;walikota jadi pemimpin di klub, yang putuskan siapa ya? Perasaan ga pernah ada "rapat umum pemegang saham" yang melibatkan seluruh shareholder yang ada. Kembali ke soal ide menjual PSM. Ini tentu saja banyak rintangan dan banyak pihak yang bakal berontak kehilangan lahan. Seorang kawan dari Medan bercerita bahwa kelompok suporter PSMS Medan [saya lupa namanya] yang memiliki usaha menjual pernak-pernik klub dimiliki oleh anak walikota, yang tak lain manajer klub. Anehnya, meki membawa nama klub namun hasil dari penjualan pernak pernik itu tak pernah masuk dalam kas PSMS Medan sebagai pemilik merek dan logo. Tak pernah pula kelompok suporter lainnya mendapatkan keuntungan atas dipakainya nama mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kondisi serupa rasanya terjadi di PSM. Meski untuk ini saya tidak tahu banyak, tapi yang pasti banyak lahan yang akan tergusur. Kreatifitas, itu kata kuncinya. Memang dalam kondisi tidak pasti dan masih banyak hal yang menghuni deretan atas dalam skala prioritas pembangunan dan berkehidupan, bisnis sepakbola menjadi kelihatan abu-abu. Tapi kan harus dimulai jika memang 15 milyar dana APBD itu lebih berguna jika dipakai untuk bangun sekolah atau puskesmas. Kompetisi harus sudah punya tujuan tak sekedar membuat keramaian, dan bahkan keributan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, saatnya PSM untuk lebih "jantan" dan bukan lagi anak ayam yang hanya bisa hidup dari APBD.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116976215717414899?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116976215717414899/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116976215717414899' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116976215717414899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116976215717414899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/01/psm-tidak-jantan.html' title='PSM tidak &quot;Jantan&quot;'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116928883667344867</id><published>2007-01-20T18:24:00.000+08:00</published><updated>2007-01-20T18:27:17.133+08:00</updated><title type='text'>Membincangkan Tuhan</title><content type='html'>Beberapa waktu belakangan ini, milis tempat pelajar dan masyarakat Indonesia di sini ramai dengan polemik tentang Tuhan. Awalnya ketika seseorang memposting puisi yang ternyata diforward juga dari milis yang lain. Puisi ini biasa aja sebenarnya, paling tidak begitu bagi saya yang tidak puitis dan tidak pandai berpuisi ini. Dalam setiap baitnya, puisi ini seperti menggugat tuhan dan manusia yang menyembahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontan ini menjadi sasaran tembak dan tempat munculnya kata-kata yang sejak awal lahirnya milis, tak pernah muncul kata-kata seperti itu. Kok bisa tahu? Iya, soalnya alumni-alumni dan sesepuh milis pada ikut nimbrung juga. Jadilah perdebatan terus dan tak berujung. Seperti membincangkan soal telur dan ayam. Ada yang coba menjedanya dengan memposting kasus korupsi dan model pengembangan manajemen di tubuh salah satu BUMN. Tetap saja, ujung-ujungnya Tuhan dan agama menjadi terdakwa dengan banyaknya bencana dan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperbincangkan Tuhan, memang lebih mudah daripada mendengar sabda-Nya..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116928883667344867?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116928883667344867/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116928883667344867' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116928883667344867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116928883667344867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/01/membincangkan-tuhan.html' title='Membincangkan Tuhan'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116869695854064698</id><published>2007-01-13T21:56:00.000+08:00</published><updated>2007-01-13T22:02:38.843+08:00</updated><title type='text'>Vacuum Cleaner</title><content type='html'>Kemarin ada surat yang diantar ke Flat kami. Surat dari &lt;em&gt;City Council&lt;/em&gt; yang memberitahukan bahwa akan ada proyek pembangunan di sekitar wilayah kami tinggal. Dalam surat itu juga dijelaskan dengan lengkap tentang proyek apa saja yang akann dilaksanakan dan kaitannya dengan masyarakat di sekitar wilayah proyek itu. Misalnya, akan ada jam-jam dimana truk-truk besar lewat di jalan dan akan sedikit mengganggu kelancaran pengguna jalan. Namun peringatan ini disertai jaminan bahwa truk-truk itu akan selalu dibersihkan sebelum mereka masuk jalan dan juga masyarakat yang akan kena dampak debu ini akan diberikan kompensasi dengan pembersihan kaca rumah holeh petugas dari &lt;em&gt;city council.&lt;/em&gt; Ada juga imbauan untuk menghindari jalan-jalan tertentu untuk tidak terjebak kemacetan, termasuk alternatif jalan yang bisa dilalui. Ada pula prosedur yang bisa ditempuh jika masyakarat di wilayah itu merasa berat dan tidak terima. Pokoknya lengkaplah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan untuk genit-genitan membandingkan dengan kondisi di tanah air, apalagi proses seperti ini di kota yang modern ini sudah dianggap lazim dan &lt;em&gt;biasa aja tuh..&lt;/em&gt; Tapi tiba-tiba saya ingat kampung saya. Ini benar-benar kampung, namanya saja kampung bugis, di Batangase itu. Ya, kampung bugis yang berbatangase atau batangase yang berkampung bugis, [apaan sih...]. Saya ingat ketika itu jalan di kampung kami dan yang depan rumah setiap saat dilalui oleh truk-truk berbadan besar mengangkut tanah galian dan juga batu gunung. Dampaknya tentu rumah yang ada di dekat jalan kebagian debu dan serpihan batu yang memang wajar sebab truk-truk itu hanya ditutupi terpal seadanya. Sangat seadanya bahkan.. Saya ingat pula saya dan ibu saya yang sudah tua itu harsu "rajin" menyapu dan membersihkan rumah. Tak cukup rasanya membersihkan hanya tiga kali sehari, sebab setelah bersih, selalu ada debu dan kotoran baru yang menanti untuk dibersihkan. Bayangkan betapa tersiksanya kami di kampung itu, yang saya jamin tidak ada satupun rumah yang memiliki &lt;em&gt;vacuum cleaner&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahan dengan ini, saya lalu mengajak anak-anak muda di sektar rumah untuk memblokir jalan dan menahan truk. Alasan saya, truk-truk itu melanggar &lt;em&gt;Perda&lt;/em&gt; yang menerangkan bahwa badan jalan seukuran jalan di kampung kami hanya boleh dilalui oleh kendaran dengan bobot tak lebih dari 8 ton. Sedang truk-truk itu, saya jamin lebih dari 10 ton. Jalan yang belum setahun diperbaiki itu tentu saja akan rusak sebelum waktunya. Belum lagi dampak lingkungan &lt;em&gt;[ini biar keren aja ketimbang ngomong masalah debu]&lt;/em&gt; yang diakibatkannya. Saya menawarkan diri untuk menjadi koordinator jika tidak ada yang mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya malah diminta sabar aja. Tindakan yang saya tawarkan itu ternyata telah dilakukan sebelumnya, &lt;em&gt;jangan tanya kenapa saya kok tidak tahu kondisi kampung saya sendiri&lt;/em&gt;. Anak-anak muda dan masyarakat sekitar bergabung menutup jalan. Sebabnya karena truk-truk itu tak hanya memberikan debu dan kekotoran, tapi juga sudah merusak rumah masyarakat dengan serpihan batu yang merusak atap dan kaca rumah. Masyarakat protes dan meminta tanggung jawab perusahaan pengangkut tanah galian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi kemudian? Bukannya dialog dan diskusi yang mereka terima, namun serangan mendadak dari se truk tentara yang menyerang dan membongkar palang jalan yang dipasang masyarakat. Mereka diminta bubar dan diminta pua untuk tidak mengganggu proses pembangunan kota yang sedang dilakukan, yang salah satunya membutuhkan tanah-tanah galian dari kampung kami untuk  menyolek kota Makassar. Yang akan melawan, diultimatum akan "diproses" secara tentarawi [manusiawi, kali...]. Mungkin pikir tentara-tentara itu seharusnya kami paham dengan stiker yang ditempel  di setiap kaca depan truk "Proyek pembangunan XXXX, Koperasi Kostrad Kodam VII Wirabuana" [&lt;em&gt;ini kalo ga salah, tp temanya seperti itulah...].&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, masyarakat masih dianggap tak punya hak untuk sekedar berpendapat atau dimintai pendapat. Soal kampung saya yang makin berdebu dan hilang kemolekannya, tak jadi soal. Toh selalu ada tumbal untuk proses pembangunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan ibu saya di rumah dan menerima surat seperti diatas, rasanya masih lama. Bukan pada masalah bisa atau tidak saya pikir. Bagi saya, itu tak lebih dari keinginan dan itikad dari pelaksana itu ada atau tidak. Jangan bicara soal AMDAL yang selalu dijadikan senjata andalan oleh pengembang dan pengusaha, sebab proses penyusunannya pun tidak benar. Universitas yang diminta membuat [mungkin agar terkesan ilmiah dan bertanggung jawab] pun tidak pernah menempatkan masyarakat sebagai subjek. Analisisnya pun kadang berdasar pesanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar terakhir, truk-truk itu masih berseliweran di jalan di kampung kami. Entah untuk proyek apa lagi, dan entah bukit mana lagi dari kampung kami yang akan dikeruk. Sebab seingat saya, bukit yang hijau dan indah dipandang itu, beberapa diantaranya telah berubah jadi kubangan air, biar indah, kita sebut saja danau buatan. Lalu mau bagaimana lagi? Masalah ini pernah diangkat koran lokal, namun kelanjutannya tidak ada, termasuk tanggapan dari mereka yang berwenang dan bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampung bugis.. Ah, ibu saya pasti sedang istirahat setelah lelah membersihkan hari ini.. Ingin rasanya membelikannya &lt;em&gt;vacuum cleaner&lt;/em&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116869695854064698?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116869695854064698/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116869695854064698' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116869695854064698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116869695854064698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/01/vacuum-cleaner.html' title='Vacuum Cleaner'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116835546183094267</id><published>2007-01-09T22:55:00.000+08:00</published><updated>2007-01-09T23:13:04.323+08:00</updated><title type='text'>Just Do As I Say</title><content type='html'>Hari-hari belakangan ini mantan menteri pendidikan dari partai Buruh menjadi sasaran kritik. Bukan atas kebijakan menyangkut publik yang membuatnya tersorot, namun pada pilihan dan keputusannya "sebagai seorang ibu". Sorotan ditujukan saat ia memindahkan anaknya dari sekolah negeri &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(state)&lt;/span&gt; ke sekolah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;private,&lt;/span&gt; yang biayanya £15.000/thn (sungguh, ini lebih mahal dari biaya MBA di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;school of business&lt;/span&gt;) yang baginya lebih bisa memenuhi kebutuhan spesifik sang anak yang menderita penyakit dislexia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi banyak orang Inggris, ini adalah bentuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hypocrite&lt;/span&gt; dari seorang pejabat publik, yang seharusnya memberi contoh. Terkesan berlebihan, namun masalahnya bahwa &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ruth Kelly&lt;/span&gt; adalah pejabat dibidang pendidikan. Keputusan "pribadi"nya tentu saja memberi kesan bahwa pendidikan yang disediakan oleh negara tidak dapat memenuhi kebutuhan dari peserta didik. Ini pula yang makin membuat masyarakat berkomentar bahwa politikus itu hanya berpikiran, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"do as I say not as I do"&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpati dan dukungan bukannya tidak ada untuk Kelly. Banyak pihak juga yang berpikir bahwa itu adalah haknya sebagai orang tua untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Sebagai orang tua, apalagi dengan kemampuan finansial yang memadai, apa salahnya? Terlepas dari itu semua, saya lalu ingat bagaimana perilakuu pejabat publik di Indonesia.  Tak ada hubungannya dengan membandingkan maju atau tidaknya sebuah negeri. Bagi saya,  pejabat publik tetap saja harus menanamkan pikiran sebagai pelayan, yang termasuk didalamnya mampu merasakan apa yang dirasakan rakyatnya. Ideal? Bagi saya tidak,sederhana saja dan sudah pernah ada yang memberi contoh. Hatta, Agussalim, Lopa, dan banyak lagi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konteksnya tentu beda dengan sekarang, namun paling tidak kebijakan publik itu betul-betul didasarkan pada kebutuhan publik dan adanya satu pikiran dan perbuatan. Sekali lagi, ini mungkin &lt;span style="font-style: italic;"&gt;hypocrite&lt;/span&gt; juga dalam bentuknya yang berbeda, sebab seperti menafikkan pragmatisme yang bisa saja ada dalam diri setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tetaplah, kita jika kita tilik dari perilaku mereka, yang kadang mencederai logika. Tengoklah APBD yang kebanyakan isinya pembiayaan untuk meningkatkan kenyamanan pejabat dan politikus. Saya masih ingat bagaimana salah satu item di APBD merupakan titipan dari seorang anggota dewan. Agar tidak melanggar aturan normatif yang ada, titipan itu diterbitkan bersama dengan rancangan biaya dari salah satu dinas. Jadi, proyek yang dirancangkan di APBD melalui dinas itu sesungguhnya pesanan anggota dewan. Ini satu contoh saja, yang tentu tidak menghapus jejak bahwa masih ada dari mereka yang baik dan tetap berada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;on the right track&lt;/span&gt; sebagai seorang pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah, ini soal penyimpangan yang memang di negara manapun memiliki penyakit yang sama. Tapi yang lain juga banyak kita lihat bagaimana pejabat kebanyakan menikmati fasilitas luar biasa sementara rakyatnya sibuk menyelamatkan diri dari banyak bencana. Alasan membeli mobil dinas baru, misalnya. Yang lain, bagaimana pejabat publik berkoar untuk meminta masyarakat mengencangkan ikat pinggang, sementara mal dan pertokoan ramai dengan mobil dinas. Atau seruan untuk menyumbang dan saling membantu tidak pernah dibarengi dengan contoh nyata dari pejabat itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelly memang tidak bersalah, dan disini ia juga tidak sepi simpati. Tony Blair, bosnya dan David Cameron pemimpin partai oposisi tetap mendukungnya dengan alasan itu adalah hak pribadi. Tapi menarik apa yang diungkapkan oleh seorang pembaca di koran lokal, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"She's not obliged to send her children to state school any more  than we are obliged to vote for her".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Kalau soal Kelly ini saja sudah mendapat banyak sorotan, yang menurut saya itu benar hak pribadi dia sebagai ibu, bagaimana dengan soal lain yang kadang mencederai logika itu?&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116835546183094267?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116835546183094267/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116835546183094267' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116835546183094267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116835546183094267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/01/just-do-as-i-say.html' title='Just Do As I Say'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116770243795191940</id><published>2007-01-02T09:11:00.000+08:00</published><updated>2007-01-02T09:47:18.386+08:00</updated><title type='text'>Person of The Year</title><content type='html'>Hidup manusia kembali terpenggal dengan tahun. Sejarah selalu menyimpan sesuatu yang menakjubkan pada laku manusia, begitu kata orang bijak. Lalu, apa yang tersisa dari 2006?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Time, sebagaimana biasanya setiap akhir tahun, selalu membuat ulasan &lt;em&gt;person of the year&lt;/em&gt;. Kali ini tokohnya adalah, saya, Anda, dan semua orang. Ya, jaman revolusi teknologi telah menempatkan semua orang menjadi berada di barisan depan dalam hal pengaruh. Terlepas dari kontroversi disekelilingnya, &lt;a href="http://youtube.com"&gt;Youtube&lt;/a&gt; telah mensahihkan ini. Semua orang menjadi begitu penting, atau paling tidak merasa penting. Dan jangan salah, banyak hal yang dianggap kecil, kemudian menjadi besar dengan portal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Sidarth yang mengalami diskriminasi rasial oleh senator negara bagian Virginia menjadi terbuka di Youtube. Perbincangan dan diskusi panjang juga turut menyertainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Youtube hanyalah salah satu contoh tentang bagaimana masyarakat sekarang bisa mengambil peran yang dulu menjadi monopoli segelintir profesi. Terlepas dari itu, person of the year juga merefleksikan banyak hal, termasuk bagaimana orang-orang "biasa" yang mampu mengesankan banyak orang yang mengaku "luar biasa".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blake Ross, mungkin bukan nama asing bagi pencinta open sources. Proyeknya Netscape yang kemudian bermetamorfosis menjadi Firefox 2.0 adalah sebagian dari perwujudan idealismenya untuk menantang kepongahan Microsoft. Makanya, ketika membaca berita pemerintah Indonesia melakukan kerjasama (tidak saling menguntungkan) dengan Microsoft baru-baru ini, tidak aneh jika banyak pihak yang mempertanyakannya. Wong ada yang gratis dan lebih mudah, kok pilih yang mahal???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, tahun telah berganti. Banyak &lt;em&gt;personal resollution&lt;/em&gt; yang telah diikrarkan sebelum tahun berganti. Orang-orang biasa, dengan pilihan untuk tidak berjejal dalam satu dimensi itu, pasti punya resolusi sendiri, yang kadang malah jauh dari kemulukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa resolusi pribadi saya kali ini? Tak muluk-muluk, tak juga berharap serupa Chad Hurley dan Steve Chen, punggawa Youtube itu yang kaya mendadak dengan duit $1.65 milyar. Ehm, cukup...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116770243795191940?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116770243795191940/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116770243795191940' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116770243795191940'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116770243795191940'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2007/01/person-of-year.html' title='Person of The Year'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116742984968047220</id><published>2006-12-30T06:03:00.000+08:00</published><updated>2006-12-30T06:04:10.043+08:00</updated><title type='text'>Qurban</title><content type='html'>Lebaran lagi, idul Qurban. Selamat Idul Adha.&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Semoga kita bisa mengikuti kesalehan Ibrahim, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;ketaatan Ismail, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;ketegaran Siti Hajar, &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dalam berkehidupan.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Semoga...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116742984968047220?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116742984968047220/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116742984968047220' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116742984968047220'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116742984968047220'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2006/12/qurban.html' title='Qurban'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116683573297700825</id><published>2006-12-23T08:55:00.000+08:00</published><updated>2006-12-23T09:02:14.656+08:00</updated><title type='text'>Sale</title><content type='html'>Mendekati Cristmast saat ini, saya lalu teringat saat-saat lebaran di tanah air. Bukan suasana religiusnya yang kumaksud, tapi suasana lain. Apa itu? Belanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, belanja. Rupanya kekuatan capital telah mengubah cara pandang banyak orang (termasuk saya) dalam memaknai ibadah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Lebaran Sale", "Jadikan Lebaran Anda lebih Berkesan"&lt;/span&gt;, adalah sekedar contoh dari kekuatan itu untuk mengajak kita tentang bagaimana memaknai lain lebaran. Jadilah saya menjadi suntuk dan ngambek saat kecil dulu tidak dibelikan pakaian lebaran. Sampai mengancam tidak akan puasa segala. Untungnya, bapak dulu sangat "kikir" untuk urusan--yang menurutnya mubazir--seperti ini. Baginya, lebaran dan baju baru tidak punya korelasi positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, menyambut Cristmast pun, kekuatan itu menunjukkan rupanya yang luar biasa. Semua toko berlomba memajang patung santa di depan pintu masuk toko mereka. Belum lagi hiasan pohon natal yang besarnya luar biasa, lengkap dengan kerlap-kerlip lampunya. Soal diskon, jangan ditanya. Cristmast sale dan semacamnya menjadi hal yang lumrah. Ada bahkan toko yang "mengklaim" bahwa tokonya adalah tempat santa berbelanja. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"xxx, where all Santas shop".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi untuk ini pun bukannya tidak ada, namun tetaplah tidak seramai dengan iklan dan seruan untuk memaknai natal dengan cara yang berbeda. Media juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kekuatan "lain" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pagi tadi saya baca satu artikel yang menyoroti hal ini. Ada semacam parade pendapat yang semuanya mengkritisi cara ber-natal ini. Kaum sekularis menyebutkan bahwa sudah saatnya untuk mengembalikan natal kepada natal yang sesungguhnya dan merayakannya dengan cara-cara traditional sebaimana dulu dilakukan di Roma, tepatnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;in ancient Rome&lt;/span&gt;. Saat itu cristmast disebut sebagai Saturnalia, dimana festival traditional dilakukan setelah mereka melakukan ibadah di gereja. Festival ini pun jauh dari kesan hedon, sebagaimana biasanya dilakukan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaum anti-capitalist juga tak ketinggalan. Mereka mengkritisi Cristmast lebih kepada perayaannya yang terkesan berlebihan dan malah jauh dari sifat dasar cristmast itu sendiri. Menurut mereka, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;being anti capitalist does not exclude you from being Cristian or any faith. But there is pressure being put on people to spend, spend, spend at this time of year. Shops are under pressure to sell and people are under pressure to buy.&lt;/span&gt; Begitulah hukum belanja, bung..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada pula kaum anti-symbolist yang sangat sesak dengan makin banyaknya simbol-simbo kosong yang menyertai hidup kita. Sama dengan di Indonesia, dimana pemerintah-pemerintah daerah lebih sibuk menjual image dengan perda syariat islam daripada mengurusi sekolah-sekolah yang rusak dan orang-orang miskin yang tak tahu apakah besok mereka akan makan atau tidak. Kaum ini merasa mereka tidak bisa lari, setidaknya dalam 2 bulan terakhir, tanpa dibombardir dengan orang tua berpakaian merah serupa Santa, yang menurut mereka hasil rekaan Coca Cola. Parahnya, Santa ini bukannya memberikan hadiah malah mengajak orang untuk makin rajin menggesek &lt;span style="font-style: italic;"&gt;debit&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;credit card&lt;/span&gt; mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana selanjutnya? Laporan kahir tahun perusahaan-perusahaan tentu saja menunjukkan lonjakan berarti dari sisi penjualan mereka. Itu untuk generalisasi saja, meski banyak juga yang bangkrut karena tak mampu bersaing untuk membujuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya tahu, sungguh sulit untuk lari dari kata ini, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Sale"&lt;/span&gt;. Entah itu saat lebaran--dimana keramaian di Mall jauh lebih tinggi daripada di mesjid saat mendekati akhir ramadhan--atau pun saat Natal seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berbelanja..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116683573297700825?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116683573297700825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116683573297700825' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116683573297700825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116683573297700825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2006/12/sale.html' title='Sale'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116657477485327678</id><published>2006-12-20T08:07:00.000+08:00</published><updated>2006-12-20T08:32:56.313+08:00</updated><title type='text'>Menulis Lagi</title><content type='html'>Setelah beberapa waktu tersudut oleh setumpuk assignment, yang mengerjakannya pun masih model lama (kebut sebelum &lt;em&gt;deadline&lt;/em&gt;) akhirnya saya ada waktu untuk sekedar menengok blog ini, yang lama kutinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya ada niatan untuk memanfaatkan libur, mungkin ke beberapa tempat yang belum terjamah. Untuk urusan ini, banyak nama kota yang sudah masuk dalam list, namun begitulah, dekat-dekat &lt;em&gt;cristmast&lt;/em&gt; ini tiket kereta dan &lt;em&gt;coach&lt;/em&gt; jadi sedikit tidak bersahabat. Eh, tiba-tiba ada telpon dari teman yang memintaku untuk jadi moderator di acara "ilmiah" PPI UK di KBRI London, maka daftar kota tadi harus disimpan dulu. Mungkin sambil menunggu tabungan cukup sambil berharap dapat tambahan dengan kerja di &lt;em&gt;cristmast&lt;/em&gt; ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa hari dari acara temu ilmiah itu, acara PPI UK masih lanjut lagi dengan pemilihan ketua dan pengurus baru organisasi itu. Lucu juga saat melihat bagaimana Mubes berjalan. Saat itu saya dan beberapa teman hanya menjadi peserta peninjau. Rapat sudah berjalan sekitar tiga jam namun bahasan mengenai tatib (tata tertib) sidang belum juga rampung. Jika dilihat dari &lt;em&gt;draft&lt;/em&gt; nya, maka sebenarnya cuma butuh sekitar 30 menit. Namun begitulah, efisiensi dan efektifitas belum menjadi perhatian utama dalam rapat-rapat di Indonesia, yang kini menghinggapi juga mereka yang di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan yang kuliah di &lt;a href="http://www.lse.ac.uk/"&gt;LSE&lt;/a&gt;, berseloroh bahwa mahasiswa yang menjadi peserta rapat kali ini kebanyakan anak babe dan nyokap (itu kutipan aslinya--tak jadi soal tepat tidak pasangan katanya) yang saat di Indonesia tak biasa berorganisasi dan sekarang mengumbar tindakan karitatif yang membuat organisasi ini seolah arisan keluarga. Ia memang jengah setelah mengikuti kampanye di milis yang memuat kampanye, visi-misi serta program kerja calon ketua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada calon yang menjadikan rekreasi sebagai program kerja utama dengan target menguatkan kekerabatan dan kebersamaan. Baginya, organisasi ini tak ubahnya arisan keluarga, yang selalu menanti waktu untuk saling tukar cerita dan mungkin membuat janji, kemana lagi kita harus membuang duit. Soal ada orang yang butuh lebih dari sekedar rekreasi, itu soal lain. Ada pula calon yang seolah kakinya tak berpijak di bumi. Bagi calon ini, Indonesia sangat berharap (sekali) kepada mahasiswa Indonesia di perantauan. Entah ia lupa bahwa luar dan dalam negeri, kini tak lebih dari sekedar imaji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, beberapa waktu sempat tak menengok rumah ini, banyak hal yang menarik namun tak sedikit pula yang tak berarti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116657477485327678?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116657477485327678/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116657477485327678' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116657477485327678'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116657477485327678'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2006/12/menulis-lagi.html' title='Menulis Lagi'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116611385360966335</id><published>2006-12-14T23:50:00.000+08:00</published><updated>2006-12-15T00:30:54.063+08:00</updated><title type='text'>CSI's effect</title><content type='html'>Berita tentang pembunuhan terhadap beberapa PSK &lt;em&gt;(aduh, istilah ini pasti ditentang oleh feminists dan pemerhati masalah gender&lt;/em&gt;) di Ipswich menjadi berita hangat selain ditemukannya bukti baru tentang kematian Putri Diana, dan dimintainya keterangan dari Tony Blair tentang sebuah kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembunuhan ini menjadi berita hangat karena efek yang ditimbulkannya, sampai pihak kepolisian menganjurkan wanita untuk tidak keluar malam sendirian.. Belum lagi jumlah korban yang banyak dan model pembunuhannya yang mirip dengan cerita-cerita detektif di &lt;em&gt;pilem-pilem&lt;/em&gt; atau novel. Media Inggris menyebutkan bahwa pembunuhan ini berseri dan meninggalkan semacam "trademark" yang tentu saja menantang polisi untuk mencari siapa dalangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tak luput pula beberapa kalangan melihat pengaruh televisi terhadap timbulnya pembunuhan berseri ini. Serial CSI (Crime Scene Investigation) ditunjuk sebagai ilham bagi terjadinya pembunuhan. Serial lainnya tak luput dari argumen ini seperti, &lt;em&gt;Waking the Dead, Cracker and Silent Witness,&lt;/em&gt; dimana mereka menggunakan ilmu pengetahuan dalam memcahkan kasus. Benarkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serial ini sebenarnya bercerita tentang bagaimana polisi dengan menggunakan ilmu pengetahuan dan alat canggih mampu memecahkan kasus-kasus yang dianggap sulit. Ada dua seri dari serial CSI ini, CSI Miami dan CSI Newyork. Jam tayangnya berurut, dimulai dengan CSI Miami, setiap rabu malam. Nah, kalangan yang menilai bahwa televisi, dalam hal ini CSI, sebagai ilham bagi pembunuh menganggap bahwa serial CSI ini memperlihatkan kemampuan dan metode polisi dalam memecahkan kasus. Ini tentu saja memberi kesempatan bagi pembunuh untuk mencari celah dari kapasitas polisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lalu teringat ketika banyak pihak menyayangkan pemberitaan kriminal serupa BUSER, Sergap dan sejenisnya. Menurut mereka, tayangan itu tak lagi murni tayangan kriminal dan sekedar mencari sensasi dan keuntungan dari kesalahan penajahat-penjahat kecil. Teman saya yang &lt;a href="http://pasarcidu.blogspot.com"&gt;wartawan&lt;/a&gt; pasti sangat bisa menjelaskan masalah tayangan ini. Tayangan ini pun dituding membeberkan rahasia kepolisian termasuk dalam hal memecahkan kasus. Entah benar apa tidak, yang jelas saya ingat bagaimana seorang pencuri ayam mengaku mendapatkan ilham dari menonton tayangan kriminal semacam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengaruh tayangan televisi pun makin kuat dipertanyakan. Apalagi kasus Smackdown yang sampai menelan korban jiwa, meski, jika ingin disangkal sekali lagi, LaTivi sebagai media yang menayangkan Smackdown telah menjalankan program tersebut sesuai dengan aturan yang ada. Artinya, secara de jure, mereka tidak bisa dinyatakan bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal CSI dan pembunuhan di Ipswich, beberapa pihak juga mengatakan bahwa tak perlu merisaukan tayangan-tayangan televisi itu. Toh, seperti klaim Sharlock Holmes, detektif favorit saya, &lt;em&gt;"Every contact leaves a trace". &lt;/em&gt;Dan lagi, polisi Inggris kini punya "Bible" yang baru (&lt;em&gt;Murder Investigation Manual 2006&lt;/em&gt;). Mereka yang berpendapat ini mungkin jelas melihat televisi sebagai industri semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, tayangan televisi tetap memberikan pengaruh luar biasa bagi penonton. Terlepas dari CSI's effect dan Smackdown effect, rasanya masih banyak acara-acara lain yang harus diwaspadai, sebab cenderung mencederai logika dan menghilangkan kesadaran. Serupa yang terjadi di Indonesia, ketika televisi dengan semena-mena menjajah dengan beragam acara yang kadang dipaksakan sebagai hiburan atau informasi, bahkan kadang dicampur adukan sehingga makin membingungkan. Dalam kesempatan lain pun, televisi tak luput menjajakan mimpi bagi kita. Lalu? Tak perlu &lt;em&gt;parno&lt;/em&gt;, menontonlah secukupnya dan seperlunya. Jangan banting televisi anda, apalagi jika itu &lt;em&gt;tivi &lt;/em&gt;plasma keluaran terbaru..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116611385360966335?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116611385360966335/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116611385360966335' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116611385360966335'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116611385360966335'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2006/12/csis-effect.html' title='CSI&apos;s effect'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116566391794212883</id><published>2006-12-09T19:30:00.000+08:00</published><updated>2006-12-09T19:31:58.186+08:00</updated><title type='text'>Selamat</title><content type='html'>091220016&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lumpur Lapindo...&lt;br /&gt;Semburan gas di kalimantan..&lt;br /&gt;Sekolah rubuh..&lt;br /&gt;Pungutan liar Imigrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat berhari Anti Korupsi se-Dunia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116566391794212883?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116566391794212883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116566391794212883' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116566391794212883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116566391794212883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2006/12/selamat.html' title='Selamat'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116461790966973293</id><published>2006-11-27T16:47:00.000+08:00</published><updated>2006-11-27T16:58:34.380+08:00</updated><title type='text'>Keterlaluan</title><content type='html'>Membaca &lt;a href="http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=30107"&gt;berita&lt;/a&gt; ini membuat saya membayangkan bahwa negeri Indonesia sedang makmur-makmurnya hingga duit dari pajak dan retribusi rakyat bisa dipakai untuk membiayai ibadah beberapa orang. Atas nama pengawasan dan peningkatan pelayanan Haji, beberapa anggota dewan berangkat (tepatnya, diberangkatkan. Atau minta diberangkatkan?) haji dengan biaya APBD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duit retribusi yang dikumpul dari warung nasi goreng langganan di pintu dua, sopir pete-pete maros-daya, penjual baronang segar di pasar ikan, coto makassar di dekat pom bensin pintu satu, dan pajak kendaraan bermotor kakak saya, dipakai untuk membiayai ibadah mereka. Luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga menjadi Haji yang Mabrur, pak...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116461790966973293?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116461790966973293/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116461790966973293' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116461790966973293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116461790966973293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2006/11/keterlaluan.html' title='Keterlaluan'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116450620004747860</id><published>2006-11-26T09:55:00.000+08:00</published><updated>2006-11-26T09:56:40.493+08:00</updated><title type='text'>Gandum</title><content type='html'>Jumat kemarin, ada diskusi menarik di kedutaan. Temanya luar biasa, "what shall we do for Indonesia", begitu kira-kira ringkasan tema yang panjang itu. Diskusi dilengkapi dengan tambahan informasi dari Pak Amien Rais, mantan ketua MPR yang dibajak di tengah jadwal resminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik bagi saya, praktis semua sepakat bahwa semua entitas yang ada di luar negeri, baik itu pelajar, pekerja atau yang lainnya, perlu memberikan kontribusinya terhadap Indonesia yang sedang goyah, untuk tidak mengatakannya sekarat. Namun yang saya tidak habis pikir, banyak juga yang sering melihat Indonesia dari kacamata berbeda. Berbeda karena yang diungkapkan tak lebih dari ikrar penyesalan. Maka dibandingkanlah Indonesia dengan negara maju ini. Tidak diskriminasinya, demokrasi, hingga macet di jalan raya. Bagi saya, itu memang hak prbadi, namun apakah tak bisa kita berhenti sekedar membandingkan dan coba berpikir bahwa begitulah adanya Indonesia. Sebab komparasi yang diambil pun kadang tidak tepat dan terkesan dipaksakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah, kenikmatan dan keteraturan hidup seperti yang dirasakan saat ini adalah dambaan dan idaman setiap manusia, tapi mbok ya dilihat juga konteksnya. Capek saya dengar keluhan terus dari orang-orang Indonesia yang disini dan selalu beranggapan hopeless untuk hidup di Indonesia. Seperti tidak ada baiknya itu Indonesia. Ini bukan chauvinisme atau sejenisnya. Sekedar berpikir kontekstual aja, pikirku. Kembali ke diskusi tadi, saya terkesan dengan apa yang disampaikan oleh Pak Amien. Menurutnya, generasi Indonesia yang kembali dari kuliah di luar negeri banyak yang memilih diolah menjadi roti ketimbang menjadi benih gandum yang siap menumbuhkan biji gandum yang baru serta lebih segar dan bergizi. Tak banyak yang mau dibenamkan dalam tanah dan menunggu waktu untuk disemai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu jika kita melihat analogi gandum dan roti sebagai bagian dari pengabdian dalam dimensi nasionalisme. Tapi toh, bicara nasionalisme saat ini memang rada-rada absurd juga. Posisi nasionalisme yang terimpit oleh dua kekuatan mahabesar: globalisasi dengan logika dan asumsi-asumsi universalitas, uniformitas, dan sentralisasinya dengan etno-nasionalisme yang berjalan ke arah sebaliknya, membuat uapaya membangkitkan semangat seperti itu seperti kerja keras yang tak berujung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah impitan arus besar tersebut, banyak yang kemudian menyarankan nasionalisme baru Indonesia mestinya memiliki cita-cita bersama yang dirumuskan dalam good society, dengan memaknai masa lalu dan merumuskan masa depan dalam kesatuan gerak kekinian. Sederhananya, alangkah baik jika sejarah bangsa yang bopeng di beberapa bagian, dianyam kembali ketimbang membiarkannya bopeng terus atau malah menambah bopeng disana-sini. Lalu, apa yang sudah saya lakukan, ya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116450620004747860?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116450620004747860/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116450620004747860' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116450620004747860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116450620004747860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2006/11/gandum.html' title='Gandum'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116397244731652233</id><published>2006-11-20T05:34:00.000+08:00</published><updated>2006-11-20T05:40:47.900+08:00</updated><title type='text'>Tolol</title><content type='html'>Malam ini saya terima pesan dari seorang kawan. Pesannya, setelah disensor, &lt;em&gt;"...gile, di bgr semua hrs ditutup gara-gara teroris. *** tolol". &lt;/em&gt;Wah, wabah anti-Bush sampai juga ke sini. *** sengaja saya pakai, takut nanti dikenakan UU penghinaan terhadap kepala negara (ehm...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan saya ini bukan orang Bogor asli, tp udah lama bermukim dan bekerja disana. Setelah tahu bahwa kota tempat ia mencari nafkah dan menikmati hidup menjadi terganggu dengan kedatangan Bush, ia punn merasa terpanggil untuk berkomentar. Ya, emang segitu paling jauh yang bisa ia lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat juga kota itu. Selama beberapa bulan di Jakarta mengikuti training, Bogor menjadi tujuan untuk menikmati akhir pekan, di rumah kawan saya tadi. Dari stasiun, naik angkot 02, turun didepan istana lanjut lagi dengan angkot 06. Terbayang juga kota bogor dengan talas dan bengkuang yang dijajakan petani-petani dipinggir jalan. Tak terbayang kota itu kini, hari ini dan beberapa hari sebelumnya. Suasana perang seperti terasa disana dengan kehadiran tentara bersenjata lengkap dan juga penutupan jalan, yang kian memarahkan kemacetan yang sudah lama melekat dengan kota kecil ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi sekolah yang diliburkan, pedagang kaki lima yang digusur karena dianggap mengganggu pemandangan dan berkesan jorok, sinyal telpon yang diacak, dan nampak negatif lain, yang tentu saja tak sebanding dengan hasil yang akan dicapai. Itu jika kedatangan tuan besar ini berbuah hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, untuk menyambut tuan Bush, ada saja yang mau menjadi tolol, itu menurut teman saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116397244731652233?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116397244731652233/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116397244731652233' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116397244731652233'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116397244731652233'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2006/11/tolol.html' title='Tolol'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116335827272295258</id><published>2006-11-13T02:50:00.000+08:00</published><updated>2006-11-13T03:04:33.566+08:00</updated><title type='text'>War is My Hobby</title><content type='html'>&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6771/455/200/p1-091106_238403a.0.jpg" border="0" /&gt;Menyambut kedatangannya ke Indonesia... Selamat datang Mr. Bush.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116335827272295258?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116335827272295258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116335827272295258' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116335827272295258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116335827272295258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2006/11/war-is-my-hobby.html' title='War is My Hobby'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116308016788089049</id><published>2006-11-09T21:35:00.000+08:00</published><updated>2006-11-10T01:36:13.926+08:00</updated><title type='text'>Keadilan dan Kedamaian Untuk Siapa?</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6771/455/1600/8%20???"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 189px; CURSOR: hand; HEIGHT: 142px" height="166" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6771/455/200/8%20%3F%3F%3F%2011%20Meeting.jpg" width="210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kemarin ada kampanye oleh &lt;a href="http://www.ujs.org.uk/"&gt;UJS&lt;/a&gt; &lt;em&gt;(Union Jewish Student)&lt;/em&gt; di kampus. Kampanye ini (mungkin) diniatkan sebagai kampanye tandingan terhadap diskusi yang diadakan oleh student union yang temanya &lt;em&gt;"Stop War and Say No to Islamophobia".&lt;/em&gt; UJS ini berkampanye di luar gedung tempat diadakannya diskusi. Mereka mengibar-ngibarkan bendera Israel dan menyebarkan pamflet yang isinya menggelikan sekaligus mengiris hati, paling tidak hati saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Support Peace and Justice, Disarm Hizbollah",&lt;/em&gt; begitu pesan kampanye mereka. Entah mereka tahu atau tidak, tapi kemarin Israel membantai 18 warga Palestina yang tak bersalah. Sebelumnya mereka juga tak absen dalam membunuh dan mencederai puluhan orang di Libanon dan Palestina. Anak-anak kecil yang tak tahu apa arti perang pun, menjadi korban tanpa pernah terpikir bahwa kematian satu generasi Palestina adalah pembunuhan terhadap rasa kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal Hizbollah? &lt;em&gt;Edan.. &lt;/em&gt;Mereka (Israel) punya segudang senjata modern dan menggunakannya untuk menghilangkan nyawa orang tanpa rasa bersalah. Mereka juga punya berupa alibi untuk mengelak dari tanggung jawab. Kini, mereka meminta Hizbollah, yang sekedar mempertahankan diri dan hak mereka untuk dilucuti senjatanya? Yang bener aja, bung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seharusnya, bendera Palestina yang dikibarkan di sana, bukan bendera biru putih itu, yang sungguh, meski kebencian bukan dari sifat yang mulia, saya tak rela mereka begitu saja merasa digdaya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116308016788089049?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116308016788089049/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116308016788089049' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116308016788089049'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116308016788089049'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2006/11/keadilan-dan-kedamaian-untuk-siapa.html' title='Keadilan dan Kedamaian Untuk Siapa?'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116223710103459645</id><published>2006-10-31T03:37:00.000+08:00</published><updated>2006-11-02T05:55:02.813+08:00</updated><title type='text'>Fairtrade</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6771/455/1600/DSC04049.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6771/455/200/DSC04049.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Sudah beberapa kali saya melihat produk yang dijual di supermarket berlabel fairtrade. Apa maksudnya, saya cuma mengira-ngira. Karena penasaran, akhirnya saya ambil satu bungkus kopi berlabel &lt;a href="http://http://www.fairtrade.org.uk/"&gt;fairtrade&lt;/a&gt; itu, sambil berharap ada informasi yang disediakan om &lt;a href="http://google.co.uk"&gt;google&lt;/a&gt; untuk ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Model ini memberi kesempatan kepada konsumen untuk berbagi dengan sesama, terutama kepada petani dan produsen produk tersebut. Dengan membeli kopi berlabel fairtrade ini misalnya, konsumen telah membantu untuk menciptakan sebuah tatanan dagang yang memberikan keuntungan kepada petani, secara maksimal. Maksimal tentu saja bahwa usaha mereka dihargai sebagaimana layaknya. Rente dagang yang sekedar menguntungkan bagi distributor dan produsen sebagaimana lazimnya berlaku, dianggap tidak memberikan keuntungan bagi para petani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fairtrade juga berarti bahwa harga yang dibayarkan oleh konsumen telah meliputi biaya produksi, jumlah tertentu yang akan disisihkan untuk kepentingan komunitas (petani--misalnya membangun sekolah, membeli ambulans, membuat rumah sakit), serta biaya yang diperuntukkan bagi kelanjutan usaha ini. Pertimbangan kelestarian lingkungan juga menjadi perhatian dari gerakan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca dan sedikit punya informasi, saya lalu membayangkan jika model yang seperti ini ada juga di Indonesia. Tak perlu muluk-muluk, karena sederhana saja sebenarnya. Potensi besar dimiliki oleh Indonesia, dengan segudang sumber dayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, LSM memiliki peluang besar untuk melakukan hal serupa. Kecenderungan LSM yang sangat bergantung pada funding internasional dan tak jarang yang cuma berharap dari proyek pemda tentu sudah saatnya ditinggalkan. Jika niat dan visi membuat LSM itu untuk menswadayakan (seperti termaktub dalam akronimnya) masyarakat, maka langkah ini rasanya patut dipertimbangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalannya mungkin adalah bagaimana memulainya. Modal, betul, itu butuh modal besar. Namun kendala ini bisa sedikit tertangani jika pemerintah memberi perhatian melalui pembuatan regulasi atau penyisihan beberapa persen dari badan-badan usaha milik pemerintah. LSM pun bisa menyisihkan kelebihan dana dari pelaksanaan proyek-proyek mereka sambil melihat peluang untuk berkolaborasi dengan industri. Trend CSR di perusahaan-perusahaan besar Indonesia seharusnya membuat ini menjadi lebih mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerumitan lain tentu saja masih ada. Mulai dari soal produksi, pemasaran dan lain-lain. Tapi ringkasnya, model ini masih jauh lebih baik dan tak ubahnya memberi kail bagi mereka, bukan sekedar ikan. Terlebih lagi, ini tentu saja menjadi gerakan riil dan tak sekedar berkubang dalam wacana tentang bagaimana menyelesaikan perosalan di negeri kita. Ah, seandainya...&lt;br /&gt;-------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;*Update&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; []&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanda tanya dan kritik bukannya tidak ada. Fairtrade, bagi beberapa kalangan menyisakan beberapa pertanyaan besar seperti, &lt;em&gt;how much help does fairtrade really provide to poor producers? Are the supermarkets taking advantage of a consumer fad, adding big mark-ups because a certain sort of soft-headed consumer doesn’t think things through? And isn’t Fairtrade still, if not a drop in the ocean of world trade, not much more than a bucketful?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kritik lain menyebutkan bahwa fairtrade--sebab ia juga merupakan &lt;em&gt;brand&lt;/em&gt;--kemudian memanfaatkan ceruk pasar dan &lt;em&gt;awareness&lt;/em&gt; konsumen yang tersentuh dengan jualan isu kedermawanan. Masalah yang muncul kemudian, produk-produk berlabel fairtrade ini dibanderol dengan harga yang lebih tinggi dari produk lain yang sejenis, kembali, atas nama menyisihkan sebagian harga untuk kepentingan sosial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari tengok hasil jualan isu ini. Tahun lalu, berdasarkan catatan BBC, pasar fairtrade tumbuh sekitar 40% dengan nilai £200 juta, dengan cakupan lebih dari sekitar 1500 macam produk. Sungguh sebuah angka yang menakjubkan. Pasarnya jelas, kelas menengah yang gampang tergiur dengan bujukan "mari berderma". Keluarga-keluarga di Inggris misalnya, sadar (dan mungkin bangga--atau jangan-jangan karena merasa bersalah???) untuk disebut sebagai &lt;em&gt;fairtrade family&lt;/em&gt;, dimana produk-produk yang mereka konsumsi adalah fairtrade products. &lt;em&gt;It's very clear to them that as people become aware of the difference that Fairtrade makes to people in the developing world, they see that this is an opportunity for them to make a difference in their everyday lives, they really grasp that opportunity.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Akibatnya, banyak yang tergiur. Terakhir, saat Nestle mengumumkan produk kopinya yang berlabel fairtrade, tanda tanya makin besar. Fairtrade dianggap berkompromi dengan korporasi besar (padahal Nestle merupakan perusahaan makanan yang banyak mengundang kontroversi, salah satunya produk susu bayi). Ini kemudian yang menjadikan fairtrade dipandang sebagai bagian dari &lt;em&gt;"greenwashing campaign",&lt;/em&gt; dimana korporasi menjual isu lingkungan dan sosial sebagai bagian dari kerja &lt;em&gt;public relation&lt;/em&gt;, meski yang terjadi adalah kebalikan dari realitas sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke soal pasar ini, &lt;em&gt;freemarketers&lt;/em&gt; lebih memilih jalan untuk membuka pasar (khususnya negara-negara maju) terhadap produk-produk dari negara berkembang ketimbang berpura-pura baik dengan menjual &lt;em&gt;image&lt;/em&gt; (fairtrade, red.). Sebab, fairtrade sesungguhnya lebih berpihak kepada konsumen--di negara-negara maju--bahwa mereka telah berpartisipasi terhadap pembangunan dan kesejahteraan petani, sementara petani itu sendiri sebenarnya tidak mendapatkan apa-apa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116223710103459645?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116223710103459645/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116223710103459645' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116223710103459645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116223710103459645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2006/10/fairtrade.html' title='Fairtrade'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116197133442494692</id><published>2006-10-28T01:35:00.000+08:00</published><updated>2006-10-28T01:48:55.243+08:00</updated><title type='text'>Belum Menang</title><content type='html'>Selamat idul fitri lagi.. Ucapan ini masih pas waktu dan tempatnya, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin shalat idul fitri bareng mahasiswa dan masyarakat Indonesia di Birmingham. Karena tidak bertepatan dengan hari libur (lebarannya Senin), maka banyak yang setelah shalat langsung cabut. Tidak sedikit jg yang malah memilih untuk tidak ikut jamaah, karena kuliah pagi.  Fortunetely, kuliahku jam 11, jadi masih ada kesempatanlah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah shalat, dengar khutbah (yang menurutku beginilah khutbah seharusnya--singkat padat dan jelas) yang tidak panjang dan melelahkan, maka larutlah kami dalam suasana lebaran. Larutnya mungkin bukan sekedar karena rasa kangen dan sedih yang bercampur menjadi satu, tapi juga rasa untuk menikmati masakan enak, gratis dan tentu saja dengan cita rasa Indonesia. Ada sate, gado-gado, kari ayam, gulai kambing, dan ketupat (meski bungkusnya pake plastik). Tak banyak waktu, sepiring penuh harus segera tuntas sebelum masa mengejar bus tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, ada email yang muncul di milis... Seorang mahasiswa dari Aceh memberi catatan, yang menurutku lumayan berani dan memang seharusnyalah begitu. Idul Fitri "ternodai" oleh acara halal bihalal gaya barat, &lt;em&gt;cipika-cipiki&lt;/em&gt; pria dan wanita yang bukan muhrim (ini penjelasan resmi dari penulis email)...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah begitulah, banyak cara merayakan kemenangan..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116197133442494692?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116197133442494692/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116197133442494692' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116197133442494692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116197133442494692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2006/10/belum-menang.html' title='Belum Menang'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116151544235931780</id><published>2006-10-22T18:48:00.000+08:00</published><updated>2006-10-22T19:10:42.783+08:00</updated><title type='text'>Pindahan</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6771/455/1600/blog.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 104px; CURSOR: hand; HEIGHT: 278px" height="263" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6771/455/320/blog.jpg" width="83" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Malam nanti ada undangan untuk ikut takbiran, biar ada kesan Indonesianya, begitu kata sang pengundang yang merupakan koordinator pengajian di sini. Tak seperti di Indonesia, disini praktis tidak ada perbedaan pendapat saat menentukan hari raya. Mungkin karena perbedaan letak geograpis (ah, ga yakin juga) atau memang mereka sudah punya alat yang lebih baik dalam melihat posisi bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat lepas jumatan kemarin, seorang kawan dari Turki bertanya, kenapa di Indonesia sering terjadi perbedaan pendapat dalam menentukan hari raya. Bukankah ini tentu saja berdampak tidak baik terhadap umat? Saya cuma menjawab bahwa perbedaan itu kan rahmat, dan tak ada masalah selama itu tidak mengganggu ibadah, syariah. Malah, umat pasti merasa senang, sebab dua kali meraih kemenangan (meski praktisnya cuma sekali kita shalat ied). Libur juga bertambah, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari itu, rasanya memang susah dimengerti kenapa sampai harus ada perbedaan waktu segala. Kenapa tidak pemerintah atau MUI lah yang mengambil kebijakan untuk menentukan. Ormas-ormas islam lainnya harus tunduk dan patuh. Bukankah di MUI sendiri kelompok dan ormas Islam diberi tempat? Di sanalah mereka seharusnya beradu argumen (tanpa harus saling lempar kursi, sebagaimana lazimnya organisasi mahasiswa berlabel Islam dalam berdebat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah sudahlah.. mungkin ini juga sduah menjadi perhatian mereka. Dan semoga ke depan menjadi lebih baik, seperti harapan setiap insan saat menyambut Idul Fitri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong, saat Lebaran senin besok, ada kuliah dan presentasi. Belum lagi kerjaan dan tumpukan sampah di flat setelah baru pindah beberapa hari lalu. Harapan untuk menjadi lebih baik dan kembali Fitri, tentu saja tidak harus hilang karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maap Lahir Batin...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116151544235931780?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116151544235931780/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116151544235931780' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116151544235931780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116151544235931780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2006/10/pindahan.html' title='Pindahan'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116143792564902536</id><published>2006-10-21T21:35:00.000+08:00</published><updated>2006-10-21T21:38:46.090+08:00</updated><title type='text'>Eid Mubarak</title><content type='html'>Ntar lagi lebaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELAMAT IDUL FITRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga menjadi lebih baik&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116143792564902536?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116143792564902536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116143792564902536' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116143792564902536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116143792564902536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2006/10/eid-mubarak.html' title='Eid Mubarak'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7428361.post-116074923490210005</id><published>2006-10-13T21:56:00.000+08:00</published><updated>2006-10-13T23:34:36.900+08:00</updated><title type='text'>A Big Help</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6771/455/1600/story-yunus.1.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 179px; CURSOR: hand; HEIGHT: 130px" height="146" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/6771/455/200/story-yunus.1.jpg" width="195" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tak seperti banyak diperkirakan orang, peraih Nobel Perdamaian untuk tahun ini jatuh ke tangan orang tidak terkenal dan tidak pernah diperhitungkan sebelumnya. Muhammad Yunus, seorang professor Bangladesh dan pendiri dari Bank Grameen. Ia dan Bank yang didirikannya mendapatkan&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6771/455/1600/800px-Jakarta_slumhome_2.jpg"&gt;&lt;/a&gt; apresiasi luar biasa terhadap upaya mereka membantu masyarakat miskin keluar dari himpitan hidup. Setelah menuntu ilmu di Amerika, ia kembali ke negaranya dan membuat konsep pemberdayaan dengan model microcredit. Terbukti, model ini berhasil dan memberi dampak yang luas bagi pengembangan masyarakat di Bangladesh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Every single individual on earth has both the potential and the right to live a decent life. Across cultures and civilizations, Yunus and Grameen Bank have shown that even the poorest of the poor can work to bring about their own development,"&lt;/em&gt; begitu kutipan dari komite Nobel dalam surat penghargaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep bank yang memberikan bantuan untuk masyarakat miskin ini sangat sederhana dan tanpa jaminan. &lt;em&gt;Microcredit is the extension of small loans, typically US$50 to US$100, to entrepreneurs too poor to qualify for traditional bank loans.&lt;/em&gt; Ini tentu saja menjadi penolong bagi masyarakat miskin yang tak memiliki akses untuk mendapatkan pinjaman &lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/6771/455/1600/story-yunus.jpg"&gt;&lt;/a&gt;dari bank konvensional, yang di Indonesia kucuran kreditnya lebih banyak untuk kredit konsumsi daripada kredit yang memberikan nilai tambah seperti kredit usaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya dengan Yunus, seorang ekonom yang bisa saja meniti karier bagus di universitasnya (ia mengajar di Universitas Chittagong, daerah selatan Bangladesh) dan kemudian "nyambi" sebagai konsultan dan bukan tidak mungkin berkarier politik, yang di Indonesia rasanya sudah lumrah. Ia merasa bertanggung jawab terhadap ilmu ekonomi yang dimilikinya, dengan setumpuk teori yang kemudian tak memberi dampak apa-apa terhadap masyarakat miskin di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Nothing in the economic theories I taught reflected the life around me. How could I go on telling my students make believe stories in the name of economics? I needed to run away from these theories and from my textbooks and discover the real-life economics of a poor person's existence," &lt;/em&gt;begitu katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Yunus adalah sebuah revolusi dari cendekiawan dan akademisi dalam memaknai tanggung jawabnya. Ketika yang lain masih membertimbangkan jalur-jalur populis dalam berkontribusi, Yunus lebih memilih kerja dalam diam. Menjadi seperti Yunus, tentu tak mudah. Apalagi gambaran masa depan yang makin konsumtif membuat hati kadang oleng. Lalu, akan kemanakah saya kelak?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7428361-116074923490210005?l=batangase.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://batangase.blogspot.com/feeds/116074923490210005/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=7428361&amp;postID=116074923490210005' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116074923490210005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7428361/posts/default/116074923490210005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://batangase.blogspot.com/2006/10/big-help.html' title='A Big Help'/><author><name>Abdullah Sanusi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/16026291724495218616</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://bp2.blogger.com/_BWlVQwsqeLA/SGeDI-nq2oI/AAAAAAAAAsU/Uo-8tfkizIE/S220/ppimib_website.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
